Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Liputan Khusus: Mengenal Pamoedji, Sosok Pendiri Persebaya

Satria Wira Yudha Pratama • Senin, 17 November 2025 | 01:50 WIB
Makam Muhammad Pamuji Pendiri Persebaya baru diketahui Bonek setahun terakhir! Tokoh Blitar ini yang pertama pakai konsep ‘Indonesia.
Makam Muhammad Pamuji Pendiri Persebaya baru diketahui Bonek setahun terakhir! Tokoh Blitar ini yang pertama pakai konsep ‘Indonesia.

BLITAR - Kota Pahlawan, Surabaya, memang melahirkan banyak tokoh besar. Namun, di antara nama-nama yang melegenda, terselip satu sosok visioner dari Blitar yang jasanya dalam perkembangan olahraga dan nasionalisme kerap terpinggirkan: Muhammad Pamuji Pendiri Persebaya. Lahir pada Kamis, 28 Februari 1905, di Blitar, Pamuji memiliki peranan sentral dalam meletakkan fondasi klub sepak bola legendaris, Persebaya Surabaya.

Dalam buku saku yang ditulis oleh putri pertamanya, Endang Sulistiatih, Muhammad Pamuji digambarkan sebagai sosok yang tangguh, tegas, dan tak kenal putus asa. Kualitas inilah yang ia bawa dalam pembentukan klub tandingan bagi kaum pribumi di Surabaya. Saat itu, komunitas Belanda telah memiliki klub sepak bola bernama Surabaya Football Bond (SVB) yang eksis lebih dulu.

Pamuji: Pionir Nasionalisme Lewat Sepak Bola
Pada 1927, Pamuji bersama rekannya, Paijo, didaulat oleh rekan-rekannya yang lain untuk menjadi frontman dan bargaining power untuk mendeklarasikan sebuah kelompok sepak bola pribumi. Kelompok inilah yang dikenal sebagai Surabaya Indonesische Football Bond (SIVB), cikal bakal Persebaya. SIVB didirikan pada 18 Juni 1927.

Keputusan Pamuji dan rekan-rekan untuk membentuk SIVB bukan hanya sebatas olahraga, tetapi juga manuver politik yang cerdas dan berani. SIVB didirikan hanya untuk menjadi tim tandingan dari pribumi terhadap tim Belanda. Para sejarawan menyoroti betapa visionernya Pamuji saat itu.

Nama "Indonesische" yang disematkan pada SIVB adalah hal revolusioner. Konsep "Indonesische" atau "Indonesia" baru dipakai secara luas pada 1922 oleh Muhammad Hatta. Di usia yang baru menginjak 22 tahun pada 1927, Pamuji sudah berpikir jauh ke depan, mengadopsi konsep "Indonesia" di saat kebanyakan perlawanan masih menggunakan nama indis (Hindia Belanda). Pamuji berani menyuarakan identitas baru bangsa melalui medium sepak bola.

Tidak hanya Persebaya, Pamuji juga memiliki peran vital yang jarang diketahui publik secara luas. Menurut pengakuan juru kunci makam, Pamuji disebut-sebut juga menginisiasi berdirinya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), sebuah klaim yang memperkuat statusnya sebagai pelopor sepak bola di Bumi Surabaya.

Kisah Tragis di Balik Makam Sang Pendiri
Meskipun memiliki jasa yang begitu besar terhadap sepak bola dan nasionalisme, ironisnya, jejak dan tempat peristirahatan terakhir Muhammad Pamuji Pendiri Persebaya tidak banyak diketahui. Bahkan, Bonek—pendukung setia Bajul Ijo—baru mengetahui keberadaan makamnya di Surabaya dalam satu tahun terakhir.

Fenomena ketidaktahuan ini menunjukkan adanya lubang besar dalam memori kolektif masyarakat dan kurangnya upaya pelestarian sejarah tokoh Surabaya. Juru kunci makam menceritakan bagaimana ia awalnya hanya tahu Pamuji adalah wakil Walikota dan mendirikan persatuan sepak bola. "Cuma saya mendirikan Persatuan Sepak Bola, enggak tahu. Cuma katanya iseng-iseng wartawan ke sini, saya tunjukkan mana makamnya Pamuji," ujarnya.

Pengakuan ini menyiratkan betapa minimnya informasi dan perhatian terhadap makam tokoh sepenting Muhammad Pamuji. Jasanya yang fundamental, baik dalam konteks olahraga (mendirikan Persebaya dan inisiasi PSSI) maupun konteks pergerakan nasional (memperkenalkan konsep "Indonesia" melalui klub), kontras dengan kondisi makam yang baru belakangan ini diketahui oleh khalayak luas.

Saat ini, para sejarawan muda terus berupaya menggali lebih dalam kisah seorang Pamuji. Tujuannya adalah menampilkan sosoknya secara utuh, memastikan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, tidak kehilangan dan melupakan sejarah yang telah membentuk bangsa dan kesatuan seperti sekarang. Upaya ini harus menjadi cambuk bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk segera mengabadikan dan merawat warisan sang pendiri Green Force yang berasal dari Blitar ini, demi menjaga ingatan kolektif akan jasa-jasa besarnya.(*)

Editor : Rahma Nur Anisa
#Tokoh Surabaya #persebaya #sejarah persebaya #legenda persebaya #persebaya surabaya