JAKARTA – Sejarah Manchester United menyimpan kisah yang jauh lebih dramatis dibanding sekadar deretan trofi dan pemain bintang. Klub raksasa Premier League ini lahir bukan dari ambisi kejayaan, melainkan dari keresahan sosial para pekerja kereta api yang terjerat kecanduan minuman keras di akhir abad ke-19.
Semua bermula pada tahun 1878 di Newton Heath, kawasan kecil di timur laut Manchester. Saat itu, para pekerja Lancashire and Yorkshire Railway kerap melampiaskan stres kerja dengan alkohol. Untuk mengalihkan kebiasaan negatif tersebut, perusahaan mendirikan sebuah klub sepak bola bernama Newton Heath Lancashire and Yorkshire Railway Football Club. Inilah cikal bakal sejarah Manchester United.
Dari Klub Amatir ke Ambisi Profesional
Awalnya Newton Heath hanyalah klub amatir dengan warna hijau-kuning dan logo kereta api. Namun perkembangan mereka terbilang pesat. Lima tahun berdiri, klub mulai tampil di kompetisi regional seperti Manchester Senior Cup dan Lancashire Senior Cup. Bahkan pada 1886, Newton Heath mampu menjuarai Manchester Senior Cup dan mencicipi FA Cup.
Ambisi profesional mulai memicu konflik. Ketika manajemen mengajukan pembangunan tribun baru demi bergabung dengan liga nasional, perusahaan induk menolak dan melepas kepemilikan klub pada 1891. Sejak itu Newton Heath berdiri mandiri dengan menjual saham seharga satu pound per lembar.
Hampir Bangkrut dan Diselamatkan Seekor Anjing
Kehilangan investor utama membuat kondisi finansial klub memburuk. Mereka terdegradasi ke divisi dua dan terlilit utang. Pada awal abad ke-20, Presiden klub William Hilly bahkan mengajukan likuidasi.
Di titik inilah sejarah Manchester United hampir berakhir. Namun kapten tim, Harry Stafford, berjuang menyelamatkan klub dengan mendekati pengusaha bir lokal John Henry Davies. Legenda unik pun lahir: Stafford menghadiahkan anjing kesayangannya kepada putri Davies sebagai bagian dari bujukan. Davies akhirnya setuju berinvestasi, dengan satu syarat besar—nama klub harus diganti.
Lahirnya Nama Manchester United
Nama Manchester United resmi dipilih, mengalahkan opsi Manchester Celtic dan Manchester Central. Warna klub berubah menjadi merah-putih, dan logo kereta diganti simbol kapal, melambangkan kejayaan industri Manchester. Perubahan ini menandai babak baru dalam sejarah Manchester United.
Hasilnya langsung terasa. Pada 1906, United promosi ke divisi utama dan menjuarai liga setahun kemudian. Davies lalu membangun stadion megah yang selesai pada 1910 dan diberi nama Old Trafford, yang hingga kini menjadi ikon klub.
Dibom Nazi dan Tragedi Munich
Kesuksesan tersebut tak berlangsung mulus. Dua perang dunia menghantam klub. Old Trafford dijadikan gudang militer dan menjadi target serangan udara Nazi Jerman. Stadion ini dibom pada Desember 1940 dan Maret 1941, menyebabkan kerusakan parah.
Pasca perang, Matt Busby ditunjuk sebagai pelatih. Ia membangun tim muda legendaris Busby Babes, yang mendominasi liga Inggris dan menembus kompetisi Eropa. Namun tragedi Munich 1958 merenggut delapan pemain United dalam kecelakaan pesawat. Luka mendalam ini menjadi salah satu momen paling kelam dalam sejarah Manchester United.
Era Keemasan Sir Alex Ferguson
Setelah masa naik-turun, era kejayaan sejati datang bersama Sir Alex Ferguson. Meski sempat terancam dipecat, kemenangan FA Cup menjadi titik balik. Selama 27 tahun, Ferguson mempersembahkan 38 trofi, termasuk 13 gelar Premier League dan dua Liga Champions.
Ia juga melahirkan deretan legenda dunia seperti Eric Cantona, David Beckham, Ryan Giggs, hingga Cristiano Ronaldo. Dominasi Manchester United di Inggris dan Eropa pun mencapai puncaknya.
Konflik Glazer dan Masa Sulit
Pada 2005, keluarga Glazer mengambil alih klub dengan skema utang besar yang dibebankan ke Manchester United. Keputusan ini memicu protes keras suporter dan lahirnya klub tandingan FC United of Manchester.
Pasca pensiunnya Ferguson, United kembali terpuruk. Pergantian pelatih tak mampu mengembalikan kejayaan. Hingga kini, sejarah Manchester United masih menunggu bab kebangkitan baru, di tengah kritik terhadap manajemen dan arah klub.
Editor : Novica Satya Nadianti