BLITAR - Jawa Timur dikenal sebagai salah satu lumbung talenta dan basis suporter paling fanatik dalam sepak bola Indonesia. Militansi ini melahirkan sejumlah Derby Paling Panas Jawa Timur yang intensitasnya seringkali melampaui batas lapangan. Bahkan, menurut pengamat, ketegangan beberapa derby di Jatim ini lebih keras daripada El Clasico di Spanyol, karena dampaknya meluas hingga ke luar stadion.
Berikut adalah lima rivalitas paling membara yang ada di Jawa Timur:
1. Derby Jatim: Persebaya vs Arema
Ini adalah rivalitas abadi dan yang paling panas, bahkan disebut oleh pengamat sebagai yang terpanas di dunia. Derby ini dimulai sekitar era Galatama pada tahun 1994. Pertemuan di Stadion Gajayana Malang dan Stadion Gelora 10 Nopember Surabaya selalu berjalan sangat keras dengan banyak pelanggaran.
Persaingan ini merembet ke suporter, antara Bonek (Persebaya) dan Aremania (Arema), di mana kemenangan dianggap sebagai harga diri tertinggi. Perseteruan dua basis suporter terbesar ini bahkan lahir dari insiden di luar sepak bola, dan gesekan, kericuhan, hingga rusuh-rusuh sudah menjadi pemandangan biasa setiap kedua tim bertemu. Tensi ini membuat Derby Jatim memiliki daya tarik tersendiri bagi pecinta sepak bola nasional.
2. Derby Tetangga: Persik Kediri vs Arema
Derby ini dinilai tak kalah kerasnya dengan Derby Jatim. Disebut Derby Tetangga karena Kediri dan Malang adalah kota yang berdekatan. Uniknya, akar perseteruan kedua klub ini konon tidak murni dari faktor kedaerahan atau pertandingan, melainkan dipicu oleh mantan manajer Persik Kediri, Iwan Budianto.
Pada masa itu, Iwan Budianto diduga melakukan penggembosan besar-besaran di tim Arema dengan membawa beberapa pemain andalan Arema ke Persik Kediri. Aksi ini memicu kemarahan Aremania. Rivalitas memuncak pada tahun 2008 ketika ribuan Aremania mendatangi Kediri saat laga Arema vs Persiwa. Terjadi insiden kerusuhan di Stadion Brawijaya Kediri, di mana suporter menilai wasit tidak fair. Insiden ini memicu respon keras dari suporter Persik, Persikmania, dan berujung pada permusuhan. Bahkan, Aremania pernah 'diharamkan' masuk ke Kota Kediri oleh warga setempat.
3. Derby Malang: Persema Malang vs Arema
Derby sekota ini juga dikenal sangat keras, setara dengan Derby Jatim. Derby ini sering diwarnai kerusakan dan pernah harus menjalani partai usiran karena tingginya tensi dan kericuhan, bahkan hingga di luar lapangan. Namun, kerusuhan antarsuporter tidak separah di dalam lapangan; tensi panas justru sering terjadi antar pemain kedua kesebelasan.
Salah satu momen yang paling diingat adalah pertengkaran antara pemain Persema, Djoko Susilo, dan pemain Arema, Kuncoro, yang membuat pertandingan harus disetir ke Sidoarjo karena kondisi tidak kondusif. Kuncoro dan pemain Persema, Haryanto, saat itu mendapat hukuman dari Komdis PSSI. Saat ini, rivalitas tetap terasa meskipun Persema harus berjuang dari Liga 3, sementara Arema FC berkompetisi di Liga 1. Persema dan pendukung loyalnya merasa "dianaktirikan" karena sebagian besar dukungan warga Malang kini terfokus pada Arema FC.
4. Derby Suramadu: Persebaya vs Madura United
Dibandingkan derby-derby lain, Derby Suramadu (mempertemukan Persebaya dan Madura United) ini terbilang aman dan damai di luar lapangan. Kedua tim selalu menyajikan pertandingan yang enak ditonton karena sama-sama diperkuat banyak pemain bintang.
Meskipun panas di lapangan, terutama karena seringnya terjadi aksi psywar di media sosial dari Bonek atau Madura Fans (seperti tagar #ToyotaAtiSapi), kedua suporter ini tetap menjalin silaturahmi yang baik. Bahkan, mereka sering berbagi tribun, menjadikannya rivalitas yang patut dicontoh. Fungsi sepak bola untuk persaudaraan dinilai lebih diutamakan, meskipun persaingan 90 menit tetap ketat.
5. Derby Balas Budi/Derby Pantura: Deltras Sidoarjo vs Persegres Gresik United
Derby ini mempertemukan dua klub legendaris yang bertetangga sangat dekat, yaitu Deltras Sidoarjo dan Persegres Gresik United. Intensitasnya sangat seru dan panas, meskipun rivalitas ini tidak sebesar Derby Jatim. Ketegangan utama biasanya terjadi hanya di dalam lapangan dan antar pemain.
Sayangnya, rivalitas dua klub besar dengan basis suporter yang loyal (Deltamania dan Ultras Gresik) ini harus berjuang dari Liga 3, yang disebabkan oleh penurunan prestasi klub. Fenomena ini disayangkan karena menunjukkan adanya sistem manajerial yang dianggap kurang bagus atau buruk. Namun, meskipun berlaga di kasta bawah, setiap pertemuan kedua klub ini selalu menyajikan pertandingan yang seru, menunjukkan bahwa dukungan suporter terhadap klub legenda di Jawa Timur tidak pernah padam.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.