BLITAR – Asal-usul nama Blitar tidak bisa dilepaskan dari pergolakan besar di tanah Jawa pada penghujung abad ke-13, tepatnya saat runtuhnya Kerajaan Singhasari dan berdirinya Majapahit. Kisah ini berawal dari perjuangan Raden Wijaya yang berhasil bangkit dari kekacauan politik setelah serangan Jayakatwang dari Kediri.
Di tengah situasi genting tersebut, datang ancaman baru dari luar Nusantara. Kaisar Kubilai Khan dari Dinasti Yuan Mongol mengirim armada besar ke Jawa untuk menghukum Kertanegara. Raden Wijaya memanfaatkan situasi ini dengan cerdik. Ia bersekutu sementara dengan pasukan Mongol untuk menumbangkan Jayakatwang, sebelum akhirnya berbalik menyerang dan memukul mundur pasukan Tartar dari tanah Jawa.
Keberhasilan mengusir pasukan Mongol menjadi tonggak berdirinya Kerajaan Majapahit. Raden Wijaya kemudian naik takhta sebagai raja pertama bergelar Kertarajasa Jayawardhana. Namun, tantangan belum berakhir. Konsolidasi wilayah dan pengamanan daerah pinggiran menjadi agenda penting pada masa awal Majapahit berdiri.
Peran Nila Swarna dalam Sejarah Blitar
Salah satu kawasan strategis yang mendapat perhatian khusus adalah wilayah hutan lebat di selatan Sungai Brantas dan Gunung Kelud. Kawasan ini dinilai rawan menjadi tempat persembunyian sisa-sisa pasukan Tartar maupun kelompok penentang Majapahit. Untuk itu, Raden Wijaya menunjuk seorang pengikut setianya, Nila Swarna.
Nila Swarna dikenal sebagai sosok pemberani, setia, dan berpengalaman di medan perang. Ia termasuk dalam pasukan inti yang terlibat dalam pengusiran tentara Mongol. Loyalitas dan kemampuannya membuat Raden Wijaya mempercayakan tugas berat kepadanya, yakni memimpin pembukaan hutan belantara di selatan Brantas.
Tugas tersebut bukan sekadar membuka lahan, tetapi juga memastikan wilayah itu benar-benar aman dari ancaman. Jika berhasil, Nila Swarna dijanjikan kedudukan sebagai adipati dan penguasa wilayah baru tersebut.
Babat Alas dan Awal Mula Blitar
Dengan membawa pengikut dan perbekalan, Nila Swarna menyeberangi Sungai Brantas dan memasuki hutan lebat yang masih liar. Proses babat alas berlangsung penuh tantangan. Pepohonan raksasa, semak belukar, binatang buas, serta ancaman penyakit menjadi rintangan sehari-hari.
Nila Swarna tidak hanya memimpin dari belakang. Ia turut bekerja bersama pengikutnya, menunjukkan keteladanan dan keteguhan. Perlahan, area hutan berhasil dibuka hingga terbentuk pemukiman awal yang aman dan layak huni.
Selain menghadapi alam, rombongan ini juga waspada terhadap sisa-sisa pasukan Tartar yang diduga melarikan diri ke wilayah selatan. Keberhasilan membersihkan kawasan ini dari ancaman asing menjadi cerita yang berkembang di masyarakat.
Dari Bali Tartar Menjadi Blitar
Menurut kisah tutur yang paling populer, keberhasilan Nila Swarna memastikan mundurnya pasukan Tartar melahirkan istilah “Bali Tartar” atau “Baline Tartar”, yang berarti kembalinya pasukan Tartar. Seiring waktu, penyebutan tersebut mengalami perubahan pelafalan hingga akhirnya menjadi “Blitar”.
Nama Blitar kemudian melekat sebagai penanda wilayah yang berhasil diamankan dari ancaman asing. Kisah ini menjadi bagian penting dari memori kolektif masyarakat Blitar hingga kini.
Adipati Ario Blitar I dan Pengakuan Majapahit
Kabar keberhasilan Nila Swarna sampai ke telinga Raden Wijaya. Sesuai janji, ia dianugerahi gelar Adipati Ario Blitar I dan wilayah yang dibukanya ditetapkan sebagai Kadipaten Blitar. Pengukuhan ini sering dikaitkan dengan tanggal 5 Agustus 1324 Masehi, yang kemudian diperingati sebagai Hari Jadi Blitar.
Sejak saat itu, Blitar berkembang sebagai wilayah administratif penting di bawah Majapahit, hingga melewati berbagai era kekuasaan, mulai dari kerajaan Islam, kolonial Belanda, hingga menjadi Kabupaten Blitar dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kisah asal-usul nama Blitar yang berakar dari perjuangan Nila Swarna dan era Majapahit tetap hidup sebagai identitas sejarah dan kebanggaan masyarakat hingga hari ini. (*)
Editor : Vicky Hernanda