JAKARTA – Persija Jakarta berhasil meraih kemenangan penting atas Madura United dengan skor 2-0 dalam lanjutan kompetisi Super League. Bermain di hadapan pendukung sendiri, Macan Kemayoran tampil efektif meski tidak selalu dominan secara kreativitas permainan. Kunci kemenangan Persija pada laga ini terletak pada improvisasi taktik yang dilakukan pelatih Mauricio Souza, terutama dengan mendorong Jordi Ahmad sebagai pemain nomor 6 atau gelandang bertahan.
Sejak awal laga, Persija Jakarta menggunakan formasi dasar 4-3-3, sementara Madura United memilih pendekatan berbeda dengan formasi 3-5-2 yang berubah menjadi 5-3-2 saat bertahan. Struktur ini membuat Madura United terlihat sangat disiplin di area tengah dan belakang, menutup ruang antar lini Persija.
Mauricio Souza mengambil keputusan krusial dengan menempatkan Jordi Ahmad di posisi gelandang bertahan. Langkah ini dilakukan untuk mengeliminasi krisis sektor tengah yang sempat dialami Persija. Jordi yang biasanya beroperasi di lini belakang, didorong lebih ke depan untuk menjaga keseimbangan permainan sekaligus menjadi penghubung antara lini bertahan dan penyerangan.
Keputusan tersebut bukan tanpa dasar. Jordi Ahmad diketahui memiliki pengalaman bermain sebagai defensive midfielder saat membela Johor Darul Ta’zim. Dengan kecerdasan bermain dan kemampuan membaca permainan, Jordi dinilai mampu menutup ruang, memutus aliran bola lawan, serta mengatur tempo dari lini tengah.
Dalam fase membangun serangan, Persija menerapkan prinsip spread out, melebar dan memanjang. Maxwell tampil di sisi kiri, Witan Sulaeman menjaga lebar di kanan, sementara Gustavo Almeida berperan sebagai ujung tombak. Alano dan Aditia mengisi half space kiri dan kanan, dengan Jordi Ahmad menjadi jangkar di tengah.
Saat menyerang, struktur Persija berubah menjadi 2-3-5. Dua bek tengah, Rizky Ridho dan Tales Magno, menjaga area belakang, sementara kedua fullback, Doni Tri Pamungkas dan Rio Fahmi, naik membantu serangan. Jordi Ahmad berdiri tepat di depan dua bek tengah untuk menjaga keseimbangan dan mengantisipasi serangan balik.
Meski demikian, kreativitas Persija di area sentral terbilang terbatas. Disiplin Madura United dalam bertahan membuat sirkulasi bola Persija lebih banyak diarahkan ke sisi lapangan. Opsi bermain melalui tengah dinilai terlalu berisiko karena rapatnya barisan gelandang Madura.
Madura United sendiri terlihat kesulitan saat menginisiasi serangan. Baik melalui permainan kaki ke kaki maupun bola panjang, upaya mereka kerap tidak terukur. Akibatnya, pertandingan berjalan satu arah dengan Persija terus menekan, sementara Madura lebih fokus bertahan.
Kendati dominan, Persija Jakarta tidak sepenuhnya tampil eksplosif. Beberapa momen menunjukkan turunnya agresivitas serangan, terutama akibat adaptasi peran baru sejumlah pemain. Alano, misalnya, yang ditempatkan lebih ke dalam, terlihat kurang maksimal dan kerap bertukar posisi dengan Witan Sulaeman.
Namun, dalam sepak bola, kemenangan tidak selalu harus diraih lewat permainan indah. Persija Jakarta menunjukkan kedewasaan taktik dengan bermain lebih pragmatis. Gol pertama Persija lahir dari titik penalti setelah pelanggaran terhadap upaya crossing Maxwell yang dinilai wasit sah sebagai pelanggaran.
Gol kedua Persija juga kembali dicetak lewat eksekusi penalti, yang kembali berhasil dimanfaatkan Maxwell. Dua gol tersebut memastikan kemenangan 2-0 bagi Macan Kemayoran meski tidak tercipta dari skema open play.
Secara defensif, Persija tampil solid dengan struktur bertahan 4-4-2. Madura United mencoba meningkatkan tempo di akhir laga, namun tetap kesulitan menembus pertahanan Persija. Minimnya kolektivitas dan kualitas duel satu lawan satu membuat upaya Madura tidak membuahkan hasil.
Secara keseluruhan, improvisasi Mauricio Souza dengan menempatkan Jordi Ahmad sebagai gelandang bertahan dinilai sebagai solusi realistis untuk menambal kekurangan Persija di lini tengah. Meski masih menyisakan catatan, terutama soal transisi bertahan, strategi ini terbukti efektif mengantarkan Persija Jakarta meraih tiga poin penting.
Editor : Dyah Wulandari