BLITAR – Dampak kebijakan moneter Purbaya Yudi Sadewa mulai terlihat jelas di sektor keuangan nasional. Setelah hampir satu bulan Menteri Keuangan RI itu menempatkan dana pemerintah di bank-bank Himbara, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan adanya lonjakan signifikan pada jumlah uang beredar. Pernyataan tersebut disampaikan Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2025 dan memicu pembahasan luas mengenai arah kebijakan fiskal dan moneter pemerintah ke depan.
Menurut Perry, penempatan dana pemerintah yang bersumber dari saldo anggaran lebih (SAL) dalam jumlah besar itu berhasil mendorong kenaikan tajam uang primer atau M0 adjust. Kebijakan ini menjadi salah satu langkah agresif Purbaya untuk membuka ruang likuiditas sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah tekanan global. Lonjakan ini pun menjadi bukti langsung bagaimana kebijakan moneter Purbaya memberi efek nyata pada perekonomian.
Dalam pemaparan BI, pertumbuhan M0 adjust pada September 2025 menembus angka 18,58 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan M0 non-adjust yang hanya 13,16 persen. Perry menjelaskan bahwa perhitungan M0 adjust memperhitungkan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) bank setelah adanya insentif likuiditas makroprudensial (KLM). Dengan demikian, kenaikan M0 adjust benar-benar mencerminkan pelonggaran likuiditas hasil intervensi pemerintah.
Perry menjabarkan bahwa kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh ekspansi keuangan pemerintah, khususnya peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat atau Net Claims on Government (NCG). Kondisi ini menandakan bahwa penempatan dana pemerintah di perbankan Himbara benar-benar mengalir dan efeknya terasa hingga ke masyarakat.
Tak hanya M0, kebijakan likuiditas longgar juga berdampak pada pertumbuhan jumlah uang beredar dalam arti luas atau M2. Perry mengungkapkan bahwa M2 meningkat dari 5,46 persen pada Januari 2025 menjadi 7,59 persen pada Agustus 2025. Peningkatan ini disebut sebagai efek lanjutan dari pelonggaran kebijakan moneter pemerintah.
Lonjakan M2 ini penting karena mencerminkan aktivitas ekonomi yang lebih dinamis. Semakin tinggi M2, semakin besar potensi meningkatnya aktivitas konsumsi, investasi, dan pinjaman yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi. Perry menegaskan bahwa efek dari kebijakan moneter Purbaya ini akan terus dimonitor untuk memastikan stabilitas tetap terjaga.
Dalam pernyataannya, Perry menyoroti bahwa dana pemerintah yang ditempatkan di Himbara berasal dari saldo anggaran lebih (SAL). Ini merupakan strategi Kementerian Keuangan untuk mengoptimalkan kas negara yang mengendap agar dapat menjadi motor penggerak likuiditas sektor perbankan.
Perry menilai langkah ini tepat karena dilakukan pada saat sistem perbankan membutuhkan dorongan likuiditas untuk menjaga penyaluran kredit tetap tumbuh. Kenaikan NCG juga disebut sebagai bukti bahwa penempatan dana tersebut benar-benar memengaruhi pergerakan sistem keuangan.
Ia menambahkan bahwa dampak kebijakan tersebut akan terus dimonitor oleh BI untuk memastikan tidak terjadi kelebihan likuiditas yang berpotensi mengganggu stabilitas nilai tukar atau mendorong inflasi secara berlebihan.
Dengan meningkatnya uang beredar, masyarakat disebut mulai merasakan dampak kebijakan tersebut, terutama dalam bentuk kemudahan akses kredit dan pergerakan transaksi yang lebih aktif. BI menyebutkan bahwa kenaikan M0 adjust adalah indikator awal bahwa likuiditas perbankan membaik, sehingga ruang perbankan untuk menyalurkan pembiayaan menjadi lebih besar.
Selain itu, pelonggaran kebijakan melalui penempatan dana SAL turut mendorong perbankan untuk lebih agresif dalam mendukung sektor produktif. Pemerintah berharap kebijakan tersebut dapat memacu pemulihan dan pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global yang tidak menentu.
Perry menegaskan bahwa koordinasi antara pemerintah dan BI akan terus diperkuat, terutama dalam menjaga keseimbangan antara likuiditas dan stabilitas. Ia menambahkan bahwa tren peningkatan uang beredar harus diimbangi dengan pengendalian inflasi dan pengawasan ketat terhadap aliran modal.
Sementara itu, publik kini menunggu bagaimana langkah lanjutan kebijakan moneter Purbaya akan memengaruhi perkembangan ekonomi nasional pada akhir 2025 dan memasuki 2026. Dengan tekanan geopolitik global yang masih tinggi, pemerintah dituntut cermat dalam menjaga ruang fiskal tanpa menciptakan risiko baru
Editor : Anggi Septiani