JAKARTA - Sejarah Persib Bandung merupakan kisah panjang sebuah klub legendaris yang telah ada bahkan sebelum Indonesia merdeka. Di tengah perubahan liga dan dinamika sepak bola nasional yang kerap mengecewakan, Persib tetap bertahan sebagai kekuatan utama. Maung Bandung bukan hanya klub, melainkan simbol identitas dan kebanggaan yang tumbuh bersama para pendukungnya dari generasi ke generasi.
Julukan Pangeran Biru lahir dari warna kebesaran Persib yang identik dengan biru, warna yang juga ditegaskan dalam Mars Persib. Filosofi permainan Persib dikenal mengandalkan operan kaki ke kaki, kreativitas, serta kecepatan menyerang. Sementara julukan Maung Bandung mulai populer pada era 1990-an, terinspirasi dari lagu “Jung Maju Maung Bandung” ciptaan Kang Ibing yang mengiringi perjalanan Persib di kompetisi Perserikatan.
Dalam sejarah Persib Bandung, embrio klub ini sudah muncul sejak 1923 dengan berdirinya Bandung Inlandsche Voetbal Bond (BIVB). Organisasi sepak bola ini juga menjadi wadah perjuangan kaum muda nasionalis dan bermarkas di Lapangan Tegallega. BIVB dipimpin oleh Mr. Syamsudin, lalu diteruskan oleh R. Atot, putra pahlawan nasional Dewi Sartika.
Perintis PSSI dan Lahirnya Persib
Pada 19 April 1930 di Yogyakarta, BIVB bersama enam perserikatan sepak bola dari Pulau Jawa menjadi pencetus berdirinya PSSI, induk sepak bola Indonesia. Setahun kemudian, kompetisi antarperserikatan mulai digelar dan menjadi cikal bakal era Perserikatan.
Namun, saat liga mulai bergulir, BIVB menghilang dan digantikan oleh dua organisasi baru, yakni Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetbal Bond (NVB). Pada 14 Maret 1933, kedua organisasi ini melebur dan melahirkan Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (Persib). Klub ini diketuai Anwar Sutan Pamuncak, seorang aktivis olahraga sekaligus pejuang kemerdekaan lokal.
Persib menjalani laga-laga awal dengan hasil yang belum konsisten. Baru pada 1937, Maung Bandung mencatatkan sejarah dengan menjuarai Perserikatan setelah mengalahkan Persis Solo. Gelar ini menjadi titik awal kejayaan Persib di kancah sepak bola nasional.Bertahan di Tengah Gejolak Sejarah.
Dekade 1940-an menjadi masa sulit. Situasi politik yang kacau dan pendudukan Jepang membuat kompetisi tidak berjalan kondusif. Seluruh organisasi sepak bola, termasuk PSSI, dibubarkan dan digantikan dengan perkumpulan bentukan Jepang. Meski demikian, semangat sepak bola tidak pernah padam.
Memasuki era 1950-an, kompetisi kembali berjalan normal. Hingga berakhirnya era Perserikatan pada 1994, Persib Bandung tercatat meraih enam gelar juara, termasuk musim 1961, 1989–1990, 1993, dan 1993–1994. Persib juga mencetak sejarah sebagai juara Liga Indonesia edisi perdana 1994–1995.
Selain kompetisi domestik, Persib menorehkan prestasi internasional. Maung Bandung pernah mencapai perempat final Liga Champions Asia 1995, menjuarai Piala Sultan Hassanal Bolkiah 1986, dan Bangkok Thailand Cup 1978. Di level nasional, Persib juga meraih Piala Presiden 2015 dan kembali menjadi juara liga pada Liga Super Indonesia 2014.
Legenda dan Bobotoh
Nama-nama legenda seperti Robby Darwis, Ajat Sudrajat, dan Yusuf Bachtiar menjadi bagian penting dalam perjalanan Persib. Mereka bukan hanya pemain, tetapi simbol era keemasan yang terus dikenang Bobotoh.
Dalam sejarah Persib Bandung, Bobotoh memiliki peran sentral. Istilah Bobotoh berasal dari bahasa Sunda yang berarti orang-orang yang menyemangati pertandingan. Mereka dikenal sebagai suporter tertua di Indonesia, dengan rekor kehadiran 150 ribu penonton di Stadion Senayan saat laga Persib kontra PSMS Medan pada 1985, yang bahkan tercatat di AFC sebagai pertandingan amatir dengan penonton terbanyak di dunia.
Persib di Era Modern
Saat ini Persib bermarkas di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) yang diresmikan pada 2013 dengan kapasitas sekitar 40 ribu penonton. Klub dikelola oleh PT Persib Bandung Bermartabat dan terus membangun fondasi masa depan melalui Akademi Persib yang berdiri sejak 2018.
Sejarah Persib Bandung membuktikan satu hal: di tengah perubahan zaman, Maung Bandung tetap berdiri kokoh, membawa warisan panjang yang terus hidup di lapangan dan di hati Bobotoh.
Editor : Novica Satya Nadianti