Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menkeu Purbaya Ungkap Potensi Kementerian “Menyerah Belanja Anggaran 2025”, APBN Bisa Terselamatkan

Vicky Hernanda • Kamis, 27 November 2025 | 18:35 WIB
Kementrian keuangan
Kementrian keuangan

BLITAR - Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengungkapkan adanya potensi kementerian dan lembaga (K/L) yang tidak mampu menyelesaikan penggunaan anggaran tahun 2025. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah wawancara yang kemudian diunggah melalui kanal Metro TV. Purbaya menegaskan pihaknya akan memonitor secara ketat realisasi belanja hingga akhir November, sebelum menentukan langkah final terhadap anggaran yang tidak terserap. Keyword utama: anggaran 2025.

Menurut Purbaya, indikasi ini muncul karena beberapa kementerian dan lembaga tampak kesulitan menuntaskan belanja sesuai jadwal. Meski tidak menyebut angka pasti berapa banyak anggaran yang berpotensi dikembalikan, ia menegaskan pola seperti ini sudah terlihat dari tahun sebelumnya. Bahkan, Purbaya mengingatkan bahwa terdapat K/L yang pernah mengembalikan anggaran sebesar Rp3,5 triliun kepada Kementerian Keuangan. Situasi ini membuat isu anggaran 2025 menjadi sorotan utama, terutama dalam dinamika pengelolaan belanja pemerintah.

Dalam penjelasannya, Purbaya memaparkan dua opsi yang disiapkan untuk menyikapi anggaran tidak terpakai tersebut. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan dana menganggur tanpa tujuan jelas. Opsi pertama yaitu mengalihkan anggaran ke kementerian atau lembaga lain yang memiliki kapasitas mengeksekusi belanja lebih cepat. Sementara opsi kedua, anggaran akan dipakai untuk mengurangi defisit APBN, sehingga kesehatan fiskal negara tetap terjaga. Ia memastikan keputusan ini akan diambil dengan tetap memperhatikan perkembangan realisasi belanja hingga penghujung November.

Kemungkinan Pengalihan Anggaran ke K/L Lain

Purbaya menyebut opsi pengalihan menjadi prioritas apabila ada K/L lain yang mampu menyerap anggaran lebih cepat sebelum penutupan tahun anggaran. Ia menilai pola percepatan belanja menjadi salah satu strategi efektif untuk menjaga momentum ekonomi. Karena itu, jika pada November dan Desember terdapat kementerian yang mampu mengajukan percepatan, pemerintah akan mempertimbangkan mengalihkan dana secara selektif.

Ia menegaskan bahwa keputusan ini didasarkan pada prinsip fleksibilitas dan efektivitas anggaran. Pemerintah tidak ingin belanja terhambat hanya karena sebagian K/L tidak mampu menjalankan programnya sesuai rencana. Dengan demikian, langkah pemantauan intensif terus dilakukan dalam beberapa pekan terakhir sebelum deadline penyerapan. Hal ini juga menjadi bagian penting dalam memastikan anggaran 2025 berjalan sesuai target pembangunan nasional.

Pengurangan Defisit APBN 2025 Menjadi Alternatif

Jika hingga akhir November tidak ada kementerian yang mampu menyerap anggaran tambahan, Purbaya menyebut dana tersebut akan langsung dipakai untuk mengurangi defisit APBN 2025. Menurut dia, pengurangan defisit menjadi salah satu langkah menjaga stabilitas fiskal di tengah risiko geopolitik global dan variasi harga komoditas seperti batubara. Ia mengingatkan bahwa kondisi dunia yang tidak stabil menuntut pemerintah lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan negara.

Langkah pengurangan defisit dinilai mampu memberikan ruang lebih besar bagi pemerintah dalam menjaga keseimbangan fiskal, sekaligus memberi sinyal positif kepada investor. Purbaya menuturkan bahwa pengelolaan belanja negara harus dilakukan dengan akuntabilitas tinggi agar tidak memberikan tekanan berlebihan pada APBN. Ia menegaskan bahwa keputusan apa pun terkait anggaran 2025 tetap akan dilakukan secara terukur dan bertanggung jawab.

Monitoring Hingga Akhir November

Purbaya menyampaikan bahwa titik krusial penentuan kebijakan anggaran ada pada akhir November. Pada periode tersebut Kementerian Keuangan akan melihat kondisi realisasi secara menyeluruh. Ia menyebut beberapa kementerian sudah menunjukkan tanda-tanda “menyerah belanja”, terutama yang programnya terhambat akibat faktor eksternal seperti risiko geopolitik serta kenaikan harga komoditas energi.

Meski demikian, Purbaya tidak menyebut secara spesifik kementerian atau lembaga mana yang dimaksud. Ia hanya menegaskan bahwa pola belanja yang tidak optimal harus ditangani secara cepat. Pemerintah akan memutuskan langkah terbaik agar tidak terjadi pemborosan anggaran dan seluruh dana negara dapat dioptimalkan untuk kepentingan publik.

Dalam penutupnya, Purbaya mengajak masyarakat untuk memahami dinamika ini sebagai bagian dari upaya pemerintah menjaga akuntabilitas fiskal. Ia menekankan bahwa penggunaan anggaran 2025 harus tepat guna, terarah, dan sesuai prioritas pembangunan. Langkah-langkah penyesuaian akan dilakukan demi memastikan APBN tetap sehat dan tidak menimbulkan beban jangka panjang bagi negara. (*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#defisit anggaran #Anggaran 2025 #menteri keuangan #APBN 2025 #kementerian Lembaga