BLITAR KAWENTAR - Persebaya Surabaya kembali menelan hasil pahit dengan hanya membawa pulang satu poin dari lawatan ke Stadion Gelora BJ Habibie, Pare-Pare. Hasil imbang melawan PSM Makassar ini semakin menambah daftar panjang hasil tanpa kemenangan yang terasa seperti déjà vu bagi Bajul Ijo. Banyak pihak yang menyoroti masalah mental pemain, namun akar permasalahan Persebaya Surabaya sebenarnya jauh lebih kompleks dari sekadar mental yang rapuh.
Dari beberapa laga terakhir, Persebaya Surabaya sebenarnya tidak menampilkan permainan yang buruk. Pola build up berjalan hidup, transisi antar lini cukup rapi, dan progres serangan kerap berhasil menekan pertahanan lawan. Namun ada satu hal krusial yang terus menjegal tim arahan Paul Munster ini meraih kemenangan penuh: pemilihan formasi yang tidak sesuai dengan karakter pemain yang dimiliki.
Formasi 4-2-3-1 Buntukan Serangan Persebaya
Persebaya terus memaksakan penggunaan formasi 4-2-3-1 padahal struktur skuad yang dimiliki klub berjuluk Bajul Ijo ini jelas-jelas lebih alami jika bermain dengan dua striker. Dalam formasi 4-2-3-1, striker tunggal kehilangan partner untuk membangun kombinasi serangan. Winger kesulitan mencari target di dalam kotak penalti, sementara gelandang serang sering tenggelam di antara garis pertahanan lawan.
Baca Juga: Mutasi Kembali Ratusan Pegawai Lingkup Pemkab Blitar, Bupati: Awas Bagi ASN Suka Bolos
Akibatnya, serangan Persebaya Surabaya kerap terasa buntu di momen-momen krusial yang seharusnya bisa dikonversi menjadi gol. Ketika melawan PSM Makassar di Pare-Pare, kondisi ini terlihat sangat jelas. Banyak peluang emas yang seharusnya bisa diselesaikan dengan lebih matang apabila ada dua pemain di lini depan yang saling mendukung satu sama lain.
Andai sejak awal Persebaya berani menurunkan tim dengan formasi 4-4-2 yang sudah sering dibahas sebagai formasi paling cocok untuk karakter tim, hasilnya bisa jadi berbeda 180 derajat. Bukan hanya satu poin, melainkan tiga poin penuh yang dibawa pulang ke Surabaya. Formasi bukan sekadar angka di papan taktik, tetapi gambaran nyata bagaimana karakter pemain seharusnya dipasang agar potensi maksimal mereka bisa keluar. Selama masalah formasi ini tidak segera dibenahi, Persebaya akan terus berjalan dalam lingkaran setan yang sama: bermain bagus namun tetap tidak menang.
Uston Nawawi Dipercaya Naik Jabatan
Di tengah kritik tajam terhadap strategi taktik, Persebaya Surabaya kini menghadapi keputusan besar terkait posisi pelatih kepala. Beredar banyak rumor mengenai sejumlah calon pelatih baru, mulai dari pelatih asing berpengalaman hingga nama-nama pelatih lokal yang tengah naik daun. Namun manajemen Persebaya dengan tegas langsung menepis semua spekulasi yang beredar.
Baca Juga: Menteri Nusron Minta Pengembang Stop Gunakan Lahan LP2B untuk Perumahan
Manajemen klub menegaskan bahwa di musim ini mereka tidak berniat menghamburkan dana untuk mendatangkan pelatih baru dengan gaji besar. Fokus utama manajemen Persebaya Surabaya saat ini adalah menjaga disiplin finansial, mempersiapkan IPO (Initial Public Offering), dan membangun bisnis klub yang stabil dalam jangka panjang. Dalam situasi seperti itu, mendatangkan pelatih baru dengan kontrak mahal jelas bukan menjadi prioritas.
Di sinilah nama Uston Nawawi mencuat sebagai calon kuat pelatih kepala. Sosok yang sudah lama berkiprah di internal Persebaya ini dinilai sangat mengenal karakter pemain muda, ritme tim, serta dinamika ruang ganti. Manajemen melihat Uston Nawawi bukan sebagai solusi darurat semata, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memaksimalkan potensi internal dibanding membeli dari luar.
Dengan kondisi tim yang sangat membutuhkan stabilitas, pilihan menunjuk Uston Nawawi sebagai pelatih kepala terasa masuk akal. Tinggal bagaimana sosok yang sudah malang melintang di tubuh Persebaya ini bisa memaksimalkan skuad yang ada, terutama dalam memperbaiki masalah formasi dan taktik yang sudah terlalu sering merugikan tim.
Baca Juga: Wamen Ossy Tekankan Empat Poin Strategis Penanganan Tindak Pidana Pertanahan
Sadida Nugraha Putra Jadi Secercah Harapan
Di tengah tekanan berat, kritik pedas, dan sorotan tajam yang mengarah pada pelatih serta manajemen, muncul satu nama muda yang justru memberikan secercah harapan baru bagi Bonek: Sadida Nugraha Putra. Saat berhadapan dengan PSM Makassar, Sadida tampil dengan keberanian luar biasa yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Pemain muda kelahiran 2006 ini tidak gentar menghadapi tekanan suporter tuan rumah yang dikenal sangat fanatik. Dia tidak ragu dalam setiap duel dan selalu membuat keputusan cepat yang berdampak positif pada ritme permainan Persebaya Surabaya. Setiap kali tim membutuhkan suntikan energi tambahan, Sadida hadir sebagai motor penggerak. Tidak berlebihan jika banyak pengamat yang menetapkannya sebagai man of the match dalam laga tersebut.
Penampilan Sadida Nugraha Putra bukan sekadar bagus secara teknis, tetapi juga penuh karakter dan mental juara—sesuatu yang ironisnya sering hilang dari beberapa pemain senior di skuad. Sadida mewakili satu pesan penting: jika Persebaya berani konsisten memberi ruang bagi pemain muda berbakat, masa depan tim ini akan cerah. Dan jika benar Uston Nawawi menjadi pelatih kepala, pola pembinaan pemain muda ini hampir pasti akan terus berlanjut dan semakin intensif.
Persebaya di Persimpangan Jalan
Persebaya Surabaya kini berada di titik krusial yang menentukan. Hasil imbang yang terus berulang tidak bisa lagi dibiarkan tanpa solusi konkret. Akar masalahnya harus dihadapi dengan jujur dan berani. Formasi perlu segera disesuaikan dengan karakter pemain yang ada, pelatih harus ditetapkan dengan jelas untuk memberikan kepastian, dan pemain muda seperti Sadida Nugraha Putra harus terus diberi panggung untuk berkembang.
Jika ketiga hal ini berjalan beriringan dengan baik, Persebaya berpeluang besar keluar dari pola membosankan yang selama ini terus menghantui. Tim ini sejatinya punya potensi besar. Tinggal bagaimana manajemen dan pelatih meraciknya dengan tepat. Bajul Ijo tidak kekurangan talenta. Yang kurang hanya keberanian mengambil keputusan strategis yang sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. (*)
Editor : Rahma Nur Anisa