The Jack Mania: Kisah Lahirnya Suporter Persija Jakarta, Dari Komunitas Kecil hingga Identitas Besar Ibu Kota

Vicky Hernanda • Dipublikasikan Rabu, 28 Januari 2026 | 19:10 WIB
The Jack Mania: Kisah Lahirnya Suporter Persija Jakarta, Dari Komunitas Kecil hingga Identitas Besar Ibu Kota
The Jack Mania: Kisah Lahirnya Suporter Persija Jakarta, Dari Komunitas Kecil hingga Identitas Besar Ibu Kota

BLITAR – The Jack Mania bukan sekadar kelompok pendukung sepak bola. Mereka adalah identitas, suara, dan rumah bagi ribuan pencinta Persija Jakarta yang tumbuh bersama denyut kehidupan ibu kota. Kisah The Jack Mania adalah cerita panjang tentang cinta, luka, konflik, sekaligus pendewasaan yang membentuk wajah suporter sepak bola Indonesia hingga hari ini.

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur, The Jack Mania lahir sebagai wujud kesetiaan yang tak ditulis di papan skor. Mereka adalah suara dari tribun, warna oranye yang membanjiri stadion, serta nyanyian yang menggema dari Senayan hingga sudut-sudut kota. Video dokumenter dari kanal YouTube Kisah Kasih Sepak Bola menelusuri perjalanan panjang komunitas ini, dari akar sejarah hingga refleksi masa depan.

Awal Mula Dukungan untuk Persija Jakarta

Sebelum nama The Jack Mania dikenal luas, Persija Jakarta telah lebih dulu berdiri dengan sejarah panjang. Pada masa Hindia Belanda, klub ini bernama VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta) dan memiliki kelompok pendukung bernama Vagers. Namun, seiring perjalanan waktu dan perubahan zaman, kelompok pendukung tersebut perlahan menghilang.

Setelah Indonesia merdeka, VIJ berganti nama menjadi Persija. Meski klub tetap eksis, dukungan suporter belum terbentuk secara solid. Persija Fans Club sempat hadir, namun skalanya kecil dan terbatas pada keluarga pemain, pengurus, serta kalangan tertentu. Jakarta, sebagai ibu kota, masih seperti kehilangan suara besarnya di stadion.

Lahirnya The Jack Mania pada 1997

Titik balik terjadi pada 1997. Saat itu, manajer Persija Biza Rasyid Ali menggagas kebangkitan suporter yang lebih terorganisir dan beridentitas kuat. Gagasan tersebut mendapat dukungan penuh dari Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso atau Bang Yos, yang dikenal sebagai pencinta sepak bola.

Dari sinilah lahir Jakarta Mania, yang kemudian dikenal sebagai The Jack Mania. Awalnya, anggota komunitas ini hanya sekitar 100 orang. Sebuah langkah kecil yang menjadi fondasi perjalanan panjang. Gugun Gondrong, figur publik yang dikenal luas, dipercaya menjadi ketua umum pertama. Namun ia menegaskan tidak ingin berdiri di atas yang lain, melainkan berjalan bersama sebagai bagian dari suara tribun.

Identitas, Simbol, dan Warna Oranye

Dalam perjalanannya, The Jack Mania membangun identitas yang kuat. Salah satunya adalah simbol tangan dengan jari membentuk huruf “C”, gagasan dari Edi Supatmo, Humas Persija kala itu. Simbol ini menjadi tanda persatuan, keras, lugas, dan sangat merepresentasikan karakter Jakarta.

Warna oranye yang kini identik dengan Persija dan The Jack Mania pun menjadi penanda visual yang mudah dikenali di setiap stadion. Bukan sekadar warna, melainkan lambang kebanggaan dan keberanian menyuarakan cinta pada klub Macan Kemayoran.

Rivalitas dan Proses Pendewasaan

Tak bisa dimungkiri, perjalanan The Jack Mania juga diwarnai rivalitas, terutama dengan Bobotoh, pendukung Persib Bandung. Rivalitas ini tumbuh dari sejarah panjang pertemuan kedua klub, perbedaan identitas, serta dinamika suporter di lapangan maupun di luar stadion.

Namun, video tersebut menekankan satu hal penting: rivalitas adalah bagian dari sepak bola, tetapi tidak boleh merampas kemanusiaan. Konflik dan kontroversi justru menjadi pelajaran berharga bagi generasi suporter baru untuk tumbuh lebih dewasa, menghargai perbedaan, dan menempatkan nyawa manusia di atas segalanya.

Lebih dari Sekadar Suporter

Pada akhirnya, The Jack Mania adalah bukti bahwa sepak bola bukan hanya tentang menang atau kalah. Ia adalah hubungan antara klub dan kota, antara masa lalu dan masa depan. Sebuah komunitas yang dibangun dari suara, cinta, dan kesetiaan, sekaligus ruang refleksi untuk terus berbenah.

Perjalanan panjang The Jack Mania menunjukkan bahwa identitas bisa dibangun dari kebersamaan, dan bahwa sepak bola selalu punya kisah yang lebih besar dari sekadar 90 menit pertandingan. (*)

Editor : Vicky Hernanda
Sumber : kisah kasih sepakbola
persija jakarta suporter persija The Jack Mania Sejarah The Jakmania sepak bola indonesia