BLITAR KAWENTAR – Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa membuka tabir strategi besar pemerintah dalam membenahi perekonomian Indonesia. Dalam wawancara khusus dengan Metro TV, Purbaya menjelaskan berbagai langkah tegas yang telah dan akan dilakukan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk pemberantasan barang ilegal, perbaikan sistem pajak, hingga pengembangan mobil nasional.
Berantas Barang Ilegal untuk Lindungi Pasar Domestik
Purbaya menegaskan bahwa langkah-langkah tegas yang dilakukannya di Bea Cukai bukan sekadar untuk meningkatkan penerimaan negara, melainkan untuk melindungi pasar domestik dari persaingan tidak sehat. Menurutnya, 90 persen perekonomian Indonesia berasal dari pasar domestik, sehingga jika dikuasai pemain asing, stimulus pemerintah menjadi sia-sia.
"Saya jaga supaya pasar domestik kita betul-betul dikuasai oleh pemain domestik utamanya. Barang-barang ilegal yang masuk menimbulkan persaingan tidak fair, apalagi baju bekas yang harganya mendekati nol di sana," ungkap Purbaya.
Baca Juga: Semringah, BLTS Kesra Sasar 150 Ribu Warga di Kabupaten Blitar, Segini Besarannya
Menteri Keuangan yang dijuluki bergaya koboy ini memastikan operasi pemberantasan barang ilegal dilakukan secara masif. Setiap hari dan setiap minggu terjadi penangkapan pemain rokok ilegal dan barang selundupan, baik di pelabuhan maupun di jalan-jalan.
Temuan Misinvoicing dan Under Invoicing di Pelabuhan
Purbaya juga mengungkap temuan kasus misinvoicing dan under invoicing yang merugikan negara. Saat inspeksi ke Tanjung Perak Surabaya, ia menemukan kontainer berisi barang dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga pasar. Barang yang seharusnya dihargai 1,5 juta hingga 5 juta rupiah, ternyata dideklarasikan hanya 75 ribu hingga 100 ribu rupiah.
"Saya kasih warning ke pengimpornya. Kita periksa semua barang yang dia impor dan track ke belakang. Kalau coba-coba lagi, kita freeze semua impornya," tegas Purbaya.
Perbaikan Sistem Coretax dan Target Tax Ratio
Terkait sistem perpajakan, Purbaya mengakui bahwa saat pertama kali menjabat, sistem Coretax dalam kondisi berantakan dengan nilai keamanan siber hanya 30 dari 100. Kini, setelah perbaikan intensif, nilai keamanan siber Coretax telah mencapai 95 dari 100.
Baca Juga: Pendaftaran Magang Kemnaker 2025 Dibuka Lagi! Ini Jadwal Batch 3 dan Penyebab Tidak Memenuhi Syarat
"Source code akan diserahkan vendor ke kita 15 Desember. Tim kita yang jago-jago bilang dalam 2 minggu bisa selesai. Orang Indonesia itu pintar, tinggal kasih kesempatan saja," ujar Purbaya dengan bangga.
Untuk tax ratio, Purbaya menargetkan peningkatan secara bertahap. Dengan menghidupkan kembali sektor swasta dan menutup celah-celah ilegal, ia optimis tax ratio bisa naik 0,5 hingga 1 persen, yang berarti tambahan penerimaan 100 hingga 200 triliun rupiah.
Stimulus Ekonomi Masif untuk Dongkrak Pertumbuhan
Purbaya mengungkapkan telah memindahkan 200 triliun rupiah dari Bank Indonesia ke sistem perbankan untuk memberikan stimulus ekonomi. Bahkan baru-baru ini ditambah lagi 76 triliun rupiah, sehingga total mencapai 276 triliun rupiah uang pemerintah yang ada di perbankan.
Baca Juga: Purbaya Ingatkan Mahasiswa: Kuliah yang Benar kalau Mau Indonesia Tembus Pertumbuhan 8 Persen!
"Ini bukan kebijakan luar biasa, hanya memindahkan uang dari BI ke perbankan tanpa mengubah APBN. Tujuannya menekan suku bunga dan mendorong ekonomi," jelasnya.
Langkah ini terbukti efektif. Data retail sales menunjukkan pertumbuhan tertinggi dalam 2 tahun terakhir, PMI mencapai 51,2, dan kepercayaan konsumen naik ke level tertinggi. Purbaya memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal 4 tahun 2025 bisa mencapai 5,6 hingga 5,7 persen, sehingga pertumbuhan sepanjang tahun mencapai 5,2 persen.
Mobil Nasional dan Strategi Industrialisasi
Salah satu program ambisius yang diusung Purbaya adalah pengembangan mobil nasional. Ia menyebut Malaysia dan Vietnam sudah memiliki merek mobil nasional, sehingga Indonesia yang jauh lebih besar seharusnya juga bisa.
"Cikal bakalnya adalah mobil Maung dari Pindad. Kalau tahun depan siap, uangnya sudah kita anggarkan. Presiden cukup agresif, mungkin tahun depan sudah bisa diluncurkan," ungkap Purbaya.
Baca Juga: Purbaya Ingatkan Mahasiswa: Kuliah yang Benar kalau Mau Indonesia Tembus Pertumbuhan 8 Persen!
Menurutnya, pemerintah harus memberikan insentif dan bantuan di awal, karena tidak mungkin produk baru langsung bersaing dengan pemain yang sudah mapan. Targetnya adalah menguasai 10 hingga 20 persen pasar domestik secara bertahap.
Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Purbaya mengkritik pandangan yang menganggap pertumbuhan 5 hingga 6 persen sudah cukup. Menurutnya, untuk keluar dari jebakan middle income trap dan menjadi negara maju, Indonesia harus tumbuh double digit selama 10 tahun lebih.
"Orang bilang target 8 persen terlalu tinggi, tapi itu belum cukup untuk jadi negara maju. Kita harus tumbuh 10 persen tanpa kepanasan. Saya ingin Indonesia semaju Amerika, bukan orang Indonesia pindah ke Amerika," tegasnya.
Gaya Koboy dan Dukungan Presiden
Gaya tegas dan agresif Purbaya yang dijuluki gaya koboy ternyata mendapat restu langsung dari Presiden. Sebelum bertindak, Purbaya selalu melaporkan rencananya ke Presiden, termasuk rencana memindahkan dana 200 triliun rupiah dan inspeksi ke kementerian-kementerian untuk memastikan anggaran terserap dengan baik.
"Saya tahu gaya Presiden yang agresif dan asertif. Jadi saya minta izin dulu, dan beliau bilang jalankan saja. Itu bukan gaya beda-bedaan, memang harus seperti itu untuk menciptakan optimisme," jelas Purbaya.
Mengenai isu politik, Purbaya dengan tegas menyatakan tidak pernah memikirkan politik karena tidak punya uang, pengalaman, dan keahlian di bidang tersebut. Fokusnya murni sebagai dokter ekonomi yang ingin membuat Indonesia semaju negara-negara maju. (*)
Editor : Rahma Nur Anisa