BLITAR - Angka 1927 telah lama diyakini sebagai tahun kelahiran resmi Persebaya Surabaya. Namun, keyakinan ini kini dipertanyakan oleh temuan-temuan baru dari seorang penulis sekaligus peneliti sejarah sepak bola, yang juga seorang Bonek sejati. Ia mengklaim memiliki bukti otentik dari surat kabar era Hindia Belanda yang mengindikasikan tahun pendirian SIVB (cikal bakal Persebaya) mungkin lebih tua, atau setidaknya memiliki narasi yang lebih kompleks.
Kontroversi ini menjadi semakin seksi karena menyentuh sejarah klub kebanggaan Arek Suroboyo. Penulis buku sejarah beberapa klub besar Indonesia ini bahkan berani membandingkan situasi ini dengan geger yang melanda Persib Bandung ketika mengubah tahun berdirinya dari 1933 menjadi 1919. "Persib Bandung yang 1933 ganti 1919 keos Mas. Apalagi nang Surabaya, Mas. 27 tak ganti nang 25, aku sing remuk," ujarnya.
Bukti Surat Kabar Indis: SIVB Dibubarkan Tahun 1925
Penelitian mendalam yang dilakukan oleh sang penulis menemukan sumber yang mengejutkan. Ia menemukan koran berbahasa Belanda yang terbit di Malang dan Surabaya yang menyebutkan tentang SIVB. Salah satu sumber, yang ia yakini berasal dari Agustus 1925, menyebutkan bahwa seorang pegawai kantor telepon Surabaya bernama Tuan Soto membubarkan SIVB.
"Aku semakin percaya, Mas. Tak goleki maneh, ternyata aku duwe 10 tahun SIVB. 10 tahun SIVB iku tahun 1936 lah. Kan otomatis lek ngomong 1936 kan gak haruse kene gak 1927? 10 tahune kan 1937," jelasnya.
Penemuan ini menjadi paradoks, sebab jika SIVB dibubarkan pada 1925, logikanya SIVB yang berdiri pada 1927 adalah SIVB Jilid Kedua. Menurutnya, Surabaya saat itu terbagi menjadi dua wilayah administrasi, Utara dan Selatan. Ada upaya dari Tuan Soto, seorang karyawan telepon India Belanda, untuk menggabungkan dua faksi ini, yang berujung pada pembubaran SIVB jilid pertama. SIVB yang dikenal selama ini merupakan hasil penggabungan dan merupakan permulaan yang baru.
Perjuangan Mencari Kebenaran Sejarah Persebaya
Penulis yang juga seorang guru sejarah ini mengakui bahwa menelusuri sejarah Persebaya di Surabaya jauh lebih sulit dan "keras" dibanding klub-klub lain. Ia telah menulis buku tentang sejarah Persis Solo dan PSIS Semarang, namun tanggapan di Jawa Timur lebih konfrontatif. Ia bahkan harus menahan diri dan tidak ingin memprovokasi Bonek dengan mengubah angka 1927, meskipun temuan-temuan barunya semakin kuat.
"Aku iki lho wong awam, aku iki mek seneng tok nulis, yo aku yo Bonek. Tapi Aku iki gak duwe kewajiban untuk mecah belah. Iku rusak. Iku pikirane sampeyan sing ngekei aji negatif wae tak elokno ngono Mas," ungkapnya, menggambarkan tekanan dari sebagian pihak yang curiga.
Namun, semangatnya didukung oleh dosen dan mentornya di Unesa, Pak Rojil. "Gasno nang tulisen, nang goleki sumber-sumber, tulisen tak dadekno buku," ucap sang mentor yang bahkan bersedia menjadi sponsor dana untuk penelitiannya. Ia menghabiskan waktu hingga satu tahun penuh untuk menelusuri SIVB ini, jauh lebih lama dibandingkan penelitian untuk klub-klub lain.
Berkorban Demi Sumber: Perpusnas dan Dukungan Keluarga
Demi menemukan kebenaran tahun kelahiran Persebaya, sang penulis rela merogoh kocek pribadi dan meninggalkan keluarga sementara. Rujukannya utama adalah arsip-arsip Belanda. Ia menghabiskan waktu seminggu di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Jakarta, memanfaatkan cuti dari sekolah tempatnya mengajar, untuk mengumpulkan data.
Kekuatan penelitiannya terletak pada sumber primer. Ia memastikan bahwa semua yang ia tulis didasarkan pada koran-koran indis (Hindia Belanda) dan arsip-arsip lawas. Bahkan, ia dibantu oleh admin Perpusnas yang terkesan dengan karyanya, yang terus mencarikan sumber-sumber tentang SIVB yang terkadang tercantum dalam konteks non-sepak bola, seperti politik atau perkumpulan biasa.
Perlu Forum Besar dan Peran Manajemen
Meskipun memiliki data yang kuat, sang penulis menekankan bahwa ia tidak akan mengganti angka 1927 secara sepihak. Ia sadar, mengubah tahun kelahiran Persebaya membutuhkan forum besar yang melibatkan semua pihak.
"Perlu Lek menurut pribadi yo jelas, mungkin ada, harus ada. Tapi semua tak kembalikan ke manajemen karena mereka yang punya wewenang di situ," tegasnya.
Ia berharap manajemen Persebaya lebih peka terhadap sejarah klubnya, mencontoh upaya klub lain. Sebab, sejarah adalah hal krusial yang membentuk identitas klub dan harus dijaga, jangan sampai dihilangkan atau dilupakan hanya karena fokus pada kemenangan, bisnis, atau hasil pertandingan. Dukungan dari manajemen sudah mulai terasa, ia beberapa kali diundang podcast untuk membahas logo dan jersey, menunjukkan adanya keterbukaan.
Kendati demikian, tantangan terbesar adalah memfasilitasi diskusi yang konstruktif dan menjauhkan perdebatan dari emosi atau hate speech. Ia percaya, semangat kritis yang dimiliki Bonek, terutama kelompok Ultras dan Hooligan saat ini, yang ingin tahu sejarah klub mereka secara mendalam, harus didukung penuh untuk melahirkan literasi yang kuat.(*)
Editor : Rahma Nur Anisa