JAKARTA - Sosok Megawati Hangestri Pertiwi kembali mencuri perhatian publik, bukan lewat smash gledeknya di lapangan, melainkan melalui pernyataan menyentuh tentang nasionalisme dan kecintaannya pada Indonesia. Atlet voli putri kebanggaan Tanah Air itu tampil sebagai narasumber dalam program spesial Hari Kebangkitan Nasional, memperlihatkan sisi lain Megatron yang inspiratif.
Acara yang mengangkat tema Saatnya Bangkit, Tak Hanya Mengungkit ini mengulas semangat perjuangan bangsa, merujuk pada berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 oleh dr. Wahidin Sudiro Husodo dan dr. Sutomo. Di tengah semangat kebangkitan tersebut, kehadiran Megawati Hangestri Pertiwi menjadi simbol generasi muda berprestasi yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Megawati diperkenalkan sebagai pemain voli putri Indonesia yang berkiprah di Liga Voli Korea Selatan bersama Red Sparks. Ia bahkan disebut sebagai salah satu pemain voli putri terbaik dunia tahun 2025 versi Volleyball Box. Tayangan cuplikan smash keras Megawati pun langsung disambut decak kagum penonton di studio.
Alasan Pulang ke Indonesia Meski Bersinar di Korea
Dalam sesi wawancara, Megawati menjawab pertanyaan yang selama ini menjadi tanda tanya publik. Mengapa ia memilih kembali ke Indonesia setelah sukses dan populer di Korea Selatan?
“Karena rumah saya di Indonesia. Saya ingin balik ke Indonesia dan main di sini lagi,” ujar Megawati. Ia menegaskan, keputusan tersebut bukan berarti menutup peluang berkarier di luar negeri. “Mungkin ke depan saya akan main di luar negeri lagi,” tambahnya.
Pernyataan sederhana itu langsung disambut tepuk tangan. Bagi banyak pihak, keputusan Megawati mencerminkan nasionalisme yang kuat di tengah gemerlap karier internasional.
Dukungan Orang Tua Jadi Fondasi Karier
Megawati juga mengungkap peran besar kedua orang tuanya dalam perjalanan kariernya. Ia mengaku awalnya tidak bercita-cita menjadi atlet voli. Bahkan, olahraga favoritnya saat kecil justru sepak bola.
“Awalnya ikut voli karena disuruh orang tua. Karena saya tinggi, orang tua menyarankan masuk voli,” ungkapnya. Seiring waktu, ia mulai menemukan kenyamanan dan kecintaannya pada olahraga tersebut.
Menurut Megawati, dukungan orang tua menjadi kekuatan utama saat ia berada di titik terendah. “Kalau saya terpuruk, saya selalu ingat orang tua. Mereka selalu bilang jangan pernah menyerah,” katanya.
Perjalanan ke Liga Korea Selatan
Megawati juga menceritakan proses awal dirinya bisa bermain di Liga Voli Korea Selatan. Ia mengaku hanya mencoba peruntungan lewat Asia Draft, bersaing dengan pemain dari Thailand, Jepang, dan Filipina.
“Sempat pesimis, karena saingannya berat. Tapi namanya rezeki, nama saya kepanggil,” ujarnya. Proses seleksi pun terbilang singkat. Pihak Red Sparks hanya menilai lewat video pertandingan tanpa ia harus datang langsung.
Menariknya, Megawati menegaskan bahwa ia tidak memilih klub tersebut. “Bukan saya yang pilih Red Sparks, tapi mereka yang pilih saya,” ucapnya, menegaskan levelnya sebagai pemain yang diburu klub.
Voli Berhijab dan Tanggapan Dunia
Soal penampilannya yang berhijab, Megawati menepis anggapan bahwa hal itu menjadi penghalang. Justru sebaliknya, ia mendapat banyak dukungan dan rasa kagum.
“Mereka malah heran dan kagum, kok bisa main voli berhijab. Tapi Alhamdulillah enggak ada masalah,” tuturnya.
Kini Fokus di Indonesia
Saat ini, Megawati Hangestri Pertiwi memperkuat Gresik Petrokimia dan berhasil membawa timnya finis di peringkat ketiga Proliga. Ia menyadari popularitas membawa konsekuensi, termasuk komentar positif dan negatif dari publik.
“Pasti ada risiko. Tapi saya harus siap menghadapinya,” kata Megawati dengan tenang.
Di akhir wawancara, Megawati menegaskan komitmennya untuk terus berprestasi dan membanggakan Indonesia. Di momen Hari Kebangkitan Nasional, kisah Megatron menjadi bukti bahwa semangat juang tak hanya hidup di buku sejarah, tetapi juga nyata di lapangan olahraga.
Editor : Dyah Wulandari