JAKARTA - Nama Hendra Kurniawan kini identik dengan posisi middle blocker terbaik di Indonesia. Prestasinya berlapis, dari Best Middle Blocker Proliga 2023, Livoli Divisi Utama 2024, hingga tampil gemilang bersama Bhayangkara Presisi di Asian Club Championship. Namun, siapa sangka perjalanan kariernya justru berawal dari lapangan kampung dan permainan santai bersama ibu-ibu.
Dalam sebuah podcast olahraga, Hendra mengungkap kisah masa kecilnya yang jauh dari kesan glamor atlet profesional. Ia pertama kali mengenal voli bukan lewat sekolah elite atau akademi modern, melainkan dari lingkungan kampungnya di Rokan Hulu, Riau. “Awal-awal saya belajar voli itu mainnya sama emak-emak,” kata Hendra sambil tertawa.
Voli kala itu hanya hiburan. Satu kampung bermain, satu RT hidup dengan olahraga ini. Dari situlah kecintaan Hendra tumbuh, perlahan tapi konsisten. Sebagai anak kampung dari keluarga sederhana, Hendra tak langsung fokus latihan. Sepulang sekolah, ia harus mencari rumput untuk kambing sebelum akhirnya berlatih voli sore hari.
Menanjak Sejak SMP hingga PPLP Riau
Bakat Hendra Kurniawan mulai terlihat sejak SMP. Saat kelas 2 SMP, ia sudah mewakili Kabupaten Rokan Hulu ke tingkat Provinsi Riau. Posturnya yang menjulang—sudah menyentuh 180 cm—menjadi keunggulan besar. Tak lama berselang, ia direkrut masuk PPLP Riau, jalur pembinaan atlet pelajar yang menjadi fondasi penting kariernya.
Awalnya, Hendra bukan middle blocker. Ia bermain sebagai open spiker. Namun karena kebutuhan tim dan tinggi badannya, pelatih PPLP mengarahkannya ke posisi quick atau middle blocker. Keputusan itu menjadi titik balik. Dari sinilah spesialisasinya terbentuk.
Meski sempat mendapat banyak tawaran dari klub-klub besar di Jawa saat SMA, statusnya sebagai atlet binaan daerah membuat kepindahannya tak mudah. Riau masih mengikatnya dengan perjanjian bahwa ia wajib kembali jika daerah membutuhkan.
Drama Awal Gabung LavAni
Tahun 2020 menjadi momen paling dramatis. Hendra diajak berangkat ke Jakarta untuk “sekadar dilihat” oleh LavAni. Ia berangkat polos, hanya membawa dua stel baju dan sepasang sepatu. Tak ada kontrak, tak ada kepastian.
Baca Juga: Kabar Buruk dari Turki: Manisa BBSK Resmi Putus Kontrak Megawati Hangestri, Ini Kronologi Lengkapnya
“Pas mau pulang, tiba-tiba covid. Saya nggak bisa balik. Baju cuma dua,” kenangnya. Hendra sempat merasa “ditipu”, bukan karena niat buruk, tetapi karena realitas yang jauh dari bayangan awal. Ia pun harus bertahan, meminjam baju, dan menjalani masa trial panjang.
Baru pada 2022, saat LavAni resmi masuk kompetisi profesional, Hendra Kurniawan menandatangani kontrak profesional pertamanya berdurasi tiga tahun. Dari situlah kariernya benar-benar dimulai.
Meledak di 2023 dan Masuk Timnas
Musim Proliga 2022 masih menjadi masa belajar. Hendra belum menjadi pilihan utama, kalah bersaing dengan senior-seniornya. Namun titik balik terjadi usai kompetisi. Ia mengaku termotivasi setelah berbicara dengan orang tuanya.
Hasilnya terlihat jelas pada 2023. Hendra tampil konsisten, agresif di net, dan solid dalam blok. Ia meraih gelar Best Middle Blocker Proliga 2023 dan mulai menjadi langganan Timnas Indonesia sejak tahun yang sama.
Puncaknya, ia dipinjam Bhayangkara Presisi untuk Asian Club Championship 2023 dan kembali menyabet penghargaan individu. Namanya pun semakin diperhitungkan, bukan hanya di level nasional.
Filosofi Bermain dan Mimpi ke Jepang
Hendra mengaku banyak belajar dari idolanya, Robertlandy Simon, middle blocker legendaris asal Kuba. Bukan soal smash keras, tetapi timing blok dan kecepatan membaca permainan.
Baca Juga: Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar Menjadi Magnet Wisata Edukasi Anak-anak
Kini, Hendra Kurniawan bermimpi melangkah lebih jauh. Jepang menjadi tujuan impiannya. Ia tak gentar dengan persaingan tinggi badan dan teknik. “Yakin saja,” ujarnya singkat.
Di luar lapangan, Hendra tetap membumi. Ia gemar bermain gim untuk melepas stres dan diam-diam berinvestasi tanah di kampung halamannya. “Selagi muda, uang disisihkan,” katanya.
Dari lapangan kampung, kambing, hingga barak mes pemain, perjalanan Hendra menjadi bukti bahwa proses panjang, disiplin, dan mental kuat bisa membawa seorang anak kampung ke panggung tertinggi voli Indonesia.
Editor : Dyah Wulandari