Saga Federico Barba Memanas: Tawaran Pescara Dinilai Merugikan, Persib Bandung Tegas Tolak dan Kirim Sinyal Tak Bisa Lagi Diremehkan
Novica Satya Nadianti• Minggu, 25 Januari 2026 | 18:00 WIB
Saga Federico Barba memanas setelah Persib Bandung menolak tawaran Pescara yang dinilai merugikan dan tak menghormati kontrak.
BANDUNG – Ada satu ironi yang belakangan membuat suasana di skuad Persib Bandung terasa berbeda. Di tengah stabilitas tim dan euforia kemenangan pada laga El Clasico beberapa waktu lalu, justru muncul pemandangan yang memicu tanda tanya besar. Federico Barba, pilar utama lini pertahanan Maung Bandung, terlihat tidak bahagia saat menjalani sesi latihan dalam beberapa hari terakhir.
Situasi itu bukan tanpa sebab. Bek asal Italia tersebut dikabarkan memiliki keinginan kuat untuk pulang kampung dan kembali berkarier di Eropa. Namun di sisi lain, Federico Barba Persib Bandung bukanlah pemain pinjaman yang bisa dilepas dengan mudah. Ia adalah aset utama klub, bagian dari proyek jangka panjang, dan masih terikat kontrak yang kuat.
Persib Bandung sejak awal mengambil satu sikap jelas. Jika ada klub lain yang ingin mendapatkan Federico Barba, maka tawaran harus datang dengan proposal yang layak dan menghormati kontrak sang pemain.
Bukan setengah-setengah. Apalagi gratis.
Sikap tegas inilah yang kemudian memicu tarik-ulur kepentingan antara keinginan pemain, strategi klub Eropa, dan ketegasan manajemen Persib Bandung. Drama ini pun berkembang bukan seperti transfer pada umumnya, melainkan adu strategi di meja negosiasi internasional.
Pescara dan Proposal Kontroversial
Salah satu klub yang paling serius meminati Federico Barba adalah Pescara, klub Serie B Italia. Sejak awal musim, mereka disebut diam-diam terus memantau perkembangan bek kelahiran Roma tersebut.
Nama Barba bukan sosok asing bagi sepak bola Italia. Ia tumbuh dan berkembang di sana, sehingga Pescara merasa memiliki jalur emosional untuk “memanggil pulang” sang pemain.
Namun cerita berubah rumit ketika detail pendekatan mereka terbongkar ke publik.
Media transfer Italia yang sangat kredibel, TuttoMercatoWeb, mempublikasikan isi proposal yang diajukan Pescara kepada Persib Bandung. Bukan tawaran transfer permanen dengan nilai jelas, melainkan skema peminjaman selama enam bulan dengan biaya sangat rendah—bahkan nyaris gratis.
Lebih jauh, proposal itu disertai opsi pembelian yang hanya akan aktif jika Pescara berhasil bertahan di Serie B.
Skema tersebut langsung menuai kritik, termasuk dari media Italia sendiri. Dalam bahasa paling sederhana, Persib Bandung diminta melepas bek utamanya di tengah musim tanpa jaminan kompensasi layak, tanpa kepastian pembelian, dan dengan risiko penuh jika Barba mengalami cedera atau performanya menurun.
Keuntungan sepenuhnya berada di pihak Pescara. Sementara potensi kerugian finansial dan teknis harus ditanggung Persib Bandung.
TuttoMercatoWeb bahkan menilai pendekatan Pescara terlalu berat sebelah dan secara tersirat menyebut adanya upaya tekanan psikologis, memanfaatkan keinginan pribadi Barba untuk kembali ke Italia sebagai alat negosiasi.
Menariknya, Persib Bandung tidak terpancing. Manajemen klub menolak tawaran tersebut secara mentah-mentah. Bukan sekadar penolakan transfer, melainkan pernyataan sikap.
Persib tidak silau dengan label sepak bola Eropa, tidak tergoda romantisme pulang kampung, dan tidak rela melepas aset terpentingnya dengan skema yang merugikan.
Penolakan ini menjadi sinyal kuat bahwa hari ini Persib Bandung bukan lagi klub yang bisa ditekan seenaknya di meja negosiasi internasional.
Di sisi lain, Federico Barba tetap menjalani latihan bersama Persib Bandung. Ia masih mengenakan seragam Maung Bandung, masih berada di tengah rekan setimnya. Namun kamera menangkap perubahan.
Ekspresi yang lebih murung, wajah yang tak lagi seceria awal kedatangannya. Sebuah potret kecil tentang pergulatan batin seorang pemain yang terjebak di antara kontrak profesional dan keinginan pribadi.
Saga ini pun belum sepenuhnya usai. Selain Pescara, rumor menyebut klub lain seperti Aris FC dari Yunani juga ikut memantau situasi Barba.
Namun satu hal kini jelas. Saga transfer Federico Barba bukan sekadar isu perpindahan pemain. Ini adalah potret bagaimana sepak bola Indonesia hari ini mulai berdiri tegak—memahami nilai pemain, memahami kontrak, dan berani menjaga harga diri klub di hadapan tekanan global.