Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Stadion Gajayana, Stadion Tertua di Indonesia yang Jadi Saksi Kejayaan Arema Era Galatama

Dyah Wulandari • Rabu, 11 Februari 2026 | 18:00 WIB

Stadion Gajayana, stadion tertua di Indonesia, jadi saksi kejayaan Arema era Galatama dan sejarah sepak bola Malang.
Stadion Gajayana, stadion tertua di Indonesia, jadi saksi kejayaan Arema era Galatama dan sejarah sepak bola Malang.

MALANG - Stadion Gajayana, stadion tertua di Indonesia, menyimpan jejak panjang sejarah sepak bola nasional sekaligus menjadi saksi kejayaan Arema era Galatama. Letaknya yang berada di jantung Kota Malang membuat stadion ini tak hanya strategis, tetapi juga sarat nilai historis.

Bagi warga Malang dan Aremania, Stadion Gajayana bukan sekadar arena pertandingan. Stadion tertua di Indonesia ini pernah menjadi rumah bagi Arema Malang, Persema Malang, hingga sejumlah klub lain sejak era kolonial.

Stadion Gajayana juga menjadi saksi ketika Arema menggenggam gelar juara Galatama musim 1992/1993, sebuah momen yang mengukuhkan nama Singo Edan di kancah sepak bola nasional.

Baca Juga: Prediksi Line Up Persib Terbaru Lawan Ratchaburi FC: Debut Layvin Kurzawa dan Sergio Castel di 16 Besar ACL 2!

Dibangun Sejak 1924, Warisan Kolonial Belanda

Pegiat sejarah Malang, Eko Irawan, menjelaskan Stadion Gajayana dibangun pada 1 April 1924 oleh pemerintah kolonial Belanda di bawah kepemimpinan Wali Kota Malang saat itu. Pembangunannya memakan waktu dua tahun dan diresmikan pada 1926.

Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Kala itu, dana sebesar 100 ribu gulden digelontorkan—angka yang setara ratusan juta rupiah pada masa tersebut. Stadion ini pun disebut sebagai stadion olahraga pertama di Indonesia.

Baca Juga: Line Up Persib Terbaru di 16 Besar ACL 2: Skuad Mewah Rp85 Miliar Siap Guncang Markas Ratchaburi FC!

Tak hanya lapangan sepak bola, kompleks Stadion Gajayana sejak awal memang dirancang terpadu. Di dalamnya terdapat dua lapangan tambahan di sisi luar serta kolam renang. Kapasitas awalnya mencapai 5.000 hingga 10.000 penonton, menjadikannya stadion termegah di Indonesia pada zamannya.

Berganti Nama di Era 1980-an

Seiring waktu, Stadion Gajayana mengalami sejumlah pemugaran. Renovasi besar dilakukan pada era Wali Kota Malang Sugiono (1973–1983). Dari sinilah nama “Gajayana” mulai digunakan.

Baca Juga: Pergantian 'Sakti' Bojan Hodak Jadi Kunci Taktik Persib Kalahkan Bali United, Peran Frans Putros dan Beckham Putra Vital!

Nama tersebut diambil dari Raja Gajayana, penguasa Kerajaan Kanjuruhan—kerajaan tertua di Jawa Timur yang sudah ada sejak abad ke-7 atau sekitar tahun 760 Masehi. Penggunaan nama itu menjadi simbol kebanggaan sejarah peradaban Malang yang telah maju sejak ratusan tahun lalu.

Meski begitu, nama asli stadion pada masa kolonial hingga kini belum ditemukan secara pasti dalam catatan sejarah.

Renovasi terakhir pada 2008 membuat kapasitas stadion meningkat hingga sekitar 25.000 penonton.

Baca Juga: Tayang Live di RCTI! Cek Jadwal Siaran Langsung Persib vs Ratchaburi FC dan Prediksi Skor 16 Besar ACL 2

Markas Banyak Klub, Termasuk Arema

Sejak diresmikan, setidaknya sembilan tim pernah bermarkas di Stadion Gajayana. Mulai dari klub era kolonial seperti Voetbalbond Malang en Omstreken (1924–1928), Malangsche Football Bond, hingga PSIM Malang dan Persema Malang.

Arema Indonesia mulai menggunakan stadion ini sejak 1987. Setelah itu, Arema FC, Sumbersari FC, hingga klub-klub Liga 3 Kota Malang juga pernah menjadikan Gajayana sebagai kandang.

Baca Juga: BPNT Tahap 1 2026 Cair Serentak di Bank Mandiri dan BSI! Cek Fakta Saldo Rp600 Ribu Masuk KKS BRI dan BNI

Stadion ini pula yang menjadi saksi sejarah kejayaan Arema di era Galatama, tepatnya pada musim kompetisi ke-12 tahun 1992/1993. Gelar tersebut menjadi salah satu tonggak penting perjalanan klub berjuluk Singo Edan.

Dari Kandang Utama ke Stadion Latihan

Kini, Stadion Gajayana tak lagi menjadi home base utama Arema FC setelah kepindahan ke Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang. Meski demikian, stadion tertua di Indonesia ini tetap difungsikan sebagai tempat latihan dan venue pertandingan Liga 3 maupun kompetisi internal.

Baca Juga: Banjir Bansos Jelang Lebaran 2026: PKH BPNT dan Bonus Beras Cair Rp17,5 Triliun, TASPEN Kediri Buka Suara Soal Gaji Pensiun

Dalam beberapa kesempatan, saat Stadion Kanjuruhan tak bisa digunakan, Arema FC kembali memakai Gajayana. Di antaranya saat menghadapi PS Tira Persikabo dan Persipura Jayapura pada Liga 1 musim 2019.

Selain sebagai arena olahraga, kompleks Stadion Gajayana juga menjadi kantor Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar), kantor KONI Malang, serta sekretariat sejumlah cabang olahraga.

Simbol Sejarah dan Kebanggaan Malang

Di masa pandemi Covid-19, aktivitas di kompleks stadion sempat terhenti akibat pembatasan kegiatan masyarakat. Area yang biasanya ramai, termasuk lahan parkir yang terhubung dengan pusat perbelanjaan di sekitarnya, mendadak sepi.

Baca Juga: Viral Kabar PKH BPNT Tahap 1 Cair Hari Ini di Sejumlah Daerah, Ini Daftar Wilayah dan Penjelasan Lengkapnya

Namun nilai sejarah Stadion Gajayana tetap tak tergantikan. Ia bukan hanya stadion tertua di Indonesia, tetapi juga simbol perjalanan panjang sepak bola Malang.

Dari era kolonial, kejayaan Galatama, hingga dinamika Liga 1 modern, Stadion Gajayana tetap berdiri sebagai saksi bisu. Bagi Aremania, tempat ini adalah bagian dari identitas—ruang di mana sejarah, kebanggaan, dan semangat Salam Satu Jiwa tumbuh dan diwariskan lintas generasi.

Editor : Dyah Wulandari
#stadion gajayana #Stadion tertua indonesia #arema malang #Sejarah Sepak Bola