Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Defisit APBN 2025 Diincar Pemerintah? Purbaya Ungkap Ada Kementerian Menyerah Serap Anggaran hingga Rp3,5 Triliun

Anggi Septiani • Rabu, 26 November 2025 | 01:50 WIB
Defisit APBN 2025 Diincar Pemerintah? Purbaya Ungkap Ada Kementerian Menyerah Serap Anggaran hingga Rp3,5 Triliun
Defisit APBN 2025 Diincar Pemerintah? Purbaya Ungkap Ada Kementerian Menyerah Serap Anggaran hingga Rp3,5 Triliun

BLITAR – Isu mengenai defisit APBN 2025 kembali menjadi sorotan setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengungkap adanya kementerian dan lembaga yang diperkirakan tidak mampu membelanjakan anggaran tahun ini. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancaranya, di mana Purbaya menyinggung adanya instansi yang menyerah menyerap anggaran dan bahkan telah mengembalikannya ke Kementerian Keuangan. Situasi ini menimbulkan perhatian publik karena berkaitan langsung dengan stabilitas fiskal dan upaya pemerintah menjaga defisit tetap terkendali.

Dalam penjelasannya, Purbaya memastikan pihaknya akan terus memonitor pergerakan serapan anggaran hingga akhir November 2025. Hal itu diperlukan untuk memetakan kementerian mana saja yang berpotensi mengembalikan anggaran. Ia menyebut bahwa tidak semua instansi mampu mengeksekusi belanja sesuai rencana, sehingga langkah pengembalian anggaran menjadi opsi paling realistis. Kondisi ini secara otomatis memengaruhi dinamika pengelolaan fiskal, terutama menyangkut proyeksi defisit APBN 2025.

Purbaya mengungkap bahwa hingga saat ini terdapat kementerian atau lembaga yang telah mengembalikan anggaran sebesar Rp3,5 triliun. Meski tidak membeberkan nama instansi tersebut, ia menilai jumlah itu cukup besar dan mengindikasikan perlunya evaluasi terhadap perencanaan program. Selain itu, ia menduga masih akan ada beberapa instansi lain yang mengikuti jejak serupa sebelum tahun anggaran berakhir.

“Belum habis bulannya. Saya duga masih ada yang balikin lagi sampai akhir November,” ujar Purbaya. Menurutnya, proses pemantauan serapan anggaran kini menjadi prioritas utama karena terkait langsung dengan kemampuan pemerintah menyesuaikan belanja di tengah tekanan ekonomi global.

Untuk menangani dana yang dikembalikan, pemerintah telah menyiapkan dua opsi strategis. Pertama, anggaran bisa dialihkan ke kementerian/lembaga lain yang memiliki kemampuan menyerap anggaran secara cepat dan efektif. Kebijakan ini dipilih untuk mendorong program strategis tetap berjalan dan menghindari stagnasi anggaran.

Opsi kedua adalah menggunakan dana yang tidak terserap tersebut untuk memperkecil defisit APBN 2025. Menurut Purbaya, langkah ini tidak hanya realistis, tetapi juga membantu menjaga kesehatan fiskal negara di tengah tekanan risiko global, khususnya terkait dinamika harga energi dan komoditas seperti batubara. Ia menegaskan bahwa pemerintah harus cermat dalam menata belanja dan mengelola defisit agar tetap dalam batas aman.

“Kalau enggak bisa diserap, ya kita gunakan untuk mengurangi defisit anggaran supaya lebih terkendali,” tegasnya.

Purbaya juga menyoroti bahwa kondisi global saat ini memberi dampak signifikan terhadap kinerja APBN. Risiko geopolitik dan peningkatan indeks ketidakpastian global—yang kini berada di angka 51,2—membuat pemerintah harus lebih hati-hati dalam menyusun kebijakan fiskal. Kenaikan harga komoditas energi seperti batubara disebut menjadi salah satu faktor terbesar yang membayangi APBN tahun depan.

Ia menekankan bahwa ketidakpastian global seperti ini dapat menggerus pendapatan negara, sehingga pengelolaan belanja menjadi semakin krusial. Setiap kementerian dituntut untuk memastikan bahwa anggaran benar-benar digunakan secara efektif, terutama menjelang akhir tahun ketika tekanan penyerapan anggaran biasanya meningkat.

Meski beberapa kementerian sudah menyerah menghabiskan anggaran, pemerintah tetap membuka peluang percepatan belanja bagi kementerian lain. Purbaya mengatakan bahwa jika ada kementerian yang mampu mempercepat penyerapan pada November–Desember, anggaran yang menganggur akan dialihkan ke program tersebut.

“Kita lihat ada enggak yang bisa spend lebih cepat. Kalau ada, kita salurkan ke sana,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa langkah cepat diperlukan untuk memastikan program prioritas dapat dilaksanakan tepat waktu. Kinerja penyerapan anggaran juga menjadi salah satu indikator penting dalam mengevaluasi efektivitas kementerian dan lembaga sepanjang tahun.

Dengan potensi meningkatnya anggaran yang tidak terserap, publik kini menunggu bagaimana pemerintah mengatur strategi penutupan tahun fiskal. Keputusan apakah dana akan dialihkan atau digunakan menutup defisit APBN 2025 akan menentukan arah kebijakan ekonomi nasional dalam beberapa bulan ke depan.

Purbaya memastikan pemerintah akan mengambil langkah paling bijak demi menjaga stabilitas fiskal. Ia berharap seluruh kementerian dapat segera meningkatkan serapan anggaran agar tidak banyak dana yang mengendap tanpa manfaat.

Editor : Anggi Septiani
#Defisit APBN 2025 #Purbaya Yudi Sadewa #Pengembalian Anggaran #APBN 2025 #kementerian Lembaga