Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Program MBG di Mata Petugas Dapur di Blitar: Pastikan Bahan Benar-benar Layak, Berharap Terus Berlanjut untuk Generasi Emas

M. Subchan Abdullah • Minggu, 30 November 2025 | 03:02 WIB
HIGIENIS: Bahrul Ulum bersama rekan-rekannya di dapur SPPG Kandangan, Srengat, Kabupaten Blitar saat menyiapkan menu MBG.
HIGIENIS: Bahrul Ulum bersama rekan-rekannya di dapur SPPG Kandangan, Srengat, Kabupaten Blitar saat menyiapkan menu MBG.

BLITAR KAWENTAR - Di balik seporsi makanan bergizi yang diterima ribuan pelajar setiap pagi, ada cerita tentang ketelatenan, kedisiplinan, dan dedikasi yang tak pernah tampak di permukaan.

Salah satunya datang dari Bahrul Ulum, petugas pemeriksa kelayakan bahan baku Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Kandangan, Kecamatan Srengat. 

Di tempat inilah, dia menjalankan tanggung jawabnya memastikan setiap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) layak santap dan sesuai standar.

Baca Juga: Menteri ATR BPN Usulkan UU Administrasi Pertanahan Atasi Tumpang Tindih

Bagi Bahrul, MBG bukan sekadar program bantuan pangan. “Dampaknya nyata sekali bagi anak-anak. Terutama dari sisi gizi yang semakin tercukupi,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).

Di dapur tempat dia bertugas, standar bahan baku sangat ketat. Susu UHT harus merek tertentu, ayam potong wajib datang dalam kondisi benar-benar segar. 

“Kalau ayam datang jam sembilan malam, ya harus langsung diolah saat itu juga. Tidak boleh menunggu,“ katanya.

Tak jarang, pengalaman unik mewarnai rutinitasnya. Dia bercerita tentang momen ketika persediaan bahan tiba-tiba habis menjelang tengah malam.

Baca Juga: Menteri ATR BPN Dorong MASKI Perkuat Standar Survey Kadastral Nasional

“Mau tidak mau harus segera ke pasar. Sudah biasa berangkat dini hari hanya demi memastikan menu besok tetap sesuai standar,” tuturnya sambil tersenyum.

Namun bagian paling berkesan bagi Bahrul justru datang dari para penerima manfaat: anak-anak sekolah. 

Dia mengaku kerap melihat antusiasme yang membuat lelahnya terbayar lunas. “Setiap MBG datang, mereka sudah menunggu. Penasaran sekali ingin tahu menunya,” katanya.

Tetapi, sebagai petugas, dia dilarang membocorkan menu harian. “Kadang mereka merayu, tapi tetap tidak boleh,” akunya.

Baca Juga: Menteri ATR BPN dan Menko PM Matangkan Sinkronisasi TORA untuk Atasi Kemiskinan Ekstrem

Menurutnya, menu berbahan daging menjadi favorit para siswa, seperti chicken teriyaki dan rendang. Variasi menu yang selalu berbeda setiap hari juga membuat anak-anak tak pernah merasa bosan.

Baca Juga: Wamen Ossy Tekankan Keamanan Sertipikat Elektronik Cegah Mafia Tanah

MBG ternyata juga menciptakan dampak sosial. UMKM sekitar turut merasakan manfaat, terutama pemasok bahan pokok.

“Kami tidak pernah bermain harga. Semua mengikuti harga pasar. Bagi kami ini soal membantu perputaran ekonomi warga,” kata Bahrul. 

Dia menambahkan, hampir 80 persen pekerja dapur MBG di SPPG Kandangan berasal dari warga setempat sebagai bentuk pemberdayaan lingkungan.

Baca Juga: Menteri ATR BPN Perintahkan GTRA Bali Kontrol Keras Alih Fungsi Lahan Sawah

Di balik kelelahan dan kedisiplinan tinggi, Bahrul menyimpan satu harapan besar: program MBG tidak berhenti di tengah jalan.

“Ini bisa jadi program jangka panjang untuk mewujudkan generasi emas. Kami melihat langsung dampaknya. Semoga terus berlanjut, meski nanti harus ganti presiden,” pungkasnya.(mg2/sub)

Editor : M. Subchan Abdullah
#program Makan Bergizi Gratis #blitar #pelajar #generasi emas #Mbg #Petugas SPPG #srengat #anak #Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi