BLITAR – Saham DADA kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan investor ritel. Emiten yang sempat “tidur” cukup lama di level gocap ini mendadak bangkit dan mencatatkan lonjakan harga serta volume transaksi yang luar biasa. Pergerakan saham DADA bahkan masuk jajaran top trending di pasar saham, memicu euforia sekaligus kekhawatiran akan potensi jebakan bandar.
Kebangkitan saham DADA bermula ketika harga berada di level terendah 50. Sekitar pukul 10.00 WIB, saham ini tiba-tiba diangkat secara agresif. Dalam waktu singkat, harga melonjak tajam sebelum akhirnya mengalami tekanan menjelang sesi kedua. Meski sempat dibanting, saham DADA kembali bangkit dan ditutup di level 60, memunculkan spekulasi kuat adanya permainan bandar di balik layar.
Saham DADA Bangun dari Tidur Panjang
Berdasarkan riwayat pergerakan harga, saham DADA telah berada di level gocap sejak Oktober 2025 atau hampir dua bulan lamanya. Selama periode tersebut, pergerakan harga relatif stagnan. Namun memasuki Januari 2026, saham ini mendadak aktif dan menunjukkan volatilitas tinggi.
Pada hari perdagangan tersebut, saham DADA mencatatkan harga tertinggi di level 67 atau menyentuh auto reject atas (ARA). Sementara level terendah tetap di 50, yang merupakan batas bawah harga saham ini. Lonjakan ini membuat banyak investor ritel tergoda untuk ikut masuk, terutama mereka yang melihat peluang cuan cepat.
Volume Transaksi Fantastis, Tembus Rp553 Miliar
Salah satu indikator paling mencolok dari pergerakan saham DADA adalah volume transaksi yang mencapai 93 juta lot. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp553 miliar, menjadikannya salah satu saham dengan aktivitas perdagangan terbesar pada hari itu.
Volume tersebut merupakan yang tertinggi sejak saham DADA keluar dari status suspensi dan mengalami penurunan tajam sebelumnya. Bahkan, dari sisi volume, saham DADA sempat mengungguli saham-saham besar lain yang biasanya mendominasi transaksi harian di Bursa Efek Indonesia.
Bandar MG Disebut Jadi Penggerak Awal
Dari analisis broker summary, terungkap bahwa broker MG diduga menjadi pihak yang membangunkan saham DADA. Aksi akumulasi MG terlihat jelas sejak awal kenaikan harga. Pergerakan ini kemudian diikuti oleh broker lain seperti XL, XC, dan CC yang turut melakukan pembelian.
Namun, situasi berubah saat saham mendekati level ARA. Tekanan jual besar muncul dari broker AI yang melepas sekitar 5,8 juta lot di harga 67. Aksi ini membongkar tembok jual dan memicu penurunan harga secara cepat. Banyak investor ritel yang masuk di harga atas akhirnya terjebak.
Investor Ritel Diminta Tidak Terjebak Euforia
Fenomena saham DADA ini kembali menjadi pengingat penting bagi investor ritel agar tidak mudah terbawa euforia. Pola klasik “diangkat lalu dibanting” kembali terlihat jelas. Saham yang naik cepat tanpa didukung sentimen fundamental kuat berisiko tinggi mengalami koreksi tajam.
Bagi investor yang sudah lama nyangkut di level 50, kenaikan ini tentu menjadi peluang untuk keluar dengan keuntungan sekitar 20 persen atau lebih. Namun bagi yang baru masuk saat harga sudah tinggi, risiko kerugian justru jauh lebih besar.
Potensi Tidur Lagi Masih Terbuka
Dengan dominasi aksi bandar dan minimnya sentimen fundamental, saham DADA masih berpotensi kembali “tidur” di level gocap. Pergerakan harga ke depan akan sangat bergantung pada aksi lanjutan para pemain besar. Jika distribusi berlanjut, bukan tidak mungkin saham ini kembali melemah.
Analis menyarankan investor ritel untuk lebih selektif dalam memilih saham, terutama bagi mereka yang berorientasi trading jangka pendek. Saham dengan pergerakan ekstrem seperti DADA memang menawarkan peluang cuan besar, namun risikonya juga tidak kalah tinggi.(*)
Editor : Rendra Febrian Permana