JAKARTA - Perjalanan seorang mantan atlet nasional voli era 90-an kembali mengemuka lewat sebuah perbincangan santai namun sarat makna. Sosok yang kini beralih peran sebagai pelatih itu membagikan kisah panjangnya sejak masa pembinaan awal, menembus tim nasional junior, hingga menyaksikan langsung perubahan wajah kompetisi voli Indonesia dari masa ke masa.
Ia mengawali ceritanya dari akhir 1980-an hingga awal 1990-an, saat pembinaan atlet masih dilakukan secara sederhana namun terstruktur. Kala itu, ia tergabung dalam sebuah program pembibitan atlet unggulan lintas cabang olahraga yang digagas pemerintah. Program tersebut menjadi pintu masuk bagi banyak atlet muda, termasuk dirinya, untuk mengenal latihan serius sejak usia belia.
Sebagai mantan atlet nasional voli era 90-an, ia mengingat betul bagaimana proses seleksi berlangsung ketat. Saat masih duduk di bangku SMP, ia sudah rutin mengikuti kejuaraan antarklub junior di Yogyakarta. Kompetisi lokal itulah yang kemudian menjadi etalase bakat sebelum melangkah ke level nasional.
Baca Juga: Dinilai Tak Profesional, Manisa BBSK Putus Kontrak Megawati Hangestri Pertiwi, Ini Fakta di Baliknya
Awal Karier dari Yogyakarta
Yogyakarta menjadi saksi awal kariernya. Kompetisi antarklub junior kala itu disebut sangat hidup. Hampir setiap pekan ada pertandingan, menjadi ajang adu mental sekaligus teknik bagi pemain muda. Dari sinilah namanya mulai terpantau pelatih nasional.
Pada 1994, ia mendapat panggilan seleksi tim nasional junior di Surabaya. Dari Daerah Istimewa Yogyakarta, hanya dua pemain yang terpilih. Momen itu menjadi titik balik penting dalam hidupnya sebagai atlet. Ia pun merasakan atmosfer pemusatan latihan nasional yang jauh lebih disiplin dibanding latihan klub.
Baca Juga: Kabar Buruk dari Turki: Manisa BBSK Resmi Putus Kontrak Megawati Hangestri, Ini Kronologi Lengkapnya
Sebagai mantan atlet nasional voli era 90-an, ia menilai masa itu sebagai fondasi kuat pembentukan karakter. Latihan keras, jadwal ketat, serta tuntutan mental menjadi menu harian. “Kalau tidak kuat, ya tersingkir,” ujarnya mengenang masa seleksi.
Masa Keemasan dan Dinamika Regenerasi
Ia juga menyinggung masa keemasan voli nasional menjelang akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Saat itu, kompetisi domestik mulai menggeliat dan melahirkan banyak pemain berkualitas. Namun, memasuki periode 2005–2010, ia mulai melihat tanda-tanda stagnasi regenerasi.
Menurutnya, persoalan bukan semata bakat, melainkan sistem pembinaan yang mulai berubah. Spesialisasi posisi dilakukan terlalu dini. Pemain muda diarahkan langsung ke satu peran tanpa diberi ruang mengasah kemampuan lain. Padahal, pada era sebelumnya, pemain dituntut serbabisa sebelum akhirnya mengunci posisi.
Sebagai mantan atlet nasional voli era 90-an, ia menyayangkan pola instan tersebut. “Bukan berarti tidak boleh spesialis, tapi fondasinya harus kuat dulu,” tegasnya.
Perubahan Proliga: Dari Semi Profesional ke Profesional
Pengalaman panjangnya juga membawanya menjadi saksi lahirnya Proliga. Pada awal kemunculannya sekitar 2011, Proliga masih bersifat semi profesional. Jumlah tim
terbatas, biaya operasional tinggi, dan banyak pemain masih mengandalkan pekerjaan lain di luar voli.
Namun seiring waktu, Proliga berkembang pesat. Kini, kompetisi tersebut dinilainya sudah profesional. Pemain dengan kualitas tinggi bisa hidup layak dari voli. Fasilitas latihan, penginapan, hingga intensitas pertandingan mengalami peningkatan signifikan.
Meski demikian, ia menyoroti ketimpangan di level bawah. Banyak kompetisi amatir berjalan sendiri tanpa koneksi jelas ke sistem nasional. Akibatnya, jalur pembinaan menjadi terputus.
Baca Juga: Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar Menjadi Magnet Wisata Edukasi Anak-anak
Disiplin sebagai Kunci Utama
Kini sebagai pelatih, prinsip yang ia pegang sederhana: disiplin. Bukan hanya soal latihan, tetapi juga menjaga kondisi fisik, mental, dan gaya hidup. Ia menekankan bahwa bakat tanpa disiplin akan cepat habis.
Ia juga berpesan kepada pemain muda agar tidak mudah pindah klub dan tergoda jalur instan. “Proses itu penting. Nikmati latihan, pahami kekurangan diri, dan jangan cepat menyerah,” ujarnya.
Pengalaman panjang seorang mantan atlet nasional voli era 90-an ini menjadi pengingat bahwa prestasi tidak lahir secara tiba-tiba. Dibutuhkan sistem yang konsisten, pembinaan berjenjang, serta kesabaran panjang untuk melahirkan atlet kelas nasional
Baca Juga: Variasi Serangan Megawati Hangestri Pertiwi Bikin Korea Tercengang, Red Sparks Sulit Dihentikan
Editor : Dyah Wulandari