JAKARTA - Kebangkitan Victor Bogats menjadi salah satu kisah paling menarik dalam dunia sepak bola virtual yang ramai diperbincangkan di media sosial. Striker yang sempat dicap gagal total ini perlahan bangkit dari keterpurukan, hingga akhirnya bersinar bersama Coventry City dan mencicipi atmosfer Premier League.
Dalam video yang viral di YouTube, perjalanan Kebangkitan Victor Bogats digambarkan secara detail. Ia dibandingkan dengan striker top dunia seperti Erling Haaland, Kylian Mbappe, dan Harry Kane yang memiliki rata-rata gol luar biasa. Namun, di sisi lain, Bogats justru tampil sebagai antitesis: mandul, tak produktif, dan nyaris kehilangan masa depan.
Kebangkitan Victor Bogats bermula dari fase terkelam dalam kariernya bersama Red Bull New York. Selama tiga musim, ia hanya mencetak tiga gol dari 112 penampilan. Statistik tersebut membuat reputasinya anjlok dan kontraknya tidak diperpanjang.
Masa Sulit Bersama Red Bull New York
Pada usia 23 tahun, Victor Bogats memiliki rating sekitar 60 dan kontrak tersisa delapan bulan. Namun, manajemen klub justru mendatangkan striker baru dengan rating lebih tinggi. Posisi Bogats pun terpinggirkan.
Kesempatan datang saat striker utama cedera. Ia dipercaya tampil melawan Inter Miami, tetapi gagal memanfaatkan peluang. Pertandingan berakhir dengan kekalahan telak 5-0. Musim itu ditutup dengan catatan buruk: satu gol dari 22 laga, atau rata-rata 0,04 gol per pertandingan.
Status free agent pun melekat pada dirinya. Masa depan Bogats nyaris tamat.
Pindah ke Coventry City, Awal Titik Balik
Satu-satunya tawaran datang dari Coventry City, klub Divisi Championship Inggris. Dengan gaji minim dan status pemain rotasi, Bogats menerima tantangan tersebut.
Debutnya tidak langsung mengesankan. Ia masuk dari bangku cadangan saat tim kalah dari Luton Town. Peluang demi peluang terbuang. Namun, kepercayaan pelatih perlahan tumbuh.
Baca Juga: Stadion Gajayana, Stadion Tertua di Indonesia yang Jadi Saksi Kejayaan Arema Era Galatama
Momentum datang saat menghadapi Sheffield Wednesday. Masuk sebagai starter, Bogats mencetak dua gol dan membawa Coventry menang 4-0. Itu menjadi dua gol pertamanya dalam satu laga setelah empat musim tampil buruk.
Penampilan tersebut mengantarkannya masuk Team of The Week Championship dan membuka jalan menuju peran utama.
Konsistensi Gol dan Kepercayaan Pelatih
Setelah laga gemilang itu, Bogats kembali mencetak brace saat melawan Oxford United. Ia tampil lebih percaya diri, agresif, dan tajam di depan gawang.
Dalam setengah musim, Bogats mengoleksi delapan gol dari 16 pertandingan. Rating-nya meningkat, begitu pula kepercayaan tim. Coventry City finis di peringkat empat dan hampir promosi ke Premier League, meski gagal di semifinal playoff.
Musim berikutnya, pelatih mengubah formasi menjadi 3-5-2 dan menduetkan Bogats dengan Sims. Keputusan itu terbukti tepat.
Duet Mematikan dan Promosi ke Premier League
Bersama Sims, Bogats semakin produktif. Ia mencetak 17 gol dari 33 laga dengan rata-rata 0,52 gol per pertandingan. Angka ini melonjak drastis dibanding masa-masa kelamnya di MLS.
Kontribusinya membantu Coventry City finis di posisi dua klasemen Championship dan memastikan promosi otomatis ke Premier League. Sebuah pencapaian luar biasa bagi pemain yang sempat dianggap gagal.
Nilai pasarnya pun melonjak hingga hampir tiga kali lipat. Atribut finishing, shot power, dan penalti meningkat signifikan. Pada usia 25 tahun, Bogats memasuki masa emas kariernya.
Tantangan Baru di Premier League
Musim 2030–2031 menjadi ujian sesungguhnya. Coventry City promosi dan langsung menghadapi tim-tim elite. Pada laga pembuka melawan Crystal Palace, Bogats kembali dipercaya sebagai starter.
Meski timnya kalah, Bogats menunjukkan potensi lewat beberapa peluang berbahaya, termasuk tembakan yang membentur tiang. Performanya memberi sinyal bahwa ia siap bersaing di level tertinggi.
Kisah Kebangkitan Victor Bogats menjadi bukti bahwa kegagalan bukan akhir segalanya. Dengan kerja keras, kepercayaan, dan momentum yang tepat, seorang striker yang nyaris terlupakan mampu bangkit dan menulis ulang takdirnya.
Editor : Dyah Wulandari