JAKARTA - Sejarah Nahdlatul Ulama menjadi bagian penting dalam perjalanan Islam dan kebangsaan Indonesia. Organisasi Islam terbesar di Tanah Air ini resmi berdiri pada 31 Januari 1926, bertepatan dengan 16 Rajab 1344 Hijriah, di Kampung Kertopaten, Surabaya. Hingga kini, NU tetap memiliki pengaruh besar dengan jutaan pengikut yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sejarah Nahdlatul Ulama tidak lahir secara tiba-tiba. Jauh sebelum berdiri sebagai organisasi formal, NU telah hidup sebagai jamaah yang terikat oleh aktivitas sosial-keagamaan khas pesantren. Para ulama dan santri sejak awal memiliki peran aktif dalam merespons perubahan sosial, politik, dan keagamaan yang terjadi di dalam maupun luar negeri.
Nama Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan para ulama, mencerminkan semangat kaum tradisional Islam dalam menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Organisasi ini lahir di tengah perbedaan ideologi dan arah politik umat Islam Indonesia, sekaligus sebagai jawaban atas tantangan global dunia Islam.
Akar Sejarah: Kebangkitan Nasional dan Gerakan Pesantren
Sejarah Nahdlatul Ulama tidak bisa dilepaskan dari momentum kebangkitan nasional 1908. Kesadaran rakyat pribumi terhadap ketertinggalan dan penderitaan akibat kolonialisme mendorong lahirnya berbagai organisasi pergerakan.
Kalangan pesantren merespons situasi ini dengan membentuk organisasi seperti Nahdlatul Wathon (1916) yang berarti kebangkitan tanah air. Gerakan ini menjadi wadah nasionalisme santri. Kemudian pada 1918, berdiri Taswirul Afkar atau Nahdlatul Fikri, yang berfungsi sebagai wahana pendidikan sosial, politik, dan keagamaan kaum santri.
Selain itu, muncul pula Nahdlatut Tujjar, sebuah pergerakan kaum saudagar yang bertujuan memperbaiki kondisi ekonomi rakyat. Rangkaian gerakan inilah yang menjadi fondasi kuat lahirnya NU sebagai organisasi besar.
Komite Hijaz: Titik Balik Sejarah NU
Salah satu peristiwa penting dalam Sejarah Nahdlatul Ulama adalah terbentuknya Komite Hijaz. Komite ini dibentuk sebagai respons atas kebijakan Raja Arab Saudi dari Dinasti Saud yang berencana menerapkan mazhab Wahabi sebagai asas tunggal, serta membongkar makam dan situs-situs bersejarah Islam yang dianggap bid’ah.
Bagi ulama pesantren, kebijakan tersebut dipandang sebagai ancaman serius terhadap tradisi Islam dan warisan peradaban. KH Abdul Wahab Hasbullah menyampaikan keberatan ini dalam Kongres Islam dan berbagai forum, namun diplomasi tersebut tidak membuahkan hasil.
Akhirnya, dibentuklah Komite Hijaz yang bertugas mengirim delegasi ke Muktamar Dunia Islam untuk memperjuangkan kebebasan bermadzhab. Delegasi ini mendapat restu dari KH Hasyim Asy’ari, ulama besar yang kemudian menjadi tokoh sentral NU.
Berdirinya Nahdlatul Ulama
Dari kebutuhan akan institusi yang lebih permanen dan sistematis, para ulama sepakat membentuk organisasi bernama Nahdlatul Ulama. Tanggal berdirinya ditetapkan pada 16 Rajab 1344 Hijriah atau 31 Januari 1926 Masehi.
Tiga tokoh utama dalam sejarah berdirinya NU adalah KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri. KH Hasyim Asy’ari ditunjuk sebagai Rais Akbar pertama, sementara KH Abdul Wahab dan KH Bisri menjadi pemimpin penting dalam struktur organisasi awal NU.
Peran NU dalam Kehidupan Umat dan Bangsa
Sejak berdiri, NU berkomitmen menjaga tradisi Islam yang ramah terhadap budaya lokal. Praktik keagamaan seperti tahlilan, maulid nabi, dan ziarah kubur menjadi bagian dari kehidupan warga NU yang menyatu dengan masyarakat.
NU juga berperan besar dalam pendidikan, dakwah, serta penguatan nilai kebangsaan. Sikap moderat NU membuat organisasi ini diterima luas oleh masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan.
NU hingga Satu Abad Usia
Memasuki usia satu abad pada 2023, Sejarah Nahdlatul Ulama menunjukkan konsistensi NU dalam menjaga Islam moderat, toleran, dan berakar pada budaya Nusantara. Dengan jumlah pengikut terbesar di Indonesia, NU terus menjadi pilar penting dalam menjaga persatuan, keislaman, dan keindonesiaan.