BLITAR - IPO saham SUPA kembali menjadi sorotan pelaku pasar modal. Kali ini bukan soal harga atau prospek bisnisnya, melainkan adanya penambahan underwriter menjelang masa offering. Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah BQ Korean Investment, yang rekam jejaknya dinilai kontroversial oleh sebagian investor ritel.
Dalam pembahasan video pasar saham terbaru, disebutkan bahwa IPO saham SUPA kini berpotensi memiliki hingga enam underwriter, meski komposisinya masih bisa berubah karena proses masih berada di fase book building. Kondisi ini menjadi pengingat bagi investor agar lebih berhati-hati dan disarankan menunggu masa offering saat seluruh skema sudah final.
IPO saham SUPA sendiri dinilai memiliki fundamental perusahaan yang menarik. Namun, perubahan underwriter menjelang penawaran umum membuat sebagian investor kembali mengkaji ulang risiko, terutama setelah munculnya nama BQ Korean Investment.
Penambahan Underwriter IPO Saham SUPA
Selain Bahana Sekuritas yang dinilai relatif netral, masuknya BQ Korean Investment justru memunculkan kekhawatiran. BQ disebut pernah terlibat kasus serius pada IPO saham PMUI yang terjadi pada Juli 2024 lalu.
Kala itu, IPO PMUI menjadi sorotan karena terjadi penjatahan 100 persen, baik jatah atas maupun jatah bawah. Fenomena ini bukan karena kualitas perusahaan yang buruk, melainkan lemahnya penyerapan saham oleh pasar dan peran underwriter yang dipertanyakan.
Kasus PMUI Jadi Catatan Merah
Dalam kasus IPO PMUI, skema yang digunakan adalah full commitment, yang seharusnya mewajibkan penjamin emisi menyerap seluruh saham yang tidak terserap publik. Namun kenyataannya, dari total saham yang ditawarkan, IPO tersebut hanya mampu menyerap sekitar 25 persen, sementara sisanya tidak diambil oleh underwriter.
BQ Korean Investment kala itu dinilai tidak menjalankan komitmennya. Bahkan, sehari menjelang pencatatan saham, IPO PMUI sempat dikabarkan nyaris batal dan menghilang dari sistem. Investor sempat khawatir dana akan dikembalikan.
Meski akhirnya tetap listing, saham PMUI langsung mengalami auto reject bawah (ARB) dan menimbulkan kerugian besar bagi investor ritel. Ironisnya, saham yang tidak terserap justru disebut diambil langsung oleh pemilik perusahaan dengan dana pribadi, bukan oleh underwriter.
Underwriter Dinilai Gagal Jalankan Peran
Analis dalam video menilai kegagalan IPO PMUI bukan berasal dari kualitas perusahaan, melainkan murni dari sisi underwriter. Ada dua kemungkinan yang disorot. Pertama, underwriter diduga tidak memiliki dana yang cukup untuk menyerap sisa saham IPO. Kedua, tidak mampu mencari investor strategis untuk menampung saham yang tidak laku.
Kedua faktor tersebut dinilai fatal, karena underwriter seharusnya memiliki kekuatan finansial dan jaringan investor yang memadai. “Kalau tidak punya duit dan tidak bisa cari investor, berarti gagal total sebagai underwriter,” ungkapnya.
Kenapa BQ Bisa Muncul Lagi di IPO Saham SUPA?
Masuknya kembali BQ Korean Investment sebagai calon underwriter IPO saham SUPA menimbulkan tanda tanya besar. Banyak investor mempertanyakan bagaimana pihak bursa bisa kembali meloloskan underwriter dengan rekam jejak seperti itu.
Setelah enam bulan berlalu dari kasus PMUI, BQ kembali muncul dalam IPO besar yang sudah lama dinantikan investor. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa IPO saham SUPA berpotensi “terganggu” jika terjadi masalah serupa.
Investor Diminta Lebih Selektif
Meski demikian, analis menegaskan bahwa secara fundamental, perusahaan di balik IPO saham SUPA dinilai bagus. Kekhawatiran utama justru terletak pada kualitas dan komitmen underwriter yang terlibat.
Investor ritel diimbau untuk mencermati daftar penjamin emisi secara detail sebelum ikut serta dalam penawaran umum. Menunggu fase offering dinilai lebih aman dibanding masuk terlalu dini saat masih banyak perubahan.
IPO saham SUPA masih menjadi salah satu IPO paling dinanti. Namun, munculnya kembali nama underwriter bermasalah menjadi catatan penting agar euforia tidak mengalahkan kehati-hatian.
Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi