JAKARTA - Persebaya Surabaya kembali menjadi pusat perhatian bursa transfer paruh musim Super League 2025–2026. Sinyal kedatangan pemain anyar asal Brasil semakin menguat setelah Bruno Paraiba resmi mengumumkan perpisahannya dengan klub Korea Selatan, Cheonan City. Kabar ini langsung memanaskan rumor kepindahan sang pemain ke Persebaya Surabaya dan memantik antusiasme Bonek.
Pengumuman perpisahan Bruno Paraiba disampaikan langsung oleh Cheonan City melalui kanal resmi klub. Dalam unggahan tersebut, Cheonan City menutup kebersamaan singkat namun berkesan dengan gelandang asal Brasil itu. Keputusan berpisah lebih cepat dari kontrak awal memunculkan spekulasi kuat mengenai pelabuhan baru Bruno Paraiba.
Nama Persebaya Surabaya pun langsung mencuat sebagai kandidat terkuat. Rumor kepindahan ini sejatinya sudah berembus sejak beberapa waktu lalu, terutama setelah Persebaya Surabaya memasuki era kepelatihan Bernardo Tavares yang dikenal selektif dalam merekrut pemain asing.
Bruno Paraiba Tinggalkan Cheonan City Lebih Cepat
Sebelum hengkang, Bruno Paraiba tercatat resmi bergabung dengan Cheonan City pada 24 Juli 2025. Kontraknya sejatinya masih berlaku hingga 6 Januari 2026. Namun, perpisahan lebih awal ini menandakan adanya kesepakatan khusus atau rencana besar dalam perjalanan karier sang pemain.
Jika resmi berseragam Persebaya Surabaya, Bruno Paraiba diprediksi langsung menjadi pilar penting di lini tengah. Gaya bermainnya dinilai cocok dengan karakter Liga Indonesia yang mengandalkan fisik, determinasi, dan tempo tinggi.
Bernardo Tavares dikenal menyukai gelandang pekerja keras dengan kemampuan distribusi bola yang baik. Profil Bruno Paraiba dianggap selaras dengan kebutuhan tersebut, terutama untuk menambah keseimbangan permainan Green Force.
Nilai Transfer dan Profil Pemain
Bruno Paraiba, atau bernama lengkap Bruno Pereira de Albuquerque, lahir di João Pessoa, Brasil, pada 20 Juli 1994. Kini berusia 31 tahun, ia berada di fase matang sebagai gelandang berpengalaman. Nilai pasarnya dikabarkan mencapai Rp3,04 miliar, angka yang cukup signifikan untuk bursa transfer Super League.
Pengalamannya bermain di berbagai kompetisi luar negeri membuat ekspektasi publik Surabaya langsung meninggi. Jika resmi bergabung, Bruno Paraiba berpotensi menjadi jenderal lapangan tengah Persebaya Surabaya, mengatur tempo sekaligus membantu transisi menyerang.
Jefferson Silva Ikut Jadi Sorotan
Selain Bruno Paraiba, satu nama lain asal Brasil juga mencuri perhatian. Jefferson Silva, bek kiri yang saat ini tercatat sebagai pemain Operário Ferroviário Esporte Clube, dikabarkan masuk radar Persebaya Surabaya.
Rumor kedatangan Jefferson Silva diperkuat oleh unggahan akun spesialis bursa transfer yang menyebut proses kepindahan sudah mendekati tahap akhir. Bek kiri berusia matang ini dinilai cocok dengan filosofi Bernardo Tavares yang mengutamakan disiplin, fisik kuat, dan kemampuan bertahan sekaligus menyerang.
Jefferson Silva bergabung dengan Operário Ferroviário pada 8 April 2025. Status kontraknya memang tidak diumumkan secara detail ke publik, namun situasi ini membuka peluang terjadinya transfer ke Liga Indonesia.
Sinyal Serius Persebaya Surabaya
Masuknya dua nama asal Brasil ini menegaskan keseriusan Persebaya Surabaya dalam membangun skuad kompetitif. Bursa transfer kali ini terasa berbeda dengan pendekatan yang lebih terukur dan berorientasi jangka menengah.
Langkah agresif ini juga tak lepas dari performa positif Persebaya Surabaya di lapangan. Terbaru, Green Force berhasil naik ke peringkat lima klasemen Super League 2025–2026 setelah menang tipis 1-0 atas Madura United di pekan ke-16.
Gol tunggal kemenangan dicetak Bruno Moreira pada menit ke-72 berkat assist Malik Risaldi. Kemenangan di laga Derbi Suramadu tersebut menjadi modal penting bagi Persebaya Surabaya untuk terus bersaing di papan atas.
Kini publik hanya tinggal menunggu pengumuman resmi dari manajemen. Jika transfer ini terealisasi, Bruno Paraiba berpeluang menjadi salah satu rekrutan paling menarik di Super League musim ini, sekaligus memperkuat sinyal bahwa Persebaya Surabaya siap menjadi ancaman serius di papan atas.
Editor : Dyah Wulandari