BLITAR – Kisah awal berdirinya The Jakmania kembali menjadi perbincangan hangat setelah sebuah video YouTube menampilkan obrolan panjang para pendiri menjelang peringatan ulang tahun komunitas suporter Persija Jakarta tersebut. Video itu mengungkap cerita-cerita awal yang jarang diketahui publik, termasuk bagaimana The Jakmania bermula dari kelompok kecil pencinta Persija yang belum memiliki nama resmi, struktur organisasi, maupun identitas visual yang jelas.
Dalam video tersebut, sejumlah pendiri The Jakmania berkumpul untuk meluruskan berbagai informasi keliru yang selama ini beredar tentang sejarah organisasi. Mereka menegaskan bahwa banyak tulisan dan narasi di luar sana tidak sepenuhnya akurat, terutama soal siapa saja yang terlibat sejak awal berdirinya The Jakmania. Pertemuan itu sekaligus menjadi ajang mengenang rekan-rekan seperjuangan yang telah wafat, sakit, atau tidak bisa hadir karena kesibukan dan jarak.
Awal Mula Dukungan untuk Persija Jakarta
Cerita bermula dari kebiasaan menonton Persija Jakarta di Stadion Lebak Bulus. Saat itu, dukungan masih sangat sederhana. Sekelompok anak muda datang ke rumah salah satu pendiri untuk mengajak menonton langsung pertandingan Persija. Mereka berangkat dengan semangat, membawa spanduk seadanya, bahkan mengecat sendiri tulisan dengan piloks berwarna oranye.
Pilihan warna oranye pun bukan tanpa cerita. Awalnya, mereka sempat menggunakan spanduk biru, namun kemudian beralih ke oranye karena dianggap lebih merepresentasikan identitas Persija Jakarta. Dari situ, dukungan mulai terorganisasi meski masih sangat sederhana dan sering kali harus berhadapan dengan razia atau pembatasan dari pihak keamanan stadion.
Rapat Kecil yang Mengubah Sejarah
Salah satu momen penting dalam sejarah The Jakmania terjadi ketika delapan orang pendukung Persija diarahkan untuk membentuk organisasi sendiri. Rapat awal dilakukan secara sederhana di kamar tidur salah satu pendiri di kawasan Menteng. Tidak ada fasilitas mewah, hanya diskusi panjang tentang masa depan dukungan untuk Persija Jakarta.
Pada fase ini, The Jakmania bahkan belum memiliki nama resmi. Beberapa alternatif sempat muncul sebelum akhirnya nama “The Jakmania” dipilih. Inspirasi nama tersebut datang dari keinginan menghadirkan julukan yang modern dan mudah diingat, sekaligus mencerminkan identitas suporter ibu kota.
Lahirnya Nama dan Identitas The Jakmania
Nama The Jakmania terinspirasi dari spanduk bertuliskan “Welcome Jejak” yang dilihat salah satu pendiri. Dari diskusi itulah muncul ide untuk menggunakan kata “Jak” sebagai representasi Jakarta. Logo awal pun dirancang secara sederhana, dengan berbagai keterbatasan alat dan biaya.
Para pendiri menyadari bahwa identitas visual sangat penting agar Persija Jakarta mudah dikenali melalui suporternya. Mereka sepakat bahwa meski nantinya nama atau istilah lain bisa berubah, kata “Jak” harus tetap melekat agar publik langsung mengaitkannya dengan Persija.
Dari Puluhan Menjadi Ribuan Anggota
Pada masa awal, jumlah anggota The Jakmania hanya sekitar 40 orang. Proses pendaftaran dilakukan manual, bahkan menggunakan komputer seadanya. Anak-anak di bawah umur tidak diperbolehkan mendaftar tanpa izin orang tua, menunjukkan bahwa sejak awal The Jakmania berusaha tertib secara organisasi.
Upaya memperluas basis dukungan dilakukan dengan cara unik, seperti berkeliling kampung menggunakan mobil sewaan menjelang pertandingan Persija. Mereka meneriakkan ajakan mendukung Persija Jakarta, meski sering dicap aneh atau dianggap mengganggu. Namun perlahan, cara ini membuahkan hasil. Jumlah anggota meningkat dari puluhan menjadi ratusan, lalu ribuan.
Tantangan dan Semangat Bertahan
Perjalanan The Jakmania tidak selalu mulus. Mereka kerap diusir, dipindahkan tempat duduk di stadion, bahkan mengalami kesulitan logistik saat mendukung Persija di luar kota. Meski begitu, semangat kebersamaan dan satu komando menjadi kunci bertahannya organisasi ini.
Para pendiri sepakat bahwa kekuatan utama The Jakmania bukan hanya pada jumlah anggota, tetapi pada solidaritas dan fighting spirit. Nilai-nilai inilah yang membuat The Jakmania terus berkembang hingga menjadi salah satu kelompok suporter terbesar dan paling dikenal di Indonesia.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, kisah awal berdirinya The Jakmania menjadi pengingat bahwa organisasi besar selalu lahir dari langkah kecil, kerja keras, dan keyakinan bersama untuk mendukung Persija Jakarta dalam kondisi apa pun. (*)
Editor : Vicky Hernanda