BLITAR KAWENTAR – Prosesi pengukuhan raja baru Keraton Surakarta pada Sabtu (15/11/2025) berlangsung dengan nuansa yang berbeda dibandingkan tradisi sebelumnya. Upacara penting yang dikenal sebagai Hajad Dalem Jumenengan untuk menetapkan SISKS Pakubuwono XIV Nata Binayangkari itu justru tampak minim kehadiran tokoh masyarakat maupun pejabat pemerintahan.
Ketidakhadiran para tokoh publik ini menimbulkan sejumlah pertanyaan, mengingat pengukuhan raja baru Keraton Surakarta biasanya selalu menyedot perhatian luas. Bahkan dalam tiga paragraf pertama ini, suasana jumenengan yang berlangsung lebih sepi dari biasanya terlihat mencolok dibandingkan prosesi adat besar lainnya di Solo.
Tokoh Publik Absen dari Jumenengan
Pantauan di lokasi sejak Sabtu pagi menunjukkan suasana yang jauh berbeda dari prosesi pemakaman PB XIII beberapa waktu lalu. Ketika itu, berbagai tokoh nasional hadir, termasuk pejabat tinggi negara seperti Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka. Namun, dalam prosesi jumenengan kali ini, tidak ada satu pun figur publik yang terlihat memasuki kompleks Keraton Kasunanan.
Ketiadaan kehadiran pejabat ini memberikan kesan bahwa dinamika internal keraton masih jauh dari kata usai. Proses pengukuhan raja baru Keraton Surakarta memang terjadi di tengah sorotan publik terkait dualisme kepemimpinan yang sempat mewarnai keraton beberapa tahun terakhir.
Hanya Keluarga Inti dan Abdi Dalem yang Hadir
Meski minim tokoh eksternal, jumenengan tetap berlangsung dengan khidmat. Prosesi tersebut diikuti oleh sebagian keluarga kerajaan dan para abdi dalem yang setia mendampingi jalannya tradisi keraton.
Salah satu yang hadir adalah adik PB XIII, KJPH Benowo, yang tampak mengenakan busana adat lengkap. Namun, beberapa wajah penting justru tidak terlihat di dalam area keraton. Figur seperti Maha Menteri Keraton Kasunanan Solo, KJPA Tejowulan, yang biasanya menjadi bagian penting dari berbagai prosesi adat, juga tidak tampak dalam acara tersebut.
Kehadiran Tokoh dari Pihak Berbeda
Menariknya, sebelum prosesi dimulai sempat terlihat tokoh yang selama ini berada di pihak berbeda dalam dinamika internal keraton, yakni Ketua Lembaga Dewan Adat, Gusti Raden Ayu Kus Murtiawan atau Gus Timung. Ia selama ini dikenal mendukung KGPH Mangkubumi atau Hangabehi, yang juga sempat mengklaim diri sebagai SISKS Pakubuwono XIV.
Berbeda dengan keluarga kerajaan yang hadir memakai busana adat penuh, kehadiran Gus Timung justru tampak santai, hanya mengenakan pakaian kasual dan didampingi suaminya, Kanjeng Pangeran Edi Wirabumi. Penampilan mereka menjadi salah satu pemandangan yang mencolok di tengah sakralnya jumenengan.
Keraguan dari Anggota Keluarga Keraton
Dalam kesempatan terpisah, KJPH Benowo menyampaikan bahwa beberapa saudara sebenarnya ingin hadir namun masih ragu untuk datang. Ia tidak menyebutkan secara spesifik alasan mereka, tetapi kondisi ini memperlihatkan bahwa dinamika internal keluarga kerajaan masih berlangsung.
Keraguan sebagian keluarga untuk ikut serta membuat prosesi pengukuhan terasa berbeda dari tradisi besar keraton pada umumnya. Meski demikian, jumenengan tetap dijalankan sesuai pakem adat, menunjukkan upaya keraton untuk menjaga kontinuitas tradisi di tengah berbagai tantangan yang ada.
Kontras dengan Pemakaman PB XIII
Jika dibandingkan dengan pemakaman PB XIII, jumenengan ini memang sangat kontras. Saat pemakaman, keraton dipenuhi tokoh pemerintahan, keluarga besar keraton, hingga masyarakat adat dari berbagai wilayah. Namun pada prosesi penetapan raja baru, suasana lebih hening dan sederhana.
Kondisi ini memunculkan spekulasi di masyarakat mengenai arah hubungan keraton dengan pemerintah maupun antar internal keluarga. Minimnya kehadiran tokoh publik juga dinilai sebagai sinyal bahwa dinamika internal masih memerlukan waktu untuk kembali stabil.
Tradisi yang Tetap Berjalan
Terlepas dari berbagai dinamika, prosesi pengukuhan raja baru Keraton Surakarta tetap terlaksana secara sakral. Abdi dalem menjalankan tugas dengan penuh dedikasi, dan simbol-simbol adat tetap dipertahankan sesuai tradisi turun-temurun.
Beberapa kalangan berharap jumenengan ini menjadi momentum keraton untuk membangun kembali persatuan di antara keluarga besar Sri Susuhunan. Publik juga menantikan langkah-langkah lanjutan dari Pakubuwono XIV untuk memperkuat posisi dan peran keraton di masyarakat. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.