SURABAYA - Sepak bola kerap disebut sebagai pesta. Sorak sorai, kemenangan, dan euforia menjadi wajah utamanya. Namun di balik gemerlap itu, sepak bola juga menyimpan sisi kelam. Cedera, penderitaan, hingga kematian pernah menghantui lapangan hijau. Salah satu kisah paling tragis dalam sejarah sepak bola nasional adalah saat Eri Irianto meninggal dunia ketika masih aktif membela Persebaya Surabaya.
Eri Irianto lahir di Sidoarjo pada 12 Januari 1974. Bakatnya sebagai pesepak bola sudah terlihat sejak usia muda. Di usia 20 tahun, ia mulai mencuri perhatian publik saat memperkuat Petrokimia Putra, klub Galatama asal Gresik, pada gelaran Liga Indonesia edisi pertama.
Bersama Petrokimia Putra, Eri tampil mengesankan. Klub tersebut berhasil menjadi juara wilayah timur babak delapan besar. Mereka menahan Persib Bandung 0-0, bermain imbang 2-2 melawan Assyabab Salim Group Surabaya, dan menghajar Medan Jaya 3-0. Di semifinal, Petrokimia Putra menyingkirkan Pupuk Kaltim 1-0 sebelum akhirnya harus mengakui keunggulan Persib Bandung 0-1 di partai final.
Bersinar Bersama Timnas Indonesia
Penampilan konsisten Eri Irianto mengantarkannya ke Timnas Indonesia. Pada SEA Games 1995 di Chiang Mai, Thailand, Eri tampil luar biasa saat Indonesia menghadapi Kamboja. Bermain di lini tengah, ia menjadi motor permainan dan mencetak empat gol dalam kemenangan telak 10-0.
Tak berhenti di situ, Eri kembali dipercaya memperkuat Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Asia 1996. Ia turut ambil bagian saat Indonesia membantai India 7-1 dan menahan Malaysia 0-0. Kreasi permainan Eri membuat lini tengah Garuda tampil solid, sementara gawang Indonesia hanya kebobolan satu kali sepanjang kualifikasi.
Dari Malaysia ke Persebaya Surabaya
Tahun 1996, klub Malaysia Kuala Lumpur FA sempat merekrut Eri Irianto. Namun kariernya di Negeri Jiran tak berlangsung lama. Ia kemudian kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Persebaya Surabaya pada musim kompetisi 1998–1999.
Bersama Bajul Ijo, Eri kembali merasakan pahitnya kekalahan di final. Persebaya harus tunduk 0-1 dari PSIS Semarang. Kekalahan tersebut seolah mengulang luka lama saat Eri gagal meraih gelar bersama Petrokimia Putra pada 1995. Dua final, dua kekalahan, dan dua luka mendalam dalam kariernya.
Tragedi di Gelora 10 November
Hari naas itu terjadi pada 3 April 2000. Eri Irianto terlihat sehat dan siap membela Persebaya melawan PSIM Yogyakarta di Stadion Gelora 10 November. Namun satu menit sebelum turun minum, ia tiba-tiba limbung dan mengeluh sakit kepala.
Eri meminta ditarik keluar dan digantikan Nova Arianto. Di bangku cadangan, kondisinya terus memburuk. Napasnya sesak, tubuhnya terasa panas, dan rasa sakit di kepala semakin hebat. Tim medis segera membawanya ke Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, termasuk rontgen dan CT scan, dokter sempat menyatakan kondisinya normal. Namun Eri tetap mengeluh tidak nyaman dan akhirnya dirawat di ruang observasi intensif. Setelah hampir empat jam berjuang, Eri Irianto meninggal dunia pada malam hari itu.
Ia wafat hanya dua minggu setelah menikahi Riska Putri Nelumsari. Publik Gresik, Surabaya, hingga Kuala Lumpur larut dalam duka.
Warisan Abadi Nomor 19
Kepergian Eri Irianto meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh bagi Persebaya dan Bonek. Nomor punggung 19 miliknya resmi dipensiunkan. Wisma Persebaya di Jalan Karanggayam 1 Surabaya juga diabadikan dengan namanya, menjadi Wisma Eri Irianto.
Hampir 23 tahun setelah wafatnya, nama Eri tetap hidup. Ia dikenang sebagai inspirasi, simbol loyalitas, dan salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Persebaya Surabaya. Sepak bola mungkin kejam, namun kisah Eri Irianto menjadikannya abadi.
Editor : Dyah Wulandari