JAKARTA - BMKG mengeluarkan peringatan curah hujan tinggi 8-13 Februari 2026 yang berpotensi memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia, terutama kawasan selatan seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). BMKG menyebut curah hujan tinggi tersebut berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Dalam laporan BMKG, curah hujan tinggi 8-13 Februari 2026 diperkirakan terjadi dengan intensitas ringan hingga lebat. Beberapa wilayah bahkan diprediksi mengalami peningkatan hujan signifikan, terutama pada pertengahan periode tersebut.
BMKG menegaskan curah hujan tinggi 8-13 Februari 2026 masih dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer global dan regional yang membuat pembentukan awan hujan meningkat di sejumlah wilayah Indonesia.
Jawa hingga NTT Berpotensi Hujan Lebat
Forecaster BMKG, Jatmiko, menjelaskan potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat diperkirakan terjadi di wilayah Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, NTB, hingga NTT. Selain itu, hujan juga diprediksi mengguyur sebagian wilayah Sulawesi bagian selatan, Maluku, dan Papua.
Menurut BMKG, wilayah Jawa menjadi salah satu daerah dengan potensi curah hujan cukup tinggi. Provinsi seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
“Untuk wilayah Jawa sendiri, terutama Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta hingga Jawa Timur, diperkirakan mengalami curah hujan cukup tinggi. Kemudian Bali, NTB, dan NTT juga memiliki potensi peningkatan hujan, terutama sekitar 11 hingga 13 Februari 2026,” ujar Jatmiko.
BMKG menilai kondisi tersebut masih tergolong normal karena Februari merupakan puncak musim hujan di Indonesia. Namun, beberapa wilayah dilaporkan mengalami curah hujan di atas normal.
Faktor Penyebab Curah Hujan Tinggi
BMKG menyebut terdapat sejumlah faktor meteorologi yang memicu curah hujan tinggi. Salah satunya adalah menguatnya monsun Asia yang membawa massa udara basah dari Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia bagian selatan.
Selain itu, terbentuknya pola angin konfluen dan konvergensi turut memperkuat pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Fenomena tekanan rendah di sekitar Samudra Hindia bagian selatan juga menyebabkan awan konvektif berkembang lebih intens.
BMKG juga mencatat adanya aliran udara dingin dari wilayah utara yang melintasi garis ekuator dan masuk ke wilayah Jawa. Kondisi ini meningkatkan kandungan uap air di atmosfer yang memicu hujan lebih intens.
Di wilayah Indonesia timur, aktivitas gelombang atmosfer Rossby turut mempengaruhi peningkatan curah hujan, khususnya di Sulawesi bagian selatan, Maluku, dan Papua bagian selatan.
Potensi Banjir dan Tanah Longsor
BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi akibat curah hujan tinggi. Wilayah perbukitan dan pegunungan dinilai memiliki risiko longsor yang cukup tinggi.
Selain itu, kawasan dengan sistem drainase kurang baik juga berpotensi mengalami banjir dan genangan air saat hujan berlangsung dengan intensitas tinggi dalam waktu lama.
Beberapa wilayah di Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT disebut menjadi daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana tersebut.
Imbauan BMKG kepada Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada karena kondisi cuaca dapat berubah secara tiba-tiba. Warga juga diminta secara rutin memantau perkembangan prakiraan cuaca melalui kanal resmi BMKG.
Informasi cuaca dapat diakses melalui situs resmi BMKG, media sosial, maupun layanan call center. Langkah antisipasi dinilai penting untuk mengurangi risiko dampak bencana akibat cuaca ekstrem.
BMKG menegaskan bahwa kesadaran masyarakat dalam memantau perkembangan cuaca menjadi kunci penting dalam upaya mitigasi bencana. Dengan mengetahui potensi hujan lebat lebih dini, masyarakat dapat menyiapkan langkah pencegahan yang lebih optimal.
Selain itu, warga yang tinggal di daerah rawan bencana diimbau mempersiapkan rencana evakuasi dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah serta instansi terkait.
Editor : Novica Satya Nadianti