Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Persebaya Surabaya dari 1927 hingga Liga 1: Dari Perlawanan Pribumi, Dualisme Klub, hingga Bangkit Bersama Bonek

Dyah Wulandari • Senin, 26 Januari 2026 | 21:10 WIB

Sejarah Persebaya Surabaya sejak 1927, dari era Perserikatan, dualisme klub, hingga bangkit kembali ke Liga 1 bersama Bonek
Sejarah Persebaya Surabaya sejak 1927, dari era Perserikatan, dualisme klub, hingga bangkit kembali ke Liga 1 bersama Bonek

SURABAYA - Ada pepatah yang mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Prinsip itu pula yang melekat erat pada Persebaya Surabaya, salah satu klub sepak bola terbesar dan tertua di Indonesia. Sejarah panjang Persebaya bukan sekadar catatan prestasi, melainkan juga kisah perjuangan, konflik, dan loyalitas yang membentuk identitas klub hingga kini.

Sejarah Persebaya Surabaya bermula pada 18 Juni 1927. Klub ini didirikan oleh M. Pamoedji di Surabaya, Hindia Belanda, dengan nama Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Pendirian SIVB bertujuan menjadi wadah pemain sepak bola pribumi untuk menyaingi klub Soerabajasche Voetbal Bond (SVB), yang kala itu didominasi warga Belanda.

Persebaya dan Lahirnya PSSI

Tonggak penting perjalanan Persebaya terjadi pada 19 April 1930. M. Pamoedji mewakili SIVB menghadiri pertemuan klub-klub sepak bola se-Hindia Belanda di Societeit Hadiprojo, Yogyakarta. Pertemuan tersebut melahirkan Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (PSSI), yang kemudian berganti nama menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia.

Baca Juga: Levin Kurzawa Persib Bandung Jadi Transfer Bersejarah Liga 1, Disambut Bak Bintang Dunia, Maung Bandung Siap Tancap Gas di Putaran Kedua

Tak lama setelah PSSI berdiri, digelar kompetisi antarkota yang dikenal sebagai Kejurnas Perserikatan. SIVB menjadi salah satu peserta aktif dan terus berkembang hingga akhirnya menembus final Perserikatan musim 1939 di Solo, meski harus puas sebagai runner-up setelah kalah dari VJ Jakarta.

Pergantian Nama dan Era Kejayaan Perserikatan

Pada 1938, kepemimpinan klub berada di tangan Dr. Soewandi. Di era inilah nama SIVB diubah menjadi Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja (Persibaja). Perubahan nama kembali terjadi pada 1959 menjadi Persatuan Sepak Bola Surabaya atau Persebaya, yang digunakan hingga sekarang.

Baca Juga: Levin Kurzawa Persib Bandung Bikin Geger Liga Indonesia: Eks PSG Datang Tanpa Drama, Persija Balas dengan Ambisi Juara 500 Tahun Jakarta

Dalam era Perserikatan, sejarah Persebaya Surabaya diwarnai prestasi gemilang. Persebaya menjadi juara Perserikatan pada musim 1951/1952, 1978, dan 1988. Selain itu, Bajul Ijo juga lima kali finis sebagai runner-up, menegaskan statusnya sebagai salah satu tim raksasa bersama PSMS Medan, PSM Makassar, Persib Bandung, dan Persija Jakarta.

Liga Indonesia dan Kontroversi

Tahun 1994 menjadi babak baru sepak bola nasional. Kompetisi Perserikatan dan Galatama dilebur menjadi Liga Indonesia. Pada musim perdana, Persebaya belum mampu bersinar dan finis di papan tengah wilayah timur.

Baca Juga: Isu Kenaikan Pensiun ASN 2026 Ramai Sejak Januari, TASPEN Kediri Tegaskan Belum Ada Keputusan Pemerintah soal Gaji, Rapelan, dan Penyesuaian Pensiun

Perjalanan Persebaya tak selalu mulus. Musim 1988 mencatat kontroversi “sepak bola gajah” saat Persebaya kalah 0-12 dari Persipura Jayapura demi menyingkirkan PSIS Semarang. Meski kontroversial, Persebaya akhirnya menjadi juara usai mengalahkan Persija Jakarta di final.

Musim 2002 menjadi titik kelam lainnya. Aksi mogok tanding melawan PKT Bontang berujung sanksi pengurangan poin dan membuat Persebaya terdegradasi ke Divisi 1. Namun, hanya butuh satu musim bagi Persebaya untuk bangkit dan kembali promosi, bahkan menjadi juara Liga Indonesia 2004.

Dualisme Klub dan Perjuangan Legalitas

Sejarah Persebaya memasuki fase paling pelik pada 2009–2010. Dualisme klub muncul akibat konflik manajemen dan federasi. Persebaya versi PT Persebaya Indonesia memilih keluar dari kompetisi resmi dan mengikuti Liga Primer Indonesia dengan nama Persebaya 1927.

Baca Juga: Viking dan Bobotoh Padati GBLA, Levin Kurzawa Takjub Atmosfer Persib Jelang Duel Panas Lawan PSBS Biak

Sementara itu, slot Persebaya di kompetisi resmi diambil alih oleh klub lain yang menggunakan nama Persebaya, namun tidak mendapat dukungan Bonek. Suporter setia Persebaya tetap mendukung Persebaya 1927 meski harus terpinggirkan dari kompetisi resmi.

Pada 2015, PT Persebaya Indonesia memenangkan gugatan hak paten nama dan logo Persebaya. Legalitas klub pun kembali ke tangan Persebaya 1927. Setahun kemudian, Persebaya resmi disahkan kembali sebagai anggota PSSI.

Bangkit dan Kembali ke Liga 1

Persebaya memulai kembali dari Liga 2 musim 2017 dan langsung menjadi juara usai mengalahkan PSMS Medan di partai final. Promosi ke Liga 1 menjadi simbol kebangkitan Bajul Ijo.

Baca Juga: Jessie Lingard ke Persib Bandung? Rumor Mantan Bintang Manchester United Ini Mengguncang Liga 1 dan Bikin Bobotoh Geger

Pada Liga 1 2018, Persebaya finis di peringkat lima dan menjadi runner-up Piala Presiden 2019. Klub ini juga dikenal memiliki anthem kebanggaan “Song for Pride” dan didukung kelompok suporter legendaris, Bonek, yang berarti bondo nekat—bermodal tekad.

Sejarah Persebaya Surabaya adalah kisah tentang perjuangan, kesetiaan, dan semangat pantang menyerah yang terus hidup hingga hari ini

Editor : Dyah Wulandari
#bonek persebaya #persebaya 1927 #sejarah sepak bola indonesia #sejarah persebaya