Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Persija Jakarta: Dari Lapangan Petojo, Perlawanan Kolonial, hingga Lahirnya Macan Kemayoran Kebanggaan Anak Jakarta

Dyah Wulandari • Selasa, 27 Januari 2026 | 19:00 WIB

Sejarah Persija Jakarta dari Lapangan Petojo, perlawanan kolonial, hingga lahirnya Macan Kemayoran kebanggaan anak Jakarta.
Sejarah Persija Jakarta dari Lapangan Petojo, perlawanan kolonial, hingga lahirnya Macan Kemayoran kebanggaan anak Jakarta.

JAKARTA – Sejarah Persija Jakarta bukan sekadar catatan perjalanan sebuah klub sepak bola, melainkan bagian penting dari denyut nasionalisme Indonesia. Klub kebanggaan ibu kota ini lahir jauh sebelum kemerdekaan, tepatnya pada 28 November 1928, dari sebuah lapangan sederhana bernama Lapangan Petojo atau Stadion VIJ yang terletak di kawasan Cideng, Gambir, Jakarta Pusat.

Persija Jakarta bermula dari organisasi sepak bola bernama Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ). Klub ini didirikan oleh tokoh-tokoh pergerakan seperti Soeri dan Alie, di tengah situasi diskriminatif dunia sepak bola yang saat itu didominasi oleh kolonial Belanda. Sejak awal, VIJ tidak hanya berfungsi sebagai klub olahraga, tetapi juga menjadi wadah berkumpulnya para pemuda pribumi yang menyalakan semangat nasionalisme.

Keberadaan VIJ turut memantik lahirnya persatuan antarklub sepak bola pribumi. Dari semangat inilah kemudian berdiri Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 19 April 1930. VIJ menjadi salah satu motor penggerak utama terbentuknya organisasi sepak bola nasional tersebut.

Baca Juga: Levin Kurzawa Persib Bandung Mengubah Segalanya, Aura Tim Eropa Muncul, Jersey Ludes, dan Kejutan Transfer Baru Mulai Tercium

Prestasi Awal di Era Kolonial

Meski menghadapi diskriminasi, VIJ mampu membuktikan eksistensinya di kancah sepak bola Hindia Belanda. Sejumlah prestasi gemilang berhasil diraih, di antaranya pada tahun 1931, 1933, 1934, dan 1938. Pencapaian tersebut memperkuat posisi VIJ sebagai simbol perlawanan dan kebanggaan masyarakat Jakarta.

Sepak bola kala itu bukan hanya soal kompetisi, melainkan juga alat perjuangan identitas. Setiap pertandingan VIJ menjadi panggung pembuktian bahwa pemain pribumi mampu bersaing dan berprestasi di tengah tekanan kolonialisme.

Baca Juga: Levin Kurzawa Persib Bandung Mengubah Segalanya, Aura Tim Eropa Muncul, Jersey Ludes, dan Kejutan Transfer Baru Mulai Tercium

Berganti Nama Menjadi Persija Jakarta

Pasca kemerdekaan Indonesia, perjalanan klub memasuki babak baru. Menurut catatan sejarah, terdapat dua peristiwa penting pada tahun 1950. VIJ resmi berganti nama menjadi Persija Jakarta dan meninggalkan Lapangan Petojo sebagai markas utama.

Di bawah kepemimpinan Jusuf Yahya, Persija Jakarta berhasil mengorbitkan sejumlah pemain legendaris seperti Tanjung, Ho, Kwee Liem, Oey Kim Tjiang, Vander Veen, hingga Vander Burg. Nama-nama tersebut menjadi tulang punggung kejayaan Persija di era awal Indonesia merdeka.

Baca Juga: Persib Bandung vs PSBS Biak Bukan Sekadar Laga, Sinyal Kejutan Transfer Levin Kurzawa dan Pemain Baru Siap Diumumkan di GBLA

Prestasi Persija Jakarta pun semakin cemerlang dengan torehan gelar pada tahun 1954, 1964, 1973, 1975, dan 1979. Konsistensi prestasi inilah yang membuat Persija terus eksis dari masa kolonial hingga era modern sepak bola Indonesia.

Asal-usul Julukan Macan Kemayoran

Julukan Macan Kemayoran yang melekat pada Persija Jakarta bukanlah sebutan sembarangan. Menurut Amanda Clara dalam buku Cerita Rakyat dari Sabang sampai Merauke, julukan tersebut berasal dari kisah Murtado, seorang jawara Betawi yang dikenal berani melawan centeng dan kompeni Belanda.

Semangat perlawanan Murtado itulah yang kemudian menjadi nafas Persija Jakarta. Filosofi keberanian, pantang menyerah, dan siap bertarung di setiap laga menjadikan Macan Kemayoran sebagai simbol kekuatan anak Jakarta di lapangan hijau.

Baca Juga: Resmi! Livin Kurzawa Persib Bandung Diumumkan Usai Laga PSBS Biak, Maung Bandung Sekaligus Boyong Dion Mark

Perjalanan Panjang Markas Persija

Dalam sejarahnya, Persija Jakarta tidak menetap di satu stadion. Setelah meninggalkan Lapangan Petojo, Persija sempat bermarkas di Lapangan Ikatan Atletik Jakarta (Ikada) yang kini menjadi kawasan Monumen Nasional (Monas).

Persija juga pernah menggunakan Stadion Menteng yang kini berubah menjadi Taman Menteng, Stadion Lebak Bulus, hingga Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Setiap stadion menyimpan cerita dan memori tersendiri bagi perjalanan klub dan suporternya.

Kini, harapan baru muncul seiring hadirnya Jakarta International Stadium (JIS). Stadion modern tersebut digadang-gadang menjadi rumah baru Macan Kemayoran sekaligus simbol kebangkitan sepak bola Jakarta di era profesional.

Baca Juga: Marco Duganzic Persib Bandung Menguat, Hodak Kesal Usai PSBS Biak, Isu Striker Eropa dan Sikap Dingin Federico Barba Jadi Sorotan

Warisan untuk Anak Jakarta

Perjalanan panjang Persija Jakarta dari masa kolonial hingga sekarang membuatnya pantas disebut sebagai klub legendaris Indonesia. Tidak hanya berprestasi, Persija juga mewariskan nilai sejarah, nasionalisme, dan identitas budaya Betawi yang kuat.

Bagi Jakmania dan Jak Angel, Persija Jakarta bukan sekadar klub sepak bola, melainkan bagian dari jati diri. Auman Macan Kemayoran akan terus menggema, membawa semangat anak Jakarta di setiap generasi.

Baca Juga: Cara Mengurus Balik Nama Sertifikat Tanah Sendiri Tanpa Notaris, Lebih Hemat dan Mudah: Simak Syarat serta Prosedur Lengkapnya!

Editor : Dyah Wulandari
#macan kemayoran #Sejarah Persija #persija jakarta #sepak bola indonesia