BLITAR - Sepak bola bukan hanya soal 90 menit di lapangan, melainkan juga pertarungan gengsi dan emosi suporter di tribun. Indonesia, dengan basis penggemar yang militan, melahirkan sejumlah derby dan rivalitas yang tensinya sangat tinggi. Pertandingan ini tak jarang menimbulkan ketegangan, bentrokan, bahkan tragedi yang membekas.
Berikut adalah rangkuman dari 10 Derby Terpanas Sepak Bola Indonesia berdasarkan sejarah, intensitas rivalitas suporter, dan momen-momen paling kontroversial:
1. Super Derby Jatim: Persebaya vs Arema FC
Rivalitas ini dinobatkan sebagai yang paling panas dan tragis. Perseteruan Persebaya (Surabaya) dan Arema FC (Malang) sudah terjadi sejak puluhan tahun silam, dengan salah satu cerita pemicu bermula dari keributan di konser musik Kantata Takwa di Surabaya pada tahun 1990. Bonek dan Aremania yang bertemu di area konser saling berebut dominasi hingga terjadi pemukulan dan tawuran.
Di lapangan, Persebaya yang berstatus klub ibu kota Jawa Timur berhadapan dengan Arema FC yang berusaha keras untuk membuktikan diri. Puncak dari rivalitas ini adalah tragedi paling memilukan dalam sejarah sepak bola nasional: Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022, pasca laga Arema FC vs Persebaya. Insiden yang menewaskan 131 orang ini dicatat sebagai sejarah kelam kematian suporter terbanyak kedua di dunia, diduga akibat tembakan gas air mata.
2. Derby Indonesia: Persija vs Persib
Duel antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung adalah Super Clasico Indonesia. Rivalitas ini didominasi oleh gengsi antar suporter, The Jak Mania dan Bobotoh/Viking, yang memiliki basis massa terbesar. Sayangnya, gesekan antar suporter sering berujung pada kerusuhan. Salah satu insiden paling membekas adalah tewasnya suporter Persija, Haringga Sirila, pada 2018 setelah dikeroyok oknum Bobotoh menjelang laga di Stadion GBLA. Meskipun para pemain di lapangan dikenal dekat dan sering mengkampanyekan perdamaian, rivalitas di antara kedua suporter tetap menjadi yang paling sulit dikendalikan.
3. Derby Klasik: Persib Bandung vs PSMS Medan
Rivalitas ini disebut El Clasico asli Indonesia karena sejarah panjang dan bentrokan gaya bermain. Persib dikenal dengan permainan yang stylish, sementara PSMS Medan dengan karakter yang keras dan tangguh (rap-rap). Keduanya sering bertemu di partai final kompetisi PSSI era perserikatan, termasuk final 1966-1967, 1983, dan 1985. Uniknya, meskipun pertandingan selalu panas dan dihadiri puluhan ribu pendukung (mencapai 120.000 penonton pada final 1985), rivalitas ini tidak pernah diwarnai kerusuhan antar suporter, berbeda dengan rivalitas Persib vs Persija.
4. Derby Saudara: Persib Bandung vs Bali United
Rivalitas ini lebih bersifat di lapangan karena kedua tim dikuasai oleh konsorsium yang sama. Pada awal Liga 1, Persib selalu kesulitan menang melawan Bali United. Persaingan mencapai klimaksnya di semifinal Championship Series 2023-2024, di mana Persib menghancurkan Bali United 3-0 di Gelora Bandung Lautan Api, mematahkan kutukan selalu kesulitan melawan Serdadu Tridatu.
5. Derby Mataram: Persis Solo vs PSIM Jogja
Mempertemukan dua klub pendiri PSSI yang mewarisi Legasi Kerajaan Mataram Islam. Sejarah kultural yang kental, yaitu pecahnya Kerajaan Mataram pasca Perjanjian Gianti, menjadi bumbu utama rivalitas ini. Meskipun kedua kelompok suporter terkini sudah menggalang perdamaian, setiap pertemuan pasti membawa gengsi kedaerahan yang sangat tinggi.
6. Derby Jakarta: Persija vs Persitara
Rivalitas ini sempat memanaskan kasta teratas di era 2000-an ketika Persitara masih berkompetisi di Liga Super Indonesia, memperebutkan status gengsi ibu kota. Rivalitas memudar seiring dengan Persitara yang terdegradasi. Namun, aroma persaingan kembali mencuat karena Jakarta International Stadium (JIS), yang digadang-gadang jadi kandang Persija, berlokasi di Jakarta Utara, yang merupakan wilayah Persitara.
7. Derby Sumatera: Persiraja Aceh vs PSMS Medan
Pertemuan dua raksasa Sumatera ini selalu memanas. Puncaknya terjadi di Liga 2 2023-2024, yang diwarnai tingginya tensi permainan, 12 kartu kuning, hingga dianulirnya gol Persiraja. Usai laga, terjadi kericuhan masif. Wakil Presiden Persiraja bersih tegang dengan ofisial PSMS Medan, penonton melempari botol, dan bus pemain PSMS sempat dikepung suporter. Rivalitas ini unik karena turut melibatkan pemain, suporter, staf, hingga petinggi klub dan mantan pejabat.
8. Derby Biru: Persib Bandung vs Arema FC
Dahulu dikenal bersahabat, rivalitas ini muncul setelah 2015 ketika Arema (saat itu Arema Cronus) berkali-kali mengalahkan Persib di final turnamen (ICC 2015, 2016, dan Piala Bhayangkara 2016). Perpecahan didorong oleh fakta bahwa Bobotoh bersaudara dengan Bonek, sementara Aremania bersaudara dengan The Jack Mania. Meskipun sempat terjadi insiden pelemparan yang melukai pelatih Persib, Mario Gomez, hubungan keduanya sempat membaik pada 2022 ketika Aremania menyambut Bobotoh dengan damai di Kanjuruhan.
9. Derby Adik Bonek: PSS Sleman vs Arema FC
Rivalitas ini adalah fenomena modern. Dahulu fans PSS Sleman (Slemania) dikenal dekat dengan Aremania. Namun, munculnya kelompok ultras PSS, Brigada Curva Sud (BCS), yang menjalin kedekatan dengan Bonek Mania (rival Aremania), mengubah segalanya. BCS menjadikan Arema sebagai rival utama. Laga pembuka Liga 1 2019 di Maguwoharjo diwarnai kerusuhan karena Aremania merayakan gol di tribun yang berujung pada pelemparan keramik dan batu oleh fans PSS. Aremania menjuluki BCS sebagai 'Bonek cabang Sleman'.
10. Derby Tangerang: Persikota vs Persita
Rivalitas ini dianggap sebagai salah satu yang terpanas di awal kemunculannya. Derby ini lahir karena pemekaran Kota Tangerang pada 1995, yang membelah suporter menjadi Benteng Viola (Persita) dan Benteng Mania (Persikota). Bentrokan antar suporter sering terjadi dan menimbulkan korban. Saking panasnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sempat menerbitkan fatwa haram terhadap digelarnya laga Persita kontra Persikota. Rivalitas ini meredup karena perbedaan kasta, dengan Persita kini di Liga 1 dan Persikota di Liga 3.(*)