Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Nahdlatul Ulama: Dari Perlawanan Ulama Nusantara hingga Jadi Ormas Islam Terbesar di Indonesia

Novica Satya Nadianti • Kamis, 29 Januari 2026 | 17:35 WIB
Sejarah Nahdlatul Ulama dari 1926 hingga kini, kisah ulama Nusantara membangun NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia.
Sejarah Nahdlatul Ulama dari 1926 hingga kini, kisah ulama Nusantara membangun NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia.

JAKARTA - Sejarah Nahdlatul Ulama tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang ulama Nusantara dalam menjaga tradisi Islam sekaligus melawan kolonialisme. Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini lahir dari kegelisahan para kiai terhadap nasib praktik keagamaan Islam tradisional yang kala itu mulai terpinggirkan.

Sejarah Nahdlatul Ulama mencatat, organisasi ini resmi berdiri pada 31 Januari 1926. Tokoh sentral di balik pendiriannya adalah KH Hasyim Asy’ari, ulama kharismatik asal Jombang, Jawa Timur, yang kemudian dipercaya menjadi Rais Akbar pertama Nahdlatul Ulama (NU).

Sejak awal, Sejarah Nahdlatul Ulama menunjukkan NU bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan gerakan sosial-keagamaan yang berakar kuat di masyarakat. NU menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah, yakni berpegang pada Al-Qur’an, sunnah Nabi Muhammad SAW, serta tradisi para sahabat dan ulama salaf.

Latar Belakang Berdirinya Nahdlatul Ulama

Gagasan pendirian NU digagas para ulama dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Madura. Mereka berkumpul di kediaman KH Abdul Wahab Hasbullah, yang menjadi salah satu penggerak utama organisasi ini.

Sebelum NU berdiri, telah muncul sejumlah organisasi seperti Nahdlatul Wathon (1916), Nahdlatul Fikri, dan Nahdlatut Tujjar (1918). Organisasi-organisasi ini menjadi fondasi awal kesadaran kebangkitan umat Islam, khususnya dalam menghadapi kolonialisme Belanda.

Pada awal 1926, muncul penolakan keras dari kelompok Islam reformis terhadap upaya pelestarian praktik Islam tradisional. Dari sinilah para kiai sepakat membentuk organisasi sendiri yang akhirnya dinamakan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan para ulama.Baca Juga: The Jack Mania: Kisah Lahirnya Suporter Persija Jakarta, Dari Komunitas Kecil hingga Identitas Besar Ibu Kota

Pandangan Keagamaan dan Mazhab NU

Dalam bidang fikih, Nahdlatul Ulama cenderung mengikuti Mazhab Syafi’i, namun tetap mengakui tiga mazhab lainnya: Hanafi, Maliki, dan Hambali. Pendekatan hukum Islam NU tidak hanya berpijak pada teks, tetapi juga mempertimbangkan akal dan realitas sosial.

Sementara dalam tasawuf, NU merujuk pada pemikiran Imam Al-Ghazali dan Syekh Junaid al-Baghdadi. Tokoh terakhir dianggap mampu mempertemukan fikih dan tasawuf secara proporsional, sejalan dengan prinsip NU: tawazun, tasamuh, dan i’tidal.

Peran NU di Tengah Masyarakat Indonesia

Nahdlatul Ulama berkembang pesat karena mampu beradaptasi dengan budaya lokal. Tradisi seperti tahlilan, maulid nabi, ziarah kubur, dan sholawatan menjadi bagian dari praktik keagamaan NU yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Tak hanya di bidang agama, NU juga aktif di sektor pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi. Berdasarkan berbagai kajian, NU memiliki sekitar 49,5 persen pengikut umat Islam Indonesia, atau lebih dari 108 juta warga, menjadikannya ormas Islam terbesar di Tanah Air.

Mayoritas pengikut NU tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, dengan basis kuat di pedesaan maupun pesantren.

Filosofi Logo Nahdlatul Ulama

Logo NU dirancang oleh KH Ridwan Abdullah atas amanah KH Hasyim Asy’ari. Logo berbentuk bola dunia yang dikelilingi bintang dan tali ini terinspirasi dari mimpi setelah shalat istikharah. Sejak 31 Januari 1926, logo tersebut resmi menjadi simbol NU hingga kini.

NU dan Politik Praktis

Dalam perjalanan sejarahnya, Nahdlatul Ulama sempat terjun ke politik praktis. Pada 1952, NU keluar dari Masyumi dan mengikuti pemilu, meraih puluhan kursi di DPR dan Konstituante.

Pada era Orde Baru, NU bergabung ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun melalui Muktamar Situbondo, NU memutuskan kembali ke khittah 1926 dan meninggalkan politik praktis.

Pasca reformasi 1998, muncul Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang lahir dari rahim NU. Tokohnya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bahkan terpilih menjadi Presiden RI pada 1999.

Islam Nusantara dan Tantangan Zaman

Gagasan Islam Nusantara resmi diperkenalkan NU pada 2015. Konsep ini menegaskan wajah Islam yang moderat, toleran, dan selaras dengan budaya Indonesia. Presiden Joko Widodo secara terbuka mendukung gagasan ini sebagai model Islam yang damai dan inklusif.

Hingga kini, Sejarah Nahdlatul Ulama terus berlanjut sebagai penjaga tradisi, penyangga moderasi, dan pilar utama kehidupan keislaman di Indonesia.

 

 

Editor : Novica Satya Nadianti
#organisasi islam terbesar #KH Hasyim Asy’ari #sejarah nahdlatul ulama #islam nusantara