Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sir Alex Ferguson Manchester United: Konflik Besar, Penyesalan Transfer, dan Empat Pemain Paling Istimewa di Old Trafford

Novica Satya Nadianti • Selasa, 3 Februari 2026 | 18:20 WIB

 

Kisah Sir Alex Ferguson Manchester United: konflik besar, transfer yang disesali, dan empat pemain paling istimewa di Old Trafford.
Kisah Sir Alex Ferguson Manchester United: konflik besar, transfer yang disesali, dan empat pemain paling istimewa di Old Trafford.

JAKARTA – Selama 26 tahun melatih Setan Merah, Sir Alex Ferguson Manchester United bekerja sama dengan ratusan pemain bintang. Banyak di antaranya tetap menjalin hubungan hangat hingga kini. Namun di balik kesuksesan dan harmoni tersebut, Ferguson juga dikenal sebagai manajer keras yang tak ragu berkonflik dengan pemainnya sendiri demi menjaga disiplin dan standar klub.

Beberapa konflik bahkan berujung pada keputusan besar: menjual pemain bintang yang seharusnya masih bisa memberi kontribusi besar. Dari Jaap Stam hingga David Beckham, dari Roy Keane sampai Ruud van Nistelrooy, konflik-konflik ini menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang Sir Alex Ferguson Manchester United.

Jaap Stam hingga Beckham, Konflik yang Mengguncang Old Trafford

Perselisihan besar pertama terjadi dengan Jaap Stam. Bek tengah asal Belanda itu dijual ke Lazio pada 2001 secara mengejutkan. Konflik bermula setelah terbitnya autobiografi Stam Head to Head yang memuat klaim pendekatan ilegal Ferguson saat Stam masih membela PSV Eindhoven. Meski Ferguson mengaku hanya membaca cuplikannya di media, ia merasa kepercayaan telah dilanggar. Stam pun dijual tanpa sepengetahuan sang pemain, keputusan yang belakangan diakui sebagai penyesalan besar.

Roy Keane juga tak luput dari konflik. Gelandang Irlandia itu berselisih dengan Ferguson setelah mengkritik fasilitas tur pramusim dan performa rekan setim di MUTV. Ferguson menilai sikap Keane berpotensi merusak mental pemain muda. Kontrak Keane akhirnya diakhiri pada November 2005, menandai berakhirnya era kapten legendaris MU.

Ruud van Nistelrooy, striker tajam dengan 150 gol dari 219 laga, juga terlibat konflik panas. Insiden ucapannya kepada Cristiano Ronaldo muda dianggap Ferguson tidak dewasa. Van Nistelrooy dicadangkan di final Piala Liga dan dijual ke Real Madrid pada akhir musim 2005–2006.

Sementara itu, konflik dengan David Beckham menjadi salah satu yang paling ikonik. Ferguson tidak menyukai gaya hidup selebritas Beckham setelah menikahi Victoria Adams. Puncaknya terjadi usai kekalahan MU dari Arsenal di Piala FA 2003, ketika sepatu yang ditendang Ferguson melukai pelipis Beckham. Tak lama berselang, Beckham dijual ke Real Madrid.

Transfer yang Disesali Sir Alex Ferguson

Selain konflik, Ferguson juga mengakui beberapa keputusan transfer yang keliru. Diego Forlán dijual setelah hanya mencetak 10 gol dari 63 laga, sebelum bersinar bersama Villarreal dan Atletico Madrid. Carlos Tevez dilepas karena dianggap tak memiliki nilai jual jangka panjang, keputusan yang disesali setelah sang striker justru menjadi bintang di Manchester City.

Penjualan Jaap Stam kembali disebut sebagai kesalahan besar, begitu pula Gerard Piqué yang gagal berkembang di MU namun menjelma menjadi bek elite dunia bersama Barcelona dan membawa Spanyol juara Piala Dunia 2010.

Kepergian Cristiano Ronaldo ke Real Madrid pada 2009 memang menguntungkan secara finansial, tetapi Ferguson mengakui nilainya terasa murah jika dibandingkan prestasi luar biasa Ronaldo setelahnya.

Empat Pemain Paling Istimewa di Mata Ferguson

Dari sekian banyak bintang, Ferguson menyebut empat pemain sebagai yang terbaik. Eric Cantona menjadi simbol kebangkitan MU pada awal era Premier League dengan karakter unik dan mental juara. Ryan Giggs dipuji karena loyalitas dan konsistensi selama 24 tahun membela satu klub.

Paul Scholes disebut sebagai pemimpin sejati di lini tengah, bahkan mendapat pujian dari Zinedine Zidane dan Pep Guardiola. Sementara Cristiano Ronaldo memiliki tempat paling spesial. Ferguson menyebutnya “hiasan di pohon Natal,” simbol kejeniusan, kerja keras, dan ambisi tanpa batas.

Hubungan Ferguson dan Ronaldo bahkan lebih dari sekadar pelatih dan pemain. Ronaldo menganggap Ferguson sebagai figur ayah, ikatan yang tetap terjaga hingga kini.

Dengan 49 trofi sepanjang karier kepelatihannya, 38 di antaranya bersama Manchester United, Sir Alex Ferguson Manchester United tetap dikenang sebagai salah satu manajer terbesar sepanjang sejarah sepak bola dunia. Warisannya bukan hanya gelar, tetapi standar, mentalitas, dan karakter yang sulit ditandingi siapa pun.

 

Editor : Novica Satya Nadianti
#legenda sepak bola #sir alex ferguson #manchester united #sejarah MU