Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisruh Penobatan Pakubuwono 14 Memanas: Gusti Timur Geruduk Keraton dan Ungkap Pengkhianatan

Rendra Febrian Permana • Selasa, 18 November 2025 | 15:45 WIB
Kisruh Penobatan Pakubuwono 14 Memanas: Gusti Timur Geruduk Keraton dan Ungkap Pengkhianatan
Kisruh Penobatan Pakubuwono 14 Memanas: Gusti Timur Geruduk Keraton dan Ungkap Pengkhianatan

BLITAR KAWENTAR – Konflik suksesi Pakubuwono 14 kembali memanas di Keraton Kasunanan Surakarta. Situasi ini disebut-sebut sebagai pengulangan kisruh serupa pada masa PB XIII, setelah dua sosok berbeda kembali dinobatkan sebagai penerus takhta. Kekisruhan mencuat usai Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabei atau Gusti Mangkubumi tiba-tiba dinobatkan sebagai Pakubuwono 14 oleh Dewan Adat pada Kamis, 13 November. Padahal, sebelumnya Gusti Purbaya telah lebih dulu dinobatkan sebagai PB XIV dalam prosesi pemakaman mendiang PB XIII.

Penobatan ganda inilah yang membuat suasana memanas dan menimbulkan gelombang protes dari sebagian besar putra-putri mendiang PB XIII. Mereka menilai langkah Dewan Adat dinilai tidak menghormati kesepakatan keluarga, termasuk yang telah dituturkan di hadapan Gubernur Jawa Tengah dan berbagai pejabat terkait. Konflik perebutan takhta Keraton Solo itu bahkan disebut semakin rumit setelah muncul aksi mendatangi lokasi penobatan.

Gusti Timur Geruduk Penobatan Mangkubumi

Ketegangan kian menjadi ketika Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Timur Rumbai, kakak kandung Gusti Purbaya, bersama beberapa adiknya mendatangi Handrawina, tempat prosesi penobatan Gusti Mangkubumi sebagai Pakubuwono 14. Kehadiran Gusti Timur tersebut merupakan bentuk penolakan sekaligus protes terhadap keputusan Dewan Adat.

Gusti Timur tak menutupi rasa kecewanya. Ia menyebut bahwa yang terjadi ini seperti mengulang konflik pada masa penobatan PB XIII dahulu, ketika proses suksesi juga penuh ketegangan dan perpecahan. Menurutnya, keputusan Dewan Adat mengangkat Gusti Mangkubumi sebagai PB XIV secara mendadak dan sepihak telah melanggar kesepakatan keluarga besar.

“Ini seperti mengulang yang lalu. Saya sangat sedih melihat adik-adik saya dipecah belah seperti ini,” ujarnya dengan nada emosional dalam video yang diunggah ke publik. Ia menegaskan bahwa sebelumnya seluruh putra-putri PB XIII sudah mencapai kesepakatan bahwa penerus takhta adalah Gusti Purbaya.

Tudingan Pengkhianatan dan Pelanggaran Kesepakatan

Dalam pernyataannya, Gusti Timur menyebut secara langsung bahwa Gusti Mangkubumi telah mengkhianati janjinya. Ia mengklaim bahwa keluarga besar sudah membahas suksesi sebelum pemakaman PB XIII, lengkap dengan kehadiran pejabat daerah. Pada forum tersebut, keluarga besar sepakat bahwa Gusti Purbaya merupakan putra mahkota, pewaris sah yang akan diangkat sebagai PB XIV.

“Kami sudah berbicara sebelumnya, bahkan di hadapan gubernur. Kesepakatannya sudah jelas, putra mahkota adalah Hambok, Gusti Purbaya,” ujar Gusti Timur. Ia menambahkan bahwa keputusan Dewan Adat yang tiba-tiba menobatkan Mangkubumi sangat bertentangan dengan keputusan internal keluarga.

Menurutnya, pengkhianatan tersebut terjadi karena Mangkubumi sebelumnya telah menyetujui keputusan keluarga, namun justru menerima penobatan Dewan Adat. Inilah yang membuat ketegangan mencapai titik panas, memunculkan dua figur berbeda yang mengklaim sebagai Pakubuwono 14.

Prosesi Adat untuk Penobatan Gusti Purbaya Tetap Berjalan

Meski terjadi penobatan tandingan, pihak pendukung Gusti Purbaya menegaskan bahwa prosesi adat untuk penobatan PB XIV versi keluarga tetap akan dilaksanakan pada Sabtu mendatang. Persiapan acara disebut sudah mencapai 10 persen, dan seluruh rangkaian upacara akan dilakukan sesuai tradisi Keraton Surakarta.

Ketika ditanya mengenai langkah selanjutnya, Gusti Timur menegaskan bahwa prosesi akan dilanjutkan sesuai aturan adat. “Upacara akan tetap kita jalankan. Semuanya sesuai tradisi keraton,” ujarnya.

Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda kompromi di antara dua kubu. Konflik perebutan takhta ini diprediksi terus berlanjut, mengingat Dewan Adat dan keluarga besar memiliki pandangan berbeda mengenai legitimasi penobatan. Kondisi ini menciptakan bayang-bayang konflik berkepanjangan seperti yang pernah terjadi dalam suksesi PB XIII.

Kisruh Suksesi Keraton Solo Mengulang Perpecahan Lama

Terbelahnya kubu suksesi Keraton Surakarta bukan hal baru. Pada masa transisi PB XIII, keluarga keraton juga terpecah menjadi beberapa kubu yang mendukung kandidat yang berbeda. RIwayat panjang konflik itu kini kembali terulang dalam suksesi PB XIV.

Konflik internal yang tidak kunjung selesai ini bukan hanya berdampak pada hubungan antarkeluarga, tapi juga menimbulkan kebingungan publik mengenai figur resmi pewaris takhta. Keraton yang seharusnya menjadi simbol harmoni budaya Jawa kembali dilanda gejolak politik internal.

Hingga tulisan ini diselesaikan, baik Dewan Adat maupun kubu keluarga belum mengeluarkan keputusan final untuk menyelaraskan suksesi. Publik pun menunggu apakah Keraton Surakarta kembali menemukan jalan tengah atau justru terjebak dalam konflik berkepanjangan sebagaimana masa lalu. (*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#gusti purbaya #Pakubuwono 14 #dewan adat #keraton surakarta #Gusti Mangkubumi