JAKARTA – Persija Jakarta merupakan salah satu klub paling bersejarah di Indonesia. Catatan prestasinya tak terbantahkan: sembilan kali juara Perserikatan dan dua kali juara Liga Indonesia. Namun, kejayaan di lapangan hijau itu pernah berjalan timpang dengan kondisi di tribun. Selama puluhan tahun, Persija dikenal sebagai klub besar yang bertanding dalam kesepian.
Sebelum 1997, laga kandang Persija kerap dihadiri hanya segelintir penonton. Stadion lebih banyak diisi keluarga pemain, manajemen, dan simpatisan terbatas. Ironisnya, ketika Persija menjamu klub daerah seperti PSMS Medan, Persib Bandung, atau Persebaya Surabaya, tribun justru dipenuhi suporter tamu. Prestasi besar Persija tak berbanding lurus dengan basis dukungan.
Titik balik terjadi pada 1997, tahun yang mengubah wajah Persija dan atmosfer sepak bola Jakarta. Di tengah krisis politik nasional, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, merespons keluhan para pendukung loyal Persija, di antaranya Gugun Gondrong dan Feri Indrasjarief. Mereka menilai memalukan ketika Persija bermain di kandang sendiri, tetapi kalah jumlah pendukung.
Dari kegelisahan itulah lahir The Jakmania, kelompok suporter resmi Persija Jakarta. Gugun Gondrong didapuk sebagai ketua umum pertama. Bersamaan dengan itu, identitas klub mengalami perubahan besar: warna Persija berganti dari merah menjadi oranye, yang kemudian menjadi simbol dominasi baru di ibu kota.
Revolusi Suporter dan Dominasi Kandang
Pada fase awal pembentukan The Jakmania, dukungan pemerintah daerah sangat terasa. Tiket pertandingan disebar hingga ke kelurahan-kelurahan, sebagian bahkan gratis. Transportasi menuju stadion difasilitasi secara kolektif. Hasilnya instan: stadion-stadion di Jakarta berubah warna menjadi oranye.
Sejak saat itu, Persija bukan lagi tim “tuan rumah yang terasa tandang”. Klub-klub yang datang ke Jakarta mulai menghadapi tekanan besar, baik di lapangan maupun dari atmosfer tribun. Persija menjelma sebagai tim dengan home advantage paling kuat di Indonesia pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.
The Jakmania tak hanya hadir di Jakarta. Mereka mengikuti Persija ke berbagai daerah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Dengan gaya metropolitan yang khas, kehadiran Jakmania sering menjadi sorotan—dan tak jarang memicu gesekan dengan kelompok suporter lokal.
Awal Rivalitas Panas dengan Persib
Salah satu momen paling menentukan dalam sejarah rivalitas Persija adalah laga melawan Persib Bandung di Stadion Siliwangi pada 1999. Kepadatan stadion, kedatangan rombongan Jakmania, dan situasi keamanan yang buruk memicu kericuhan. Sejak saat itu, hubungan kedua kelompok suporter memburuk dan terus bereskalasi.
Rivalitas Persija dan Persib tak lagi sekadar persaingan sepak bola. Ia berubah menjadi konflik emosional yang menyeberang ke luar stadion, bahkan ke luar konteks pertandingan. Sejumlah insiden tragis dalam rentang 2000–2018 menjadi noda kelam sepak bola Indonesia, dengan korban jiwa dari kedua belah pihak.
Puncak tragedi terjadi pada 2018, ketika seorang pendukung Persija, Haringga Sirila, meninggal dunia di Bandung. Peristiwa ini mengguncang nasional dan menjadi titik refleksi keras bagi seluruh ekosistem sepak bola Indonesia.
Dari APBD ke Profesionalisme
Di sisi klub, kebijakan besar era Sutiyoso berdampak langsung pada prestasi. Persija menjuarai Liga Indonesia 2001, gelar pertamanya di era liga modern. Namun, seiring tuntutan profesionalisme, klub-klub Indonesia perlahan meninggalkan ketergantungan pada APBD.
Persija termasuk yang berhasil beradaptasi. Basis suporter besar, daya tarik sponsor, dan manajemen modern membuat Persija mampu bertahan di era Liga Super Indonesia hingga Liga 1.
Puncak Kejayaan Era Modern
Setelah puasa gelar panjang, Persija kembali menorehkan sejarah pada 2018 dengan menjuarai Liga 1. Jakarta berpesta. Ratusan ribu Jakmania turun ke jalan, menandai transformasi Persija dari klub sepi pendukung menjadi klub dengan basis suporter terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.
Meski setelah itu Persija belum kembali meraih gelar liga hingga 2025, statusnya sebagai klub elite tetap terjaga. Satu fakta penting tak terbantahkan: Persija Jakarta belum pernah terdegradasi sejak kompetisi resmi digulirkan pada 1931.
Editor : Dyah Wulandari