SURABAYA - Membahas Persebaya Surabaya seakan tak pernah ada habisnya. Klub berjuluk Bajul Ijo ini dikenal sebagai salah satu tim dengan sejarah panjang penggunaan pemain asing sejak era Liga Indonesia. Sejak 1995, Persebaya telah diperkuat legiun impor dari berbagai penjuru dunia, mulai Eropa, Afrika, Asia Timur, Amerika Selatan, hingga Australia.
Dari sekian banyak nama yang pernah berseragam hijau, ada beberapa pemain asing yang kiprahnya begitu membekas. Mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan aktor utama dalam masa-masa kejayaan Persebaya. Berikut lima pemain asing Persebaya terbaik sepanjang masa versi kami, dari era Liga Indonesia hingga Liga 1.
Cheng Cheng, Kiper Muda yang Penuh Kejutan
Nama Cheng Cheng mungkin tak selama pemain lain membela Persebaya, namun kontribusinya tetap diingat. Kiper asal Tiongkok ini bergabung pada 2005 dengan status pinjaman saat usianya baru 18 tahun.
Cheng didatangkan untuk mengisi posisi penjaga gawang utama setelah kepergian kiper sebelumnya. Kepercayaan manajemen tak sia-sia. Bersama Persebaya, Cheng Cheng tampil dalam 28 pertandingan dan mencatatkan 14 clean sheet. Meski gagal membantu Bajul Ijo mempertahankan gelar juara, performanya dinilai solid dan matang untuk ukuran pemain muda.
Jackson F. Tiago, Mesin Gol Legendaris
Siapa yang tak mengenal Jackson F. Tiago? Striker asal Brasil ini adalah salah satu pemain asing Persebaya terbaik sepanjang sejarah. Bergabung pada musim 1996, Jackson langsung meledak di musim perdananya.
Gol debutnya tercipta saat Persebaya menang 4-1 atas Persijatim Jakarta. Musim itu, Jackson mencetak 26 gol dan keluar sebagai top skor Liga Indonesia. Kontribusinya membawa Persebaya meraih gelar juara setelah sembilan tahun puasa prestasi. Sosoknya yang ramah membuat Jackson tak hanya dicintai di lapangan, tetapi juga di luar stadion.
Cristian Carrasco, Striker Unik dengan Topeng Spider-Man
Cristian Carrasco mungkin tak setenar Jackson, namun kehadirannya memberi warna tersendiri. Striker asal Chile ini dikenal sebagai predator di kotak penalti.
Direkrut Persebaya pada 2004 setelah mencetak 24 gol bersama Persim Maros di Divisi Satu 2003, Carrasco dikenal lewat selebrasi ikoniknya menggunakan topeng Spider-Man. Aksi tersebut membuatnya mudah dikenang Bonek dan pecinta sepak bola nasional.
Leonardo Pires, Benteng Tangguh dari Chile
Leonardo Pires atau Leonardo PQRS merupakan salah satu pemain asing yang paling lama membela Persebaya. Pemain asal Chile ini memperkuat Bajul Ijo selama empat musim.
Berposisi sebagai stopper, Leonardo menjadi pilar utama di lini belakang. Musim perdananya dimulai pada 2003 saat Persebaya berlaga di Divisi Satu. Setahun berselang, ia berperan besar mengantarkan Persebaya menjadi kampiun pada 2004. Konsistensi dan kepemimpinannya menjadikannya salah satu bek asing terbaik yang pernah dimiliki Persebaya.
David Da Silva, Predator Modern Bajul Ijo
Nama terakhir dalam daftar pemain asing Persebaya terbaik adalah David Da Silva. Striker asal Brasil ini dikenal sebagai predator haus gol di era Liga 1.
Baca Juga: Apel Pagi Kantor Pertanahan Kabupaten Blitar Tekankan Peningkatan Kinerja PTSL 2026
Pada musim pertamanya bersama Persebaya pada 2018, David mencetak 20 gol dari 23 pertandingan. Torehan tersebut menjadikannya salah satu striker paling produktif di liga. Meski hanya bermain di paruh kedua Liga 1 2019, ia masih mampu mencetak 14 gol dari 17 laga.
Total, David Da Silva mengemas 34 gol di Liga 1 bersama Persebaya. Ia juga tercatat sebagai pencetak gol ke-825 Persebaya sejak klub ini berkompetisi di Liga Indonesia 1994/1995. Kecepatan, kekuatan fisik, dan insting golnya membuatnya begitu ditakuti lawan.
Warisan Legiun Asing Persebaya
Sejarah Persebaya tak bisa dilepaskan dari peran pemain asing. Lima nama di atas adalah bukti bahwa legiun impor mampu menjadi bagian penting dalam perjalanan klub. Dari penjaga gawang hingga striker mematikan, mereka telah mengukir cerita dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.
Daftar pemain asing Persebaya terbaik tentu bisa berbeda di mata setiap suporter. Namun satu hal pasti, kontribusi mereka telah memperkaya sejarah Bajul Ijo.
Editor : Dyah Wulandari