BLITAR - Harapan besar untuk melihat Persebaya meraih gelar juara sebelum memasuki usia satu abad kembali menjadi sorotan publik. Janji monumental yang pernah disampaikan Presiden Klub Azrul Ananda kini terasa kian berat diwujudkan, terutama melihat performa Green Force di musim 2025–2026 yang masih jauh dari kata stabil. Situasi ini membuat banyak Bonek mempertanyakan arah pembangunan tim dan kesiapan klub menyambut tonggak sejarah 100 tahun.
Pada ulang tahun ke-94 Persebaya pada Juni 2021, janji itu pertama kali terucap. Saat itu, Indonesia masih bergelut dengan pandemi sehingga banyak klub menurunkan target dan mengambil langkah realistis. Persebaya juga demikian: fokus hanya pada capaian papan atas, bukan perburuan gelar. Namun, di balik target sederhana, Azrul menegaskan visi besar membangun struktur klub yang modern dan profesional sebagai landasan masa depan.
Dalam pernyataannya kala itu, Azrul menyebut tujuan jangka panjang Persebaya adalah menjadi klub mandiri, sehat secara finansial, dan siap melantai di bursa saham sebelum memasuki usia satu abad. Ambisi itu ditopang keyakinan bahwa Green Force mampu bersaing di level Asia jika pembenahan berjalan konsisten. Ia tetap menyimpan impian terbesar: membawa Persebaya juara Liga Indonesia sebelum usia 100 tahun.
Visi Besar yang Tertinggal oleh Waktu
Musim 2021–2022 menjadi titik awal perjalanan panjang itu. Persebaya menyiapkan skuad dengan mayoritas pemain muda, baik lokal maupun asing. Filosofinya jelas: membangun tim yang berkembang secara berkelanjutan, bukan hasil instan. Namun memasuki musim 2025–2026, hasil di lapangan justru menunjukkan kondisi yang tidak ideal.
Hingga pekan ke-14, Persebaya hanya berada di posisi kedelapan klasemen sementara Super League dengan 17 poin dari 12 laga. Produktivitas 14 gol, kebobolan 12 gol, dan akurasi tembakan 42 persen menunjukkan masalah efektivitas. Meski mampu membangun permainan dengan 3.708 umpan dan akurasi 79 persen, itu belum cukup untuk memberi hasil maksimal.
Di lini pertahanan, catatan 248 intersep, 218 sapuan, dan 30 blok semestinya menunjukkan kerja keras para pemain belakang. Namun hanya dua nirbobol yang dicatat, menjadi indikator bahwa fokus bertahan Persebaya belum stabil. Seluruh gambaran ini membuat jarak menuju target juara semakin terasa jauh.
Krisis Lini Belakang: Dimov Jadi Pusat Sorotan
Situasi makin runyam ketika sederet kesalahan individual pemain belakang, terutama Dimov, menjadi sorotan utama Bonek. Dalam beberapa pertandingan krusial, blunder Dimov disebut merugikan Persebaya dan membuat tim kehilangan poin penting.
Kritik fanbase pun menguat, terutama setelah empat kesalahan fatal Dimov dalam laga melawan Bali United, Persija Jakarta, Arema FC, dan Bhayangkara FC. Pada duel kontra Bali United, Dimov kalah satu lawan satu dari Boris Kopitovic sehingga lawan mudah memanfaatkan celah. Saat melawan Persija, ia gagal mengawal Gustavo Almeida yang kemudian mencetak gol lewat sundulan bebas.
Kesalahan lebih fatal terjadi dalam Derby Jawa Timur melawan Arema FC. Dimov mencetak gol bunuh diri dalam situasi tanpa tekanan. Sementara pada laga di Lampung kontra Bhayangkara FC, ia kalah duel udara dari Dendy Sulistyawan yang memiliki postur lebih pendek.
Akun fanbase @onlinePersebaya menuliskan kritik keras: “Kamu bisa bermain baik selama 89 menit, tapi satu kesalahan mengubah hasil pertandingan. Segera perbaiki performa dan kurangi blunder.” Unggahan itu memantik diskusi luas di kalangan Bonek.
Bonek Mendesak Evaluasi Total
Resonansi kritik suporter semakin besar. Banyak yang menuntut agar Dimov dievaluasi total di putaran kedua. Sebagian lainnya lebih tegas: meminta manajemen mengambil langkah berani untuk merombak lini belakang.
Administrasi fanbase bahkan menyampaikan tanggapan soal kritik keras yang dilayangkan. Mereka menegaskan bahwa para pemain profesional dibayar untuk bermain baik dan wajar jika mendapat evaluasi dari publik selama tidak melewati batas.
Semua dinamika ini menempatkan Persebaya di posisi sangat krusial. Menjelang usia 1 abad, Green Force menghadapi momen penentu: apakah janji Azrul akan tercatat sebagai bagian sejarah indah Persebaya, atau justru menjadi wacana yang sulit diwujudkan dalam kompetisi modern yang semakin ketat.
Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi