Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah The Jakmania: Dari Gagasan Manajemen Persija hingga Menjadi Suporter Terbesar dan Terbaik di Indonesia

Dyah Wulandari • Selasa, 27 Januari 2026 | 19:10 WIB

Sejarah The Jakmania dari ide manajemen Persija hingga menjadi kelompok suporter terbesar dan terbaik di Indonesia.
Sejarah The Jakmania dari ide manajemen Persija hingga menjadi kelompok suporter terbesar dan terbaik di Indonesia.

JAKARTA – Sejarah The Jakmania merupakan bagian penting dari perjalanan Persija Jakarta sebagai klub kebanggaan ibu kota. The Jakmania adalah sebutan bagi kelompok suporter Persija Jakarta yang dikenal militan, terorganisir, dan memiliki basis anggota sangat besar. Organisasi suporter ini resmi berdiri pada 19 Desember 1997 dan hingga kini menjadi salah satu kelompok pendukung sepak bola terbesar di Indonesia.

Gagasan pembentukan The Jakmania berawal dari Edy Rasyid Ali, yang saat itu menjabat sebagai manajer Persija Jakarta. Ide tersebut lahir dari keprihatinan terhadap minimnya dukungan terorganisir untuk Persija di stadion. Gagasan ini kemudian mendapat dukungan penuh dari Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, yang juga berperan sebagai pembina Persija Jakarta.

Sutiyoso dikenal sebagai sosok yang mencintai sepak bola. Ia memiliki keinginan kuat untuk membangkitkan kembali kejayaan sepak bola Jakarta yang sempat meredup. Dukungan pemerintah daerah menjadi fondasi penting lahirnya The Jakmania sebagai mitra resmi klub.

Baca Juga: Sejarah Persib Bandung dari Masa ke Masa: Lahir dari Nasionalisme, Raja Perserikatan, hingga Back to Back Juara Liga 1

Awal Berdiri dan Tokoh Pendiri

Pada awal pembentukannya, The Jakmania masih berstatus komunitas kecil dengan jumlah anggota sekitar 100 orang. Struktur pengurusnya terdiri dari 40 orang pendiri yang kemudian dikenal dengan sebutan JM 1 hingga JM 40.

Untuk memimpin organisasi baru ini, dipilihlah figur yang dikenal luas oleh masyarakat, yakni Gugun Gondrong. Sosok Gugun dinilai ideal karena popularitasnya sekaligus kedekatannya dengan akar rumput. Meski berasal dari kalangan selebritas, Gugun menegaskan tidak ingin mendapatkan perlakuan istimewa dan ingin berdiri sejajar dengan anggota lainnya.

Baca Juga: Sejarah Persib Bandung: Berdiri 14 Maret 1933, Vakum di Era Jepang, Bangkit dan Berjaya di Perserikatan 80–90an

Lahirnya Identitas dan Simbol Jakmania

Di masa awal, pengurus The Jakmania merancang identitas visual organisasi. Lahirlah lambang tangan dengan jari membentuk huruf “J”, yang kini dikenal luas sebagai simbol Jakmania. Ide tersebut berasal dari Edward “Mouse”, yang saat itu menjabat sebagai humas Persija Jakarta.

Simbol tersebut kemudian melahirkan slogan “Sajete”, singkatan dari salam jempol telunjuk. Sajete bukan sekadar gestur, melainkan simbol persaudaraan yang digunakan sesama anggota Jakmania di mana pun berada. Hingga kini, simbol dan salam tersebut tetap dipertahankan sebagai jati diri organisasi.

Baca Juga: Sejarah Persib Bandung: Berawal dari Sepak Bola Era Kolonial, Alat Perjuangan Nasionalisme hingga Dicintai Bobotoh

Era Kepemimpinan Bung Ferry

Seiring berakhirnya masa kepemimpinan Gugun Gondrong, posisi ketua umum The Jakmania dilanjutkan oleh Insinyur Ferry Indrasjarief, yang akrab disapa Bung Ferry. Ia memimpin The Jakmania pada periode 1999–2001, lalu kembali dipercaya untuk periode 2001–2003 dan 2003–2005.

Di bawah kepemimpinan Bung Ferry, organisasi The Jakmania mengalami penataan besar-besaran. Struktur organisasi diperkuat, sistem keanggotaan dibenahi, dan militansi suporter mulai diarahkan ke jalur yang lebih terorganisir. Meski awalnya sulit mengajak warga Jakarta bergabung, strategi perekrutan dilakukan secara masif.

Baca Juga: Dion Marx Persib Bandung Resmi Diumumkan Tanpa Rumor, Transfer Senyap yang Bikin Bobotoh Terkejut di GBLA

Salah satu momen penting terjadi saat Tim Nasional Indonesia berlaga menjelang Piala Asia. Pengurus The Jakmania membagikan formulir pendaftaran di luar stadion, yang kemudian disambut antusias oleh masyarakat. Dari situlah jumlah anggota Jakmania melonjak signifikan.

Perkembangan Organisasi dan Korwil

Setelah era Bung Ferry, kepemimpinan The Jakmania terus berlanjut dengan beberapa tokoh, di antaranya Danang Ismartani, Larico Ranggamone, Richard Ahmad Suprianto, hingga saat ini dipimpin oleh Dicky Soemarno.

Dalam perkembangannya, The Jakmania membentuk struktur koordinator wilayah (Korwil) yang tersebar tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga berbagai daerah di luar Pulau Jawa. Penyatuan berbagai komunitas pendukung Persija akhirnya melebur dalam satu organisasi besar bernama The Jakmania.

Baca Juga: Resmi! Livin Kurzawa Persib Bandung Diumumkan Usai Laga PSBS Biak, Maung Bandung Sekaligus Boyong Dion Mark

Prestasi dan Transformasi Citra

The Jakmania tidak hanya dikenal dari jumlah anggotanya, tetapi juga prestasinya sebagai suporter. Salah satu pencapaian membanggakan adalah terpilihnya The Jakmania sebagai Suporter Terbaik Piala Presiden 2019. Penghargaan tersebut menjadi bukti perubahan citra Jakmania ke arah yang lebih tertib, kreatif, dan dewasa.

Transformasi ini didorong oleh kesadaran bersama untuk menjadikan The Jakmania sebagai organisasi yang mandiri secara ekonomi dan berkontribusi positif bagi sepak bola nasional.

Baca Juga: Jadwal Persib Bandung Januari 2026: Bulan Penentuan Maung Bandung, Big Match Persija hingga Ujian Tandang ke Persik dan Persis Solo

Editor : Dyah Wulandari
#persija jakarta #suporter persija #sajete #jakmania