JAKARTA – Nama Sir Alex Ferguson Manchester United tak bisa dipisahkan dari era keemasan klub raksasa Inggris tersebut. Selama 26 tahun kepemimpinannya, Ferguson bukan hanya membangun tim juara, tetapi menciptakan sebuah dinasti yang mendominasi sepak bola Inggris dan Eropa. Namun, kisah itu nyaris berakhir sebelum benar-benar dimulai.
Ketika Sir Alex Ferguson resmi ditunjuk sebagai manajer Manchester United pada 6 November 1986, kondisi klub berada di titik nadir. Setan Merah terpuruk di papan bawah klasemen, hampir 20 tahun tanpa gelar liga, dan dibayangi kejayaan Liverpool yang merajalela di Inggris maupun Eropa. Tekanan besar langsung mengiringi langkah awal Ferguson di Old Trafford.
Tiga musim pertamanya bahkan berjalan tanpa satu pun trofi. Disiplin pemain menjadi masalah utama. Budaya minum dan pesta sudah mengakar kuat. Ferguson pun mengambil langkah tegas, menghentikan kebiasaan tersebut tanpa kompromi. Keputusan keras ini sempat membuatnya tidak populer, tetapi menjadi fondasi penting perubahan Manchester United.
Nyaris Dipecat, Diselamatkan Satu Gol Bersejarah
Tekanan mencapai puncaknya pada musim 1989–1990. Manchester United tampil buruk, bahkan dipermalukan Manchester City 1-5. Spanduk “Three years of excuses and it’s still rubbish” terbentang di tribun. Laga Piala FA melawan Nottingham Forest disebut sebagai pertandingan hidup-mati Ferguson.
Gol tunggal Mark Robins di laga itu bukan sekadar kemenangan. Gol tersebut menyelamatkan karier Sir Alex Ferguson di Manchester United. Dari momen inilah segalanya berubah. United melaju hingga menjuarai Piala FA, trofi besar pertama Ferguson, sekaligus titik balik paling krusial dalam sejarah klub.
Membangun Generasi dan Lahirnya Premier League
Keberhasilan itu memberi Ferguson ruang untuk membangun tim sesuai visinya. Ia memadukan pemain berpengalaman dengan talenta muda. Ryan Giggs, Paul Scholes, hingga David Beckham muncul dari akademi, membentuk generasi emas yang kelak dikenal sebagai “Class of ’92”.
Ketika Premier League resmi dimulai pada 1992–1993, Sir Alex Ferguson Manchester United akhirnya memutus penantian panjang dengan menjuarai liga setelah 26 tahun. Kedatangan Eric Cantona menjadi katalis penting. Bukan hanya soal gol, Cantona membawa mental juara dan kepercayaan diri ke dalam tim.
Dominasi, Drama, dan Mental Juara
Era 1990-an menjadi masa dominasi Manchester United. Gelar liga, Piala FA, hingga prestasi Eropa diraih silih berganti. Ferguson dikenal piawai mengelola pemain bintang dengan karakter kuat. Ia berdiri di samping Cantona saat sang striker terlibat insiden kungfu kick, keputusan yang memperlihatkan kepemimpinan sejatinya.
Puncak kejayaan datang pada musim 1998–1999. Manchester United menorehkan sejarah dengan meraih treble: Premier League, Piala FA, dan Liga Champions. Final Liga Champions di Barcelona melawan Bayern Munchen menjadi salah satu laga paling ikonik sepanjang masa, dirangkum Ferguson dengan kalimat legendaris, “Football, bloody hell.”
Rebuild, Ronaldo, dan Warisan Abadi
Kesuksesan tidak membuat Ferguson berhenti beradaptasi. Setelah kepergian Cantona dan Beckham, ia kembali membangun tim baru. Cristiano Ronaldo direkrut dari Sporting Lisbon dan berkembang menjadi pemain terbaik dunia di bawah asuhannya.
Manchester United kembali mendominasi Inggris dan Eropa pada era 2007–2009, termasuk gelar Liga Champions kedua Ferguson. Hingga akhirnya, pada musim terakhirnya, Ferguson menutup karier dengan mempersembahkan gelar liga ke-20 bagi klub, sekaligus memastikan Manchester United melampaui Liverpool dalam jumlah gelar liga.
Sir Alex Ferguson meninggalkan Manchester United bukan hanya dengan trofi, tetapi dengan warisan filosofi, mental juara, dan standar profesionalisme yang nyaris mustahil ditandingi. Sebuah dinasti yang dibangun dari krisis, ketegasan, dan visi jangka panjang.
Editor : Novica Satya Nadianti