Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah The Jakmania: Lahir dari 40 Pendiri di Kuningan, Dukungan Persija Jakarta, hingga Jadi Suporter Ikonik Ibu Kota

Dyah Wulandari • Selasa, 27 Januari 2026 | 18:55 WIB

Sejarah The Jakmania, dari deklarasi 40 pendiri di Kuningan hingga menjadi suporter ikonik Persija Jakarta dan kebanggaan ibu kota.
Sejarah The Jakmania, dari deklarasi 40 pendiri di Kuningan hingga menjadi suporter ikonik Persija Jakarta dan kebanggaan ibu kota.

JAKARTA – Sejarah The Jakmania tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang Persija Jakarta sebagai klub kebanggaan ibu kota. Organisasi suporter ini resmi berdiri pada 19 Desember 1997 melalui sebuah deklarasi sederhana namun bersejarah yang digelar di Graha Wisata Kuningan, Jakarta. Dari forum yang hanya dihadiri 40 orang tersebut, The Jakmania tumbuh menjadi salah satu kelompok suporter terbesar dan paling dikenal di Indonesia.

Deklarasi berdirinya The Jakmania mendapat dukungan penuh dari manajemen Persija Jakarta. Restu itu ditandai dengan kehadiran langsung Diza Rasyid Ali, yang saat itu menjabat sebagai manajer tim Persija. Kehadiran perwakilan klub menjadi sinyal kuat bahwa Persija membutuhkan wadah resmi bagi para pendukungnya agar dukungan terhadap tim lebih terorganisasi dan solid.

Dalam deklarasi tersebut, muncul sosok Muhammad Gunawan Hendro Martono atau yang lebih dikenal dengan nama Gugun Gondrong. Hampir seluruh peserta sepakat menunjuk Gugun sebagai ketua umum pertama dalam sejarah The Jakmania. Keputusan itu menandai dimulainya era baru dukungan suporter Persija Jakarta yang lebih terstruktur.

Baca Juga: Levin Kurzawa Persib Bandung Mengubah Segalanya, Aura Tim Eropa Muncul, Jersey Ludes, dan Kejutan Transfer Baru Mulai Tercium

Struktur Awal dan Sosok Pendiri The Jakmania

Di internal organisasi, 40 orang pendiri The Jakmania dikenal dengan sebutan JM 1 hingga JM 40. Gugun Gondrong tercatat sebagai JM 1 selaku ketua umum pertama. Sementara posisi wakil ketua umum dipegang oleh Ferry Indra Syarif. Dari total 40 pendiri tersebut, tiga orang berasal dari manajemen Persija Jakarta, yakni Diza Rasyid Ali, Mini Alqamar, dan Edi Sukatmo.

Usai terpilih, Gugun Gondrong langsung bergerak cepat. Ia menunjuk sejumlah peserta deklarasi sebagai pembantu pengurus untuk menjalankan roda organisasi. Dalam forum yang sama, disepakati pula bahwa masa kepengurusan The Jakmania berlangsung selama dua tahun. Setelah periode tersebut berakhir, organisasi wajib menggelar pemilihan kepengurusan baru secara demokratis.

Baca Juga: Persib Bandung vs PSBS Biak Bukan Sekadar Laga, Sinyal Kejutan Transfer Levin Kurzawa dan Pemain Baru Siap Diumumkan di GBLA

Kepemimpinan Ferry Indra Syarif

Seiring berakhirnya masa kepengurusan pertama, tongkat estafet kepemimpinan The Jakmania beralih ke Ferry Indra Syarif, yang akrab disapa Ferry. Ia memimpin pada periode 1999–2001 dan kembali dipercaya untuk menjabat ketua umum pada periode 2001–2003 serta 2003–2005.

Di bawah kepemimpinan Ferry Indra Syarif, The Jakmania mengalami perkembangan signifikan, baik dari sisi jumlah anggota maupun jaringan pendukung. Konsolidasi organisasi semakin kuat, menjadikan suporter Persija Jakarta memiliki identitas yang kian solid di kancah sepak bola nasional.

Baca Juga: Resmi! Livin Kurzawa Persib Bandung Diumumkan Usai Laga PSBS Biak, Maung Bandung Sekaligus Boyong Dion Mark

Asal-usul Nama The Jakmania

Pemilihan nama The Jakmania bukan tanpa alasan. Nama tersebut lahir dari keinginan para pendiri untuk menciptakan suasana baru dalam kultur suporter Persija Jakarta. Selain itu, penggunaan nama yang mudah diingat juga bertujuan agar identitas sebagai tim asal ibu kota lebih cepat dikenal publik.

Nuansa Barat dalam nama The Jakmania dipengaruhi oleh tren di kalangan anak muda pada era akhir 1990-an. Padahal sebelumnya, Persija Jakarta sangat identik dengan julukan “Macan Kemayoran” atau “Abang Jampang” yang kental dengan budaya Betawi. Namun seiring waktu, nama The Jakmania justru menjadi simbol modernisasi suporter Persija tanpa menghilangkan akar identitas klub.

Baca Juga: Jadwal Persib Bandung Januari 2026 Lengkap: Jam Tayang, Siaran Langsung Indosiar, dan Peluang Maung Bandung Sapu Bersih Kemenangan

Perkembangan dan Penyebaran Korwil

Perkembangan The Jakmania terbilang pesat. Pendukung Persija Jakarta tidak lagi hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga tersebar di berbagai daerah. Kondisi ini mendorong pembentukan koordinator wilayah atau Korwil sebagai struktur pendukung organisasi di tingkat regional.

Pembentukan Korwil membuat pergerakan The Jakmania semakin terorganisasi. Dukungan terhadap Persija Jakarta pun dapat dilakukan secara serempak, baik saat laga kandang maupun tandang.

Baca Juga: Persis Solo vs Persib Bandung: Maung Bandung Uji Konsistensi di Stadion Manahan, Misi Kokohkan Puncak Klasemen BRI Super League

Bukan yang Pertama, tapi Paling Bertahan

Menariknya, The Jakmania bukanlah organisasi suporter pertama Persija Jakarta. Pada Desember 1994, pernah berdiri kelompok suporter bernama Persija Fans Club yang diresmikan oleh Midrus. Namun, kelompok tersebut gagal meraih simpati luas dari pendukung Persija sehingga tidak bertahan lama.

Berbeda dengan pendahulunya, The Jakmania mampu menyatukan basis suporter Persija Jakarta dalam satu identitas yang kuat. Hingga kini, The Jakmania telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Persija Jakarta di dunia sepak bola Indonesia.

Baca Juga: Persib Bandung vs PSBS Biak Malam Ini: Laga Penentuan Puncak Klasemen Super League Indonesia, Maung Bandung Wajib Menang!

Editor : Dyah Wulandari
#persija jakarta #suporter persija #the jakmania