Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Persebaya Surabaya Terus Imbang, Formasi 4-2-3-1 Jadi Biang Kerok? Uston Nawawi Dipercaya Gantikan Pelatih Kepala

Rahma Nur Anisa • Selasa, 9 Desember 2025 | 19:30 WIB

Persebaya Surabaya terus imbang, formasi 4-2-3-1 jadi masalah.
Persebaya Surabaya terus imbang, formasi 4-2-3-1 jadi masalah.

BLITAR KAWENTAR - Persebaya Surabaya kembali harus puas dengan hasil imbang saat bertandang ke markas PSM Makassar di Pare-Pare. Hanya meraih satu poin, hasil ini seperti déjà vu yang terus berulang tanpa ada perubahan signifikan. Banyak pengamat sepak bola menyebut bahwa masalah mental menjadi penyebab utama. Namun jika dicermati lebih dalam, akar persoalan Bajul Ijo jauh lebih kompleks daripada sekadar mental pemain.

Sejak beberapa pekan terakhir, Persebaya Surabaya sebenarnya menunjukkan permainan yang tidak buruk. Pola permainan tim asal Surabaya ini cukup terstruktur dengan build up yang hidup, transisi yang rapi, serta progres serangan yang kerap berhasil menekan pertahanan lawan. Sayangnya, ada satu hal krusial yang terus menjegal langkah Persebaya meraih kemenangan: formasi yang tidak sesuai dengan karakter pemain.

Formasi 4-2-3-1 Kurung Pergerakan Lini Depan

Persebaya terus memaksakan formasi 4-2-3-1 padahal struktur skuad mereka jelas lebih alami bermain dengan dua striker. Dalam formasi 4-2-3-1, striker tunggal kehilangan partner untuk bermain kombinasi. Winger kesulitan mencari target di kotak penalti, sementara gelandang serang sering tenggelam di antara garis pertahanan lawan.

Baca Juga: Menteri Nusron Minta Pengembang Stop Gunakan Lahan LP2B untuk Perumahan

Akibatnya, serangan Persebaya Surabaya kerap terasa buntu di momen-momen krusial. Saat melawan PSM Makassar di Pare-Pare, kondisi ini terlihat dengan sangat jelas. Banyak peluang emas yang seharusnya bisa diselesaikan dengan lebih matang apabila ada dua pemain di lini depan yang saling mendukung.

Jika sejak awal Persebaya berani turun dengan formasi 4-4-2 yang sudah sering dibahas sebagai formasi paling cocok untuk karakter tim, hasilnya mungkin akan berbeda. Bukan hanya satu poin, melainkan tiga poin penuh bisa dibawa pulang ke Surabaya. Formasi bukan sekadar angka di papan taktik, tetapi gambaran bagaimana karakter pemain seharusnya dipasang agar potensi mereka maksimal. Selama masalah formasi ini tidak dibenahi, Persebaya akan terus berjalan dalam lingkaran yang sama. Main bagus, tapi tidak menang.

Uston Nawawi Naik Jabatan Jadi Pelatih Kepala

Di tengah pembahasan soal taktik, Persebaya Surabaya kini menghadapi keputusan besar terkait kursi pelatih. Beredar banyak rumor mengenai calon pelatih baru, mulai dari pelatih asing berpengalaman hingga nama-nama lokal yang sedang naik daun. Namun manajemen Persebaya langsung menepis semua spekulasi tersebut.

Baca Juga: transformasi layanan pertanahan) Kunjungan Malaysia, ATR/BPN Paparkan Transformasi Layanan Pertanahan Indonesia

Manajemen menyampaikan bahwa musim ini mereka tidak ingin menghamburkan dana. Fokus klub adalah disiplin finansial, persiapan IPO (Initial Public Offering), dan membangun bisnis yang stabil dalam jangka panjang. Dalam situasi seperti itu, mendatangkan pelatih baru dengan gaji tinggi jelas bukan prioritas utama.

Di sinilah nama Uston Nawawi menguat sebagai calon pelatih kepala. Sosok yang sudah lama bekerja di internal Persebaya ini mengenal betul pemain muda, ritme tim, serta karakter ruang ganti. Manajemen melihat Uston bukan sebagai solusi darurat, melainkan bagian dari strategi panjang untuk memanfaatkan potensi internal daripada membeli dari luar.

Dengan kondisi tim yang butuh stabilitas, pilihan Uston Nawawi terasa masuk akal. Tinggal bagaimana dia bisa memaksimalkan skuad yang ada, terutama dalam memperbaiki masalah formasi dan taktik yang sudah terlalu sering merugikan tim.

Baca Juga: Wamen Ossy Tekankan Empat Poin Strategis Penanganan Tindak Pidana Pertanahan

Sadida Nugraha Putra, Cahaya Terang di Pare-Pare

Di tengah tekanan, kritik, dan sorotan tajam kepada pelatih serta manajemen, muncul satu nama muda yang justru memberi harapan baru: Sadida Nugraha Putra. Saat laga melawan PSM Makassar, Sadida tampil dengan keberanian luar biasa. Dia tidak gentar menghadapi tekanan suporter lawan, tidak ragu dalam duel, dan selalu membuat keputusan cepat yang berdampak pada ritme permainan.

Setiap kali Persebaya Surabaya butuh energi tambahan, Sadida hadir sebagai penyemangat. Tidak berlebihan jika banyak yang menetapkannya sebagai man of the match. Penampilannya bukan sekadar bagus, tapi penuh karakter—sesuatu yang sering hilang dari beberapa pemain senior.

Sadida mewakili satu pesan penting: jika Persebaya berani memberi ruang bagi pemain muda, tim ini punya masa depan cerah. Dan jika benar Uston Nawawi menjadi pelatih kepala, pola ini hampir pasti akan berlanjut. Pemain muda yang lapar, berani, dan penuh energi akan menjadi pondasi tim ke depan.

Persebaya di Titik Krusial

Persebaya Surabaya sekarang berada di titik krusial. Hasil imbang yang terus berulang tidak bisa dibiarkan, dan akar masalahnya harus dihadapi dengan jujur. Formasi perlu disesuaikan dengan karakter pemain, pelatih harus ditetapkan dengan jelas, dan pemain muda seperti Sadida Nugraha Putra harus terus diberi panggung.

Baca Juga: Manfaat Antrian Online Sentuh Tanahku, Layanan Pertanahan di Semarang Makin Efisien

Jika tiga hal ini berjalan seiring, Persebaya bisa keluar dari pola membosankan yang selama ini menghantui. Tim ini punya potensi besar. Tinggal bagaimana mereka meraciknya dengan tepat. Bajul Ijo tidak kekurangan talenta. Yang kurang hanya keberanian mengambil keputusan yang sesuai kebutuhan lapangan. (*)

Editor : Rahma Nur Anisa
#Sadida Nugraha Putra #Formasi 4 2 3 1 #persebaya surabaya #PSM Makassar #uston nawawi