Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Perjalanan Fahri Septian: Dari Tarkam Bantul hingga Liga Bulgaria, Air Mata Timnas dan Mimpi Besar Atlet Voli Indonesia

Dyah Wulandari • Jumat, 6 Februari 2026 | 20:05 WIB

Kisah Fahri Septian, atlet voli Indonesia yang bangkit dari tarkam Bantul hingga Liga Bulgaria, penuh air mata, tekad, dan mimpi Eropa
Kisah Fahri Septian, atlet voli Indonesia yang bangkit dari tarkam Bantul hingga Liga Bulgaria, penuh air mata, tekad, dan mimpi Eropa

JAKARTA – Nama Fahri Septian kini menjadi salah satu figur yang tak bisa dilepaskan dari pembicaraan soal perkembangan bola voli Indonesia. Atlet asal Bantul ini bukan hanya dikenal sebagai andalan klub, tetapi juga simbol perjuangan panjang yang ditempa dari lapangan tarkam hingga merasakan atmosfer kompetisi Eropa.

Dalam podcast Si Jago Voli, Fahri Septian membuka kisah awal kariernya yang ternyata tidak langsung bersentuhan dengan voli. Seperti kebanyakan anak kampung, Fahri kecil justru mengawali langkahnya di sepak bola. Ia sempat menimba pengalaman di SSB Garuda dan bahkan mengikuti seleksi PSM Junior U-13. Namun, kendala jarak latihan dan minimnya dukungan membuat langkahnya di sepak bola terhenti.

Terlambat Kenal Voli, Tapi Punya Tekad Keras

Fahri Septian baru mengenal voli secara serius saat duduk di bangku SMP kelas 3. Keputusan itu muncul setelah ia sering menonton pertandingan tarkam di daerah Bantul. Momen krusial terjadi ketika Fahri menyaksikan langsung laga final Proliga di GOR Amongrogo, Yogyakarta. Saat itu, Jakarta Elektrik PLN bertemu dengan Sampoerna.

Baca Juga: Kisah Mantan Atlet Nasional Voli Era 90-an: Dari Program Bibit Unggul, Timnas Junior, hingga Bongkar Masalah Regenerasi Proliga

“Dari situ saya berandai-andai, suatu hari pengin main di lapangan ini,” kenang Fahri. Sejak saat itu, ia mulai berlatih secara mandiri tanpa pelatih. Ia memikirkan sendiri teknik passing, spike, hingga pola latihan, bahkan sebelum tidur.

Karier Melejit Bersama Baja 78

Langkah serius Fahri Septian dimulai ketika bergabung dengan klub legendaris Baja 78 pada 2015. Berkat dasar teknik yang sudah terbentuk, Fahri langsung mencuri perhatian pelatih. Ia naik level dengan cepat dari tim pemula hingga masuk skuad remaja.

Baca Juga: Aksi Legenda Voli Indonesia di Proliga: Duel Keras Andri Widiatmoko yang Bikin Pertahanan Bandung Kocar-Kacir

Di sinilah grafik karier Fahri terus menanjak. Ia memperkuat Baja 78 hingga 2023, sembari menjalani kontrak atlet bersama PDAM dan tampil di berbagai kejuaraan regional. Pintu menuju level nasional terbuka saat Fahri tampil impresif di Livoli 2018 bersama Berlian Bank Jateng, yang membawanya ke Jakarta Garuda pada 2019 melalui proses talent scouting.

Air Mata Timnas dan Pembuktian Diri

Perjalanan Fahri Septian tak selalu mulus. Ia sempat merasakan pahitnya dicoret dari Timnas Indonesia meski sudah masuk pemusatan latihan di Sentul. Keputusan itu datang mendadak tanpa alasan yang jelas.

Baca Juga: Dinilai Tak Profesional, Manisa BBSK Putus Kontrak Megawati Hangestri Pertiwi, Ini Fakta di Baliknya

“Waktu itu benar-benar terpukul. Sampai beberapa bulan enggak mau main voli,” ujarnya. Namun justru dari titik terendah itulah Fahri memilih bangkit. Ia menjalani silent training selama dua bulan menjelang Proliga 2023.

Kerja keras itu terbayar lunas. Bersama LavAni, Fahri Septian akhirnya merasakan gelar juara Proliga. Tangis haru pecah, bukan semata soal trofi, melainkan pembuktian atas keraguan banyak orang terhadap atlet asal Bantul.

Merantau ke Eropa, Belajar Sistem Profesional

Puncak pengalaman Fahri Septian terjadi saat ia bermain di Liga Bulgaria. Di sana, ia merasakan perbedaan signifikan dibanding kompetisi di Indonesia. Sistem permainan berbasis statistik, pengukuran fisik dengan teknologi canggih, hingga pengaturan nutrisi yang ketat menjadi hal baru baginya.

Baca Juga: Variasi Serangan Megawati Hangestri Pertiwi Bikin Korea Tercengang, Red Sparks Sulit Dihentikan

“Semua serangan, servis, sampai kecenderungan pemain itu sudah terbaca datanya,” kata Fahri. Ia menyebut kolaborasi blok dan defense di Eropa jauh lebih sistematis, ditopang sport science yang matang.

Tawaran Datang, Impian Masih Menyala

Sepulang dari Bulgaria, Fahri Septian mengaku mendapat tawaran dari beberapa liga Eropa seperti Turki, Prancis, dan Jerman. Namun ia memilih menunda demi fokus pada keluarga, terutama karena anaknya baru lahir.

Baca Juga: Megawati Hangestri Pertiwi Ungkap Alasan Pulang ke Indonesia, Nasionalisme Megatron Bikin Merinding

Ke depan, Fahri menyimpan dua mimpi besar: bermain di Liga Italia sebagai tujuan karier tertinggi, serta Swiss sebagai destinasi impian untuk menikmati kehidupan dan budaya. “Kalau Italia buat prestasi, Swiss buat pengalaman hidup,” ujarnya.

Kisah Fahri Septian menjadi potret nyata bahwa keterbatasan awal bukan penghalang. Dari lapangan kampung di Bantul hingga kompetisi Eropa, perjalanan ini menjadi inspirasi bagi generasi muda voli Indonesia untuk terus bermimpi dan berani membuktikan diri

Editor : Dyah Wulandari
#Proliga #fahri septian #timnas voli Indonesia #Atlet Voli Indonesia