BLITAR – Kisah Asma, warga Desa Beroangin, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), kembali menjadi sorotan setelah dirinya resmi menerima BSU Dinsos Polman sebesar Rp 1 juta. Bantuan ini datang tak lama setelah videonya viral di media sosial karena mengalami kejadian nahas: kecopetan saat mendampingi kerabat yang menerima BLTS di Kantor Pos Wonomulyo, Jumat (28/11/2025).
Peristiwa itu membuat sejumlah dokumen penting dan uang pinjaman sebesar Rp 780 ribu lenyap. Kini, setelah viral, bantuan dari pemerintah daerah pun mulai mengalir.
BSU Dinsos Polman Diantar Langsung ke Rumah Asma
Penyerahan BSU Dinsos Polman dilakukan langsung oleh Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Polman, Andi Sumarni, didampingi staf, pendamping lansia, dan perwakilan Komunitas Religi, Senin (8/12). Bantuan kategori respon cepat ini bersumber dari APBD 2025 melalui Program Rehabilitasi Sosial Dinsos Polman.
“BSU yang diberikan kepada PPKS Asma sebesar Rp 1 juta. Ini bantuan tak terencana, tetapi sebagai respon cepat untuk meringankan beban hidupnya,” ujar Andi Sumarni.
Bukan hanya BSU dari Dinsos, Asma juga menerima bantuan biaya hidup Rp 1 juta serta paket sembako dari Baznas Polman. Pemerintah juga memfasilitasi pengurusan ulang KTP dan KK Asma yang hilang saat insiden kecopetan.
BLTS Kesra Menyusul: Asma Sudah Terdata di DTSEN Desil 3
Selain bantuan tunai, Asma kini telah masuk dalam data DTSEN desil 3, sehingga berhak menerima BLTS Kesra sebesar Rp 900 ribu. Ini menambah total bantuan yang diterimanya usai kejadian viral tersebut.
“Program ini bukti nyata perhatian pemerintah daerah terhadap masyarakat rentan,” kata Andi Sumarni.
Kisah Viral: Kehilangan Uang Pinjaman dan Dokumen Penting
Asma menjadi viral bukan tanpa sebab. Saat mendampingi kerabatnya yang menerima BLTS, seorang pencopet mengambil dompetnya. Isinya bukan hanya uang Rp 780 ribu, tetapi juga KTP, KK, dan surat-surat penting lainnya. Ironisnya, uang itu adalah hasil pinjaman yang rencananya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, biaya sekolah anak, dan memperbaiki gubuk reot tempat tinggalnya.
Warganet ramai membagikan kisahnya, sehingga mendorong Dinsos Polman turun langsung melakukan asesmen.
Kondisi Ekonomi Memprihatinkan: Bertahan Hidup dari Sayur Pakis
Hasil asesmen menunjukkan kondisi sosial ekonomi Asma benar-benar memprihatinkan. Ia tinggal di rumah yang tidak layak huni. Untuk menyambung hidup, ia menjual sayur pakis hasil memetik dari kebun tetangga atau rawa yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumahnya.
Dalam sehari, jika beruntung, Asma bisa memperoleh sekitar 30 ikat pakis. Setiap 7–8 ikat dijual Rp 10 ribu. Artinya, pendapatannya sangat kecil dan tidak menentu, bergantung kondisi alam dan ketersediaan tanaman.
Harapan Baru Setelah Viral
Kisah Asma menjadi bukti bahwa media sosial bisa menjadi ruang bagi masyarakat kecil untuk didengar. Setelah videonya viral, pemerintah bergerak cepat memberi bantuan yang selama ini mungkin sulit ia akses.
BSU, BLTS Kesra, bantuan Baznas, hingga pengurusan ulang dokumen menjadi paket bantuan komprehensif bagi ibu 39 tahun itu. Meski kejadian kecopetan membuatnya dirugikan, perhatian banyak pihak menghasilkan titik terang bagi kehidupan Asma dan keluarganya.
Dinsos Polman menegaskan bahwa respon cepat seperti ini akan terus dilakukan terutama bagi kelompok rentan yang masuk kategori PPKS. Program rehabilitasi sosial yang dibiayai APBD 2025 juga disebut akan diperkuat untuk menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan.
Kini, setelah bantuan diterima, Asma berharap dapat memperbaiki kondisi ekonomi keluarga dan memperbaiki rumah sederhana yang ia tempati. Meski pendapatannya dari menjual pakis belum pasti, bantuan yang datang diharapkan bisa menjadi awal perubahan bagi ibu empat anak tersebut.
Editor : Findika Pratama