BLITAR – Pergerakan IHSG hari ini berpotensi rebound setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 0,58 persen ke level 8.884,72. Tekanan jual yang sempat terjadi dinilai mulai mereda, seiring masih adanya aliran dana asing yang mencatatkan net buy sekitar Rp25 miliar. Kondisi ini membuka peluang penguatan lanjutan apabila indeks mampu bertahan di area support krusial.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyampaikan bahwa IHSG hari ini berpotensi rebound secara teknikal jika mampu bertahan di atas level 8.870. Menurutnya, area tersebut menjadi penentu arah jangka pendek pergerakan indeks, terutama setelah koreksi yang terjadi dalam dua sesi terakhir.
“Selama IHSG bisa bertahan di support 8.870, peluang rebound masih terbuka. Support bawah berada di kisaran 8.720 sampai 8.780, sementara resistance terdekat ada di rentang 8.930 hingga 9.006,” ujar Fanny dalam paparan di IDX Channel.
Selain itu, IHSG hari ini berpotensi rebound juga ditopang oleh aktivitas beli investor asing yang masih selektif. Saham-saham yang paling banyak diborong asing antara lain BBRI, ANTM, TLKM, ADRO, dan IMPC. Masuknya dana asing ini menjadi sinyal bahwa pelaku pasar global belum sepenuhnya meninggalkan pasar saham domestik.
Aliran Dana Asing Masih Jadi Penopang IHSG
Net buy asing yang tercatat meski IHSG terkoreksi menunjukkan adanya kepercayaan terhadap prospek pasar. Saham perbankan besar, energi, hingga komoditas masih menjadi incaran karena dinilai memiliki fundamental relatif kuat. Kondisi ini membuat tekanan koreksi IHSG tidak terlalu dalam dan cenderung bersifat teknikal.
Dari sisi sektoral, saham-saham berbasis komoditas seperti energi dan emas juga masih menarik secara teknikal. Fanny menyebutkan beberapa saham pilihan yang layak dicermati, di antaranya PGAS, ADRO, serta saham-saham yang berkaitan dengan emas, seiring volatilitas global yang masih tinggi.
Saham Properti Mulai Bergerak Setelah Konsolidasi
Menariknya, fokus investor belakangan juga tertuju pada saham-saham properti non-bank yang mulai menunjukkan laju penguatan signifikan. Analis menilai pergerakan ini lebih didorong faktor teknikal setelah saham-saham tersebut mengalami fase konsolidasi cukup panjang.
“Secara teknikal, saham properti ini sudah lama konsolidasi dan sekarang mulai breakout. Istilahnya flat base breakout, sehingga ada tanda-tanda mulai masuk fase rally,” jelas analis pasar modal Halim dalam diskusi yang sama.
Ia menambahkan, sentimen tambahan bisa datang dari kebijakan lanjutan penghapusan atau perpanjangan insentif PPN sektor properti. Meski demikian, menurutnya, rally yang terjadi saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor teknikal dibandingkan fundamental jangka pendek.
Rekomendasi Saham: ASRI hingga AADI
Untuk saham properti, ASRI direkomendasikan buy on weakness di kisaran 180–185 dengan stop loss di bawah 165. Target penguatan diperkirakan menuju area 220 dalam jangka menengah sekitar dua hingga tiga bulan, sambil menunggu rilis laporan keuangan kuartal I.
Saham properti lainnya, SMRA, juga masih menarik meski penutupan terakhir kurang solid. Buy on weakness disarankan di area 390–400 dengan stop loss di bawah 380. Target terdekat berada di kisaran 420 hingga 440.
Dari sektor energi, MEDC (Medco Energi) dinilai memiliki prospek positif seiring kepemilikannya di Amman Mineral, yang smelternya mulai beroperasi kembali. Hal ini diperkirakan akan memperbaiki kinerja laba perusahaan. MEDC dapat dicermati di area dekat 1.500 dengan stop loss di bawah 1.400 dan target penguatan 1.650 hingga 1.740.
Sementara itu, saham batu bara AADI juga direkomendasikan buy on weakness. Setelah rally dan mengalami pullback dengan volume rendah, saham ini dinilai menarik untuk re-entry. Level stop loss berada di bawah 6.900, dengan target jangka menengah di kisaran 7.600–7.650, mendekati moving average 50.
Keputusan Tetap di Tangan Investor
Meski IHSG hari ini berpotensi rebound dan sejumlah saham mulai menunjukkan sinyal teknikal positif, analis mengingatkan bahwa keputusan investasi tetap berada di tangan investor. Manajemen risiko melalui penentuan stop loss dan disiplin strategi tetap menjadi kunci di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.(*)
Editor : Rendra Febrian Permana