Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sir Alex Ferguson: Dari Gelar Kebangsawanan hingga Menciptakan Era Ronaldo–Rooney yang Mengantar Manchester United ke Puncak Eropa

Novica Satya Nadianti • Selasa, 3 Februari 2026 | 18:10 WIB
Kisah Sir Alex Ferguson membangun era emas Manchester United hingga melahirkan Ronaldo dan Rooney serta menjuarai Eropa.
Kisah Sir Alex Ferguson membangun era emas Manchester United hingga melahirkan Ronaldo dan Rooney serta menjuarai Eropa.

JAKARTA - Nama Sir Alex Ferguson tidak bisa dilepaskan dari era keemasan Manchester United. Setelah mengantarkan Setan Merah meraih treble winner bersejarah pada 1999, Ferguson bukan hanya dipuja sebagai manajer terbaik Inggris, tetapi juga menerima kehormatan tertinggi dari Kerajaan Inggris berupa gelar kebangsawanan pada 12 Juni 1999.

Penghargaan tersebut diumumkan dalam perayaan ulang tahun Ratu Elizabeth II, diberikan kepada individu yang dianggap berjasa luar biasa di bidangnya. Pencapaian Manchester United yang menyapu bersih Liga Inggris, Piala FA, dan Liga Champions menjadi alasan utama. Sejak saat itu, dunia mengenalnya sebagai Sir Alex Ferguson.

Namun, kejayaan itu bukan akhir perjalanan. Sejak tiba di Old Trafford pada 1986, Ferguson telah melakukan revolusi besar-besaran. Akademi dibenahi, pemain muda dipromosikan, dan filosofi menyerang dikembangkan kembali setelah era Sir Matt Busby. Dominasi domestik pun berlanjut pasca-treble, dengan Manchester United mempertahankan gelar Liga Inggris pada musim 1999–2000 dan 2000–2001.

Hampir Mundur, Lalu Bangkit Kembali

Pada musim 2001–2002, Sir Alex Ferguson sempat mengejutkan publik dengan mengumumkan rencana mundur dari kursi manajer. Hubungannya dengan petinggi klub dikabarkan memburuk. Dampaknya langsung terasa. Performa Manchester United anjlok dan mental pemain terganggu.

Namun pada Februari 2002, Ferguson menarik keputusannya. Ia memilih bertahan. Keputusan itu perlahan mengembalikan stabilitas tim, meski musim tersebut tetap berakhir tanpa gelar. Situasi ini mendorong Ferguson melakukan perombakan besar pada musim panas berikutnya.

Era Baru Dimulai: Rio Ferdinand dan Disiplin Tanpa Kompromi

Langkah besar diambil dengan mendatangkan Rio Ferdinand dari Leeds United dengan nilai transfer fantastis untuk ukuran bek saat itu. Banyak pihak meragukan keputusan tersebut, namun Sir Alex Ferguson yakin. Baginya, struktur pertahanan adalah fondasi utama tim juara.

Hasilnya terbukti. Pada musim 2002–2003, jumlah kebobolan Manchester United menurun drastis dan gelar Liga Inggris kembali ke Old Trafford. Namun, keputusan paling kontroversial datang setahun kemudian.

Ferguson terlibat konflik besar dengan David Beckham. Meski Beckham adalah ikon klub, Ferguson tak ragu melepasnya ke Real Madrid. Prinsipnya tegas: tidak ada pemain yang lebih besar dari manajer.

Gagal Dapat Ronaldinho, Lahirnya Cristiano Ronaldo

Setelah kepergian Beckham, Sir Alex Ferguson membidik Ronaldinho dari PSG. Kesepakatan hampir tercapai, tetapi sang pemain memilih Barcelona di detik-detik terakhir. Kegagalan itu justru membuka jalan bagi keputusan yang mengubah sejarah klub.

Ferguson kemudian merekrut talenta Portugal berusia 18 tahun dari Sporting Lisbon: Cristiano Ronaldo. Transfer ini sempat dipertanyakan karena nilainya sangat besar untuk pemain muda. Namun Ferguson sudah memantau Ronaldo sejak lama dan yakin dengan potensinya.

Debut Ronaldo langsung memikat publik Old Trafford. Kecepatannya, dribel, dan keberaniannya memberi harapan baru di tengah masa transisi generasi.

Rooney Datang, Dinasti Baru Terbentuk

Musim berikutnya, Sir Alex Ferguson kembali membuat gebrakan dengan mendatangkan Wayne Rooney dari Everton. Rooney mencetak hattrick pada debutnya di Liga Champions, menegaskan bahwa Manchester United sedang membangun generasi emas baru.

Meski sempat melalui musim tanpa trofi, fondasi sudah terbentuk. Ferguson melengkapi tim dengan perekrutan krusial seperti Nemanja Vidic, Patrice Evra, Edwin van der Sar, Michael Carrick, dan Park Ji-sung. Kombinasi pemain muda dan berpengalaman mulai menyatu.

Puncak Kejayaan: 2007–2008

Musim 2007–2008 menjadi mahakarya Sir Alex Ferguson. Trio Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, dan Carlos Tevez tampil eksplosif. Pertahanan solid dengan duet Ferdinand–Vidic membuat Manchester United menjadi tim paling seimbang di Eropa.

United menjuarai Liga Inggris dan mencapai puncaknya dengan menaklukkan Chelsea di final Liga Champions lewat adu penalti di Moskow. Cristiano Ronaldo menjadi top skor liga dengan 31 gol dan meraih Ballon d’Or 2008, sebuah bukti tangan dingin Ferguson dalam membentuk pemain terbaik dunia.

Era ini menegaskan satu hal: Sir Alex Ferguson bukan sekadar manajer sukses, melainkan arsitek dinasti sepak bola modern yang pengaruhnya masih terasa hingga hari ini.

Editor : Novica Satya Nadianti
#sir alex ferguson #cristiano ronaldo #manchester united #liga champions #wayne rooney