JAKARTA - Nama Ruud van Nistelrooy selalu memicu perdebatan panjang di kalangan penggemar sepak bola. Ia adalah predator kotak penalti, mesin gol mematikan, sekaligus figur kontroversial yang kariernya di Manchester United berakhir dengan cara pahit. Kisahnya bukan sekadar soal gol, melainkan drama, ego, cedera, dan benturan generasi di Old Trafford.
Insiden yang menjadi titik balik terjadi dalam sesi latihan Manchester United pada 2006. Ruud van Nistelrooy kehilangan kesabaran terhadap seorang pemain muda yang dianggap membangkang instruksi. Emosi meledak, kontak fisik terjadi, dan situasi memanas ketika Rio Ferdinand mencoba melerai. Kalimat sinis yang terlontar kepada pemain muda itu ternyata ditujukan kepada Cristiano Ronaldo, yang baru kehilangan ayahnya beberapa bulan sebelumnya. Sir Alex Ferguson menilai batas sudah terlampaui. Meski statistik Van Nistelrooy luar biasa, keputusan diambil: ia harus pergi.
Awal Karier yang Tak Biasa
Sedikit yang tahu bahwa Ruud van Nistelrooy tidak langsung menjadi striker. Lahir di Belanda pada 1 Juli 1976, ia justru memulai karier sebagai bek tengah, lalu gelandang. Bahkan hingga usia 16 tahun, ia belum serius menekuni sepak bola. Karier profesionalnya pun berjalan lambat. Dalam satu musim, ia hanya mencetak dua gol, dan klub-klub yang tertarik pun tergolong biasa saja.
Titik balik datang saat ia bergabung dengan Heerenveen. Seorang pelatih legendaris melihat potensi yang selama ini tersembunyi. Van Nistelrooy dipaksa meninggalkan peran gelandang dan fokus sebagai penyerang. Latihan ekstra, tekanan mental, hingga filosofi “menunggu bola seperti singa menunggu mangsa” mengubah segalanya. Hasilnya instan. Ia langsung mencetak puluhan gol dan menarik perhatian PSV Eindhoven.
Ledakan Gol Bersama PSV
Di PSV, Ruud van Nistelrooy menjelma monster. Ia menutup musim dengan 42 gol di semua kompetisi dan menjadi top skor liga dengan selisih jauh. Musim berikutnya bahkan lebih gila. Dalam hitungan bulan, ia mencatat rata-rata satu kontribusi gol setiap 37 menit. Hattrick demi hattrick, termasuk ke gawang Ajax, membuat namanya diperbincangkan seluruh Eropa.
Manchester United pun bergerak. Namun transfer impian itu nyaris hancur akibat cedera lutut parah. Presentasi yang seharusnya bersejarah berubah menjadi pembatalan. Beberapa bulan kemudian, cedera makin parah dan membuatnya absen panjang. Banyak pihak menganggap kariernya sudah selesai.
Pembuktian di Manchester United
Sir Alex Ferguson tak ragu. Manchester United memecahkan rekor transfer Liga Inggris untuk memboyong Ruud van Nistelrooy. Keputusan itu langsung terbayar. Gol demi gol mengalir deras. Ia mencetak rekor gol beruntun di liga tanpa penalti, menjadi top skor Liga Champions, dan meraih penghargaan Pemain Terbaik versi PFA, mengalahkan Thierry Henry.
Musim terbaiknya datang saat ia mencetak 44 gol di semua kompetisi, sebuah angka yang belum terlampaui hingga kini. Ia juga menjadi pemain pertama Premier League yang mencetak 10 gol di Liga Champions dalam satu musim. Pada fase ini, Van Nistelrooy bukan sekadar poacher, tetapi pemimpin lini depan United.
Konflik, Ego, dan Akhir yang Pahit
Masalah muncul ketika generasi baru datang. Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney membawa gaya bermain berbeda. Van Nistelrooy yang terbiasa menjadi pusat permainan mulai terpinggirkan. Emosinya meledak di berbagai momen, dari konflik dengan staf pelatih hingga insiden panas melawan Arsenal.
Puncaknya kembali terjadi pada 2006, saat konflik internal tak lagi bisa ditoleransi. Sir Alex Ferguson memilih masa depan klub. Ruud van Nistelrooy dilepas, meski statistiknya tetap elit.
Kejayaan Terakhir di Real Madrid
Kepindahan ke Real Madrid sempat tenggelam oleh drama sebelumnya. Namun di sana, Van Nistelrooy kembali membuktikan kelasnya. Ia mencetak 33 gol dan menjadi kunci gelar La Liga, termasuk gol-gol penentu di El Clasico. Sayangnya, cedera kembali menghantui dan perlahan menutup kariernya.
Ia gantung sepatu pada 2012. Warisannya jelas: salah satu striker paling efisien dalam sejarah sepak bola Eropa. Ruud van Nistelrooy mungkin tak selalu masuk daftar legenda populer, tetapi angka-angkanya sulit dibantah.