JAKARTA – Sejarah berdirinya NU tidak bisa dilepaskan dari kisah spiritual para ulama besar Nusantara. Salah satu cerita yang hingga kini terus diwariskan dari generasi ke generasi adalah kisah tongkat dan tasbih Syekh Kholil Bangkalan, yang diyakini menjadi isyarat lahirnya jam’iyah besar bernama Nahdlatul Ulama (NU).
Kisah ini bermula pada tahun 1924 Masehi. Syekh Kholil Bangkalan, ulama kharismatik Madura yang menjadi guru para kiai besar Jawa, memanggil salah satu santrinya, Kiai As’ad Syamsul Arifin, yang saat itu masih tinggal di asrama pondok. Kiai As’ad mendapat perintah khusus: berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai Hasyim Asy’ari dan menyerahkan sebuah tongkat.
Perjalanan itu bukan perjalanan biasa. Dengan menumpang kereta api, Kiai As’ad yang saat itu masih berusia muda membawa tongkat kayu besar. Sepanjang perjalanan menuju Jombang, banyak mata memandang heran. Sosok santri muda dengan wajah tampan membawa tongkat besar menjadi pemandangan yang tidak lazim, seolah menandai bahwa misi yang dibawanya bukan perkara ringan.
Isyarat dari Surat Thaha
Setibanya di Tebuireng, Jombang, Kiai As’ad diterima langsung oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Namun tongkat itu tidak serta-merta diterima. Kiai Hasyim terlebih dahulu menanyakan maksud dan pesan di balik pengiriman tongkat tersebut.
Kiai As’ad lalu membacakan Surat Thaha ayat 17 hingga 21, sebagaimana pesan yang diterimanya dari Syekh Kholil Bangkalan. Ayat tersebut mengisahkan tongkat Nabi Musa yang menjadi simbol kekuasaan, amanah, dan pertolongan Allah. Isyarat ini diyakini sebagai simbol kepemimpinan dan amanah besar yang kelak akan diemban Kiai Hasyim Asy’ari.
Sejarah berdirinya NU dalam versi para kiai sepuh menyebutkan bahwa tongkat tersebut bukan sekadar benda, melainkan simbol restu dan mandat spiritual dari Syekh Kholil kepada muridnya untuk memimpin jam’iyah ulama.
Tasbih dengan Asmaul Husna
Tak lama berselang, Kiai As’ad kembali dipanggil oleh Syekh Kholil Bangkalan. Kali ini, ia diperintahkan untuk mengantarkan sebuah tasbih ke Jombang. Tasbih tersebut dipegang oleh Syekh Kholil sambil melantunkan Asmaul Husna, “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.”
Setelah itu, tasbih tersebut dikalungkan ke leher Kiai As’ad, lalu diamanahkan untuk diserahkan kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Perjalanan kedua kembali ditempuh dengan kereta api menuju Tebuireng.
Kedatangan Kiai As’ad membawa tasbih itu disambut penuh haru. Kiai Hasyim Asy’ari disebut sangat bahagia karena merasa mendapat kehormatan dan kasih sayang langsung dari gurunya, Syekh Kholil Bangkalan. Ketika ditanya bacaan yang dilantunkan, Kiai As’ad menyampaikan zikir yang sama seperti yang dibacakan gurunya.
Isyarat Berdirinya Jam’iyah NU
Dalam tradisi lisan para ulama NU, tongkat dan tasbih tersebut dimaknai sebagai simbol kekuatan spiritual dan legitimasi ulama. Bahkan terdapat pesan tegas yang diyakini menyertai isyarat itu: siapa pun yang berani merusak atau memusuhi Nahdlatul Ulama akan berhadapan dengan kehancuran.
Dari isyarat spiritual inilah kemudian berdirilah jam’iyah besar bernama Nahdlatul Ulama, organisasi Islam yang hingga kini menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Sejarah berdirinya NU bukan hanya dicatat dalam dokumen, tetapi juga hidup dalam kisah-kisah penuh makna yang diwariskan para kiai.
Kisah tongkat dan tasbih Syekh Kholil Bangkalan menjadi pengingat bahwa NU lahir bukan sekadar dari pertemuan formal, tetapi dari doa, isyarat batin, dan keikhlasan para ulama dalam menjaga agama dan bangsa.