Kepala BNN Ungkap 3,3 Juta Warga Indonesia Jadi Pengguna Narkoba, 60 Persen Berawal dari Lingkungan Rumah dan Sekolah
Rahma Nur Anisa• Rabu, 17 Desember 2025 | 19:30 WIB
Kepala BNN ungkap 3,3 juta warga Indonesia jadi pengguna narkoba.
BLITAR KAWENTAR - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia, Inspektur Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mengungkapkan fakta mengejutkan terkait penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Berdasarkan data penelitian terbaru, prevalensi penyalahgunaan narkoba mencapai angka 1,73 persen atau setara 3,3 juta orang dari populasi usia produktif 15 hingga 64 tahun. Lebih memprihatinkan lagi, 60 persen kasus bermula dari lingkungan terdekat seperti rumah, pertemanan, sekolah, dan kampus.
Dalam wawancara eksklusif dengan Voice of Indonesia, Kepala BNN Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa mayoritas pengguna narkoba berada pada kelompok usia produktif, yakni 15 hingga 35 tahun. Khusus untuk usia remaja atau pelajar antara 15 hingga 25 tahun, ditemukan sekitar 312.000 orang yang sudah terpapar narkotika. Data ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman narkoba terhadap generasi muda Indonesia.
"Usia remaja ini adalah usia yang paling rentan karena mereka selalu ingin mengetahui banyak hal, baik aspek positif maupun negatif. Masalahnya, anak-anak remaja ini selalu ingin tahu tentang hal-hal yang baru, termasuk dalam dunia narkotika," ujar Suyudi Ario Seto menjelaskan mengapa remaja menjadi target utama peredaran narkoba.
Merespons kondisi darurat narkoba ini, BNN meluncurkan program unggulan bernama Ananda, singkatan dari Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak Bersinar (Bersih Narkoba). Program ini merupakan transformasi dari program sebelumnya yang dikenal dengan IKAN (Integrasi Kurikulum Anti Narkotika).
Program Ananda fokus pada pencegahan sejak dini dengan menyasar anak-anak sebagai target utama edukasi. BNN berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan, baik Dasmen maupun Dikti, pemerintah daerah, serta UN Odyssey sebagai penggiat PBB di bidang narkotika. Modul pembelajaran disesuaikan dengan standar internasional dan diharapkan dapat masuk ke sekolah-sekolah dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
Suyudi menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi anak-anak. "Orang tua harus paham apa itu narkotika, apa dampaknya, bahayanya, jenisnya, dan ciri-cirinya. Jangan sampai anak-anak kita sudah larut jauh, orang tua tidak mengerti padahal ciri-cirinya sudah kelihatan secara fisik," tegasnya.
Kepala BNN mengungkapkan bahwa bandar narkotika kini semakin lihai dengan berbagai modus operandi baru. Narkoba tidak lagi hanya berbentuk sabu, ganja, ekstasi, heroin, atau kokain. Kini muncul narkotika jenis baru yang bersifat sintetis dan kimiawi yang dikenal sebagai NPS (New Psychoactive Substances).
Bentuk narkoba jenis baru ini sangat beragam dan menyamar sebagai barang sehari-hari seperti permen, makanan ringan, hingga isi ulang rokok elektrik. "Di kartrid dan isi ulang yang disuntik itulah yang banyak kita ungkap, ternyata isinya mengandung narkotika jenis baru yang sangat berbahaya," jelas Suyudi.
Operasi Serentak Amankan 1.290 Orang
BNN bersama Polri, TNI, dan pemerintah daerah baru-baru ini melakukan operasi penindakan serentak dari Sabang sampai Merauke. Operasi tersebut berhasil mengamankan 1.290 orang yang terkait narkotika, dengan 350 orang di antaranya positif sebagai pengguna yang kemudian diarahkan untuk rehabilitasi, dan 37 bandar yang diproses hukum.
Dalam operasi di Kampung Bahari dan Kampung Ambon, Jakarta Utara, petugas berhasil menyita hampir 100 kilogram sabu, ratusan kilogram ganja, uang tunai hampir 5 miliar rupiah, uang palsu, 17 pucuk senjata api, serta emas batangan. Temuan ini membuktikan bahwa jaringan narkoba sangat terorganisir dan profesional.
Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat
BNN memiliki enam fasilitas rehabilitasi dan loka yang tersebar di berbagai daerah, termasuk Balai Besar di Lido, Deli Serdang, Lampung, dan Makassar. Selain itu, BNN mengembangkan program IBM (Intervensi Berbasis Masyarakat) di tingkat desa, IPWL (Intervensi Penerima Wajib Lapor) di puskesmas dan klinik, serta rehabilitasi keliling yang sudah beroperasi di 10 provinsi.
Program pemulihan juga dilakukan di Kampung Bahari yang sebelumnya dikenal sebagai sarang narkoba. BNN bekerja sama dengan Pemda DKI Jakarta, Polri, dan tokoh agama setempat untuk mengubah kampung narkoba menjadi kampung harapan melalui pemberdayaan masyarakat yang disesuaikan dengan kearifan lokal.
Suyudi menutup wawancara dengan pesan tegas kepada masyarakat, terutama generasi muda. "Jauhi pergaulan, tawaran, dan ajakan narkotika dalam bentuk apapun. Pilihlah kegiatan positif seperti olahraga dan seni. Jaga diri, jaga teman, dan jaga masa depan. Mari kita jaga Indonesia untuk menjadi Indonesia yang bersinar, bersih narkoba," pungkasnya. (*)