SURABAYA - Persebaya datangkan Pedro Matos sebagai amunisi baru di lini tengah jelang paruh musim BRI Super League 2025/2026. Namun, langkah agresif tersebut justru dibarengi keputusan mengejutkan: manajemen Bajul Ijo resmi melepas Dejan Tumbas, pemain serba bisa yang selama ini menjadi andalan tim. Kombinasi dua keputusan ini langsung memantik reaksi keras dari suporter setia, Bonek.
Persebaya datangkan Pedro Matos pada Kamis malam, 22 Januari 2026. Gelandang serang asal Portugal itu direkrut setelah tampil impresif bersama Semen Padang FC di putaran pertama musim ini. Kedatangannya diharapkan mampu menambah kreativitas dan daya dobrak lini serang Persebaya yang dinilai masih inkonsisten.
Pengumuman transfer Pedro Matos disambut antusias. Namun euforia tersebut tidak berlangsung lama. Di hari yang sama, Persebaya juga mengonfirmasi perpisahan dengan Dejan Tumbas. Keputusan ini sontak menimbulkan tanda tanya besar, mengingat kontribusi Tumbas yang cukup signifikan sepanjang paruh pertama kompetisi.
Pedro Matos, Motor Serangan Baru Persebaya
Pedro Matos bukan nama asing bagi penggemar sepak bola nasional. Bersama Semen Padang FC, pemain berusia 27 tahun ini dikenal sebagai pengatur ritme permainan sekaligus motor serangan utama tim Kabau Sirah. Karakter bermainnya disebut-sebut mirip dengan Rivera, gelandang kreatif yang sebelumnya menjadi tulang punggung Persebaya.
Statistik Pedro Matos di putaran pertama Super League 2025/2026 cukup menjanjikan. Dari 15 penampilan, ia mencatatkan empat assist dan satu gol. Kemampuan distribusi bola yang akurat, visi bermain yang baik, serta kecerdikannya membaca celah pertahanan lawan menjadi nilai plus yang membuat manajemen Persebaya kepincut.
Kehadiran Pedro Matos diharapkan mampu meningkatkan kualitas serangan Bajul Ijo, terutama dalam menghadapi lawan-lawan yang bermain rapat. Ia diproyeksikan menjadi kreator serangan sekaligus penghubung antara lini tengah dan lini depan.
Dejan Tumbas Dilepas, Pilar Serba Bisa Pergi
Di balik kedatangan Pedro Matos, keputusan Persebaya melepas Dejan Tumbas justru menuai kekecewaan. Tumbas dikenal sebagai pemain serba bisa yang mampu mengisi hampir semua posisi di lini depan maupun sayap. Fleksibilitas inilah yang membuatnya sering dipercaya pelatih.
Sepanjang paruh pertama musim ini, Dejan Tumbas tampil dalam 14 dari total 17 pertandingan Persebaya. Meski belum mencetak gol, kontribusinya dinilai vital. Ia dikenal sebagai pemain pekerja keras dengan determinasi tinggi, kuat dalam duel udara, dan disiplin dalam bertahan.
Statistik menunjukkan konsistensi performa Tumbas. Rata-rata tembakan per laga mencapai 2,1, dengan hanya satu kartu kuning sepanjang musim. Catatan ini memperlihatkan gaya bermainnya yang agresif namun tetap efektif dan bersih.
Reaksi Bonek: Kecewa Tapi Tetap Loyal
Kepergian Dejan Tumbas membuat banyak Bonek merasa kehilangan. Di media sosial, sejumlah suporter menyebut Tumbas sebagai pemain “ngeyel” yang selalu berani dan tidak takut duel. Karakter tersebut dinilai memberi warna tersendiri di skuad Persebaya.
Bagi Bonek, Tumbas bukan sekadar pemain pelapis. Ia dianggap sebagai figur pekerja keras yang mampu mengangkat mental tim di lapangan. Tak heran jika keputusan manajemen ini dinilai kontroversial dan memicu perdebatan.
Meski demikian, Bonek tetap berharap keputusan Persebaya datangkan Pedro Matos mampu memberikan dampak positif. Pergantian pemain adalah bagian dari dinamika sepak bola profesional, dan Bajul Ijo diharapkan tetap kompetitif di putaran kedua.
Persebaya kini menghadapi tantangan baru: membuktikan bahwa keputusan melepas Dejan Tumbas sepadan dengan kontribusi yang akan diberikan Pedro Matos. Waktu dan hasil di lapangan akan menjadi jawaban paling adil bagi publik Surabaya.
Editor : Novica Satya Nadianti