Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Denda AFC Persib Bandung Dinilai Janggal: Sanksi Ratusan Juta, Standar Ganda, hingga Dugaan Ganggu Investor Global

Dyah Wulandari • Rabu, 11 Februari 2026 | 18:45 WIB

Denda AFC Persib Bandung dinilai janggal dan penuh standar ganda, berdampak pada citra klub di mata investor global
Denda AFC Persib Bandung dinilai janggal dan penuh standar ganda, berdampak pada citra klub di mata investor global

JAKARTA - Denda AFC Persib Bandung kembali memicu polemik di kalangan pecinta sepak bola nasional. Di tengah performa yang sedang menanjak di level Asia dan sorotan investor global, Maung Bandung justru menerima sanksi berat dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dengan nilai yang dinilai tidak wajar.

Keputusan soal Denda AFC Persib Bandung ini muncul ketika klub asal Kota Kembang sedang berada dalam momentum positif. Persib tampil kompetitif di kompetisi Asia, jumlah penonton meningkat drastis, dan rumor ketertarikan City Football Group (CFG) mulai menguat. Namun, alih-alih mendapat apresiasi, Persib justru menerima surat sanksi bernilai ratusan juta rupiah.

Tak heran, Denda AFC Persib Bandung tersebut langsung menuai kritik. Publik menilai hukuman ini sarat kejanggalan, terutama jika dibandingkan dengan perlakuan AFC terhadap klub lain yang terlibat dalam kasus serupa.

Baca Juga: Kebangkitan Victor Bogats: Dari Striker Mandul di MLS hingga Jadi Mesin Gol Coventry City dan Tembus Premier League

Putusan AFC dan Rincian Sanksi

Berdasarkan hasil sidang Komite Disiplin AFC pada 26 November, Persib dijatuhi denda total sebesar 26.250 dolar AS atau sekitar Rp436 juta. Selain itu, klub juga diwajibkan menutup 25 persen kapasitas stadion pada satu laga kandang berikutnya.

Sanksi ini merujuk pada pertandingan melawan Selangor FC pada 23 Oktober 2025. AFC menilai Persib gagal menjaga ketertiban suporter karena adanya penyalaan flare, lemparan kursi dan sepatu, suporter memanjat pagar, serta pemasangan spanduk bermuatan politik.

Baca Juga: Terungkap! Daftar 9 Rekrutan Termahal Arema FC Sepanjang Masa, Nomor Satu Bikin Aremania Tercengang

Tak hanya klub, asisten pelatih Persib, Miro Petric, juga mendapat hukuman. Ia didenda sekitar Rp16 juta dan diskors empat pertandingan karena dianggap terlalu keras memprotes keputusan wasit.

Jika diakumulasi, manajemen Persib harus mengeluarkan dana lebih dari setengah miliar rupiah akibat satu kasus ini.

Perbandingan dengan Selangor FC

Yang membuat publik semakin heran, Selangor FC—lawan Persib dalam laga tersebut—sudah lebih dulu dijatuhi sanksi. Namun, hukumannya jauh lebih ringan.

Baca Juga: Claudio De Jesus Kembali ke Arema di Liga 1 2024/2025, Legenda Juara Siap Bawa Singo Edan Bangkit Lagi

Selangor didenda hanya 250 dolar AS atau sekitar Rp20 juta karena terlambat memulai babak kedua selama 1 menit 20 detik. Angka ini bahkan lebih kecil dibanding denda yang diterima Miro Petric.

Perbedaan ini dinilai sangat jomplang. Banyak pihak mempertanyakan mengapa dua klub dalam satu pertandingan mendapat perlakuan yang begitu berbeda.

Isu Standar Ganda dan Kasus Negara Tetangga

Sorotan terhadap AFC tidak berhenti di situ. Publik juga membandingkan sikap federasi Asia tersebut dengan kasus dugaan pemalsuan dokumen pemain keturunan yang menyeret Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM).

Kasus tersebut sudah diselidiki FIFA dan ramai di media. Namun hingga kini, AFC dinilai belum mengambil langkah tegas. Tidak ada denda besar, tidak ada keputusan cepat, dan tidak ada sanksi yang jelas.

Baca Juga: Walison Maya Resmi Gabung Arema FC, Siap Debut Lawan Persija, Jawab Krisis Lini Belakang di BRI Super League 2025/2026

Kondisi ini memunculkan dugaan adanya standar ganda. Pelanggaran klub Indonesia dinilai langsung disikat dengan pasal berlapis, sementara kasus besar di negara lain justru terkesan dibiarkan.

Dampak terhadap Citra dan Investor

Timing keluarnya sanksi juga menjadi sorotan. Surat denda baru diumumkan saat Persib tengah disorot media internasional dan dikabarkan diminati investor besar.

Baca Juga: Arema FC Rekrut Walison Maya dan Percaya Hansamu, Strategi Besar Singo Edan Hadapi Super League 2025/2026

City Football Group disebut-sebut telah mengirim perwakilan untuk memantau Persib. Basis suporter yang masif dan potensi pasar besar membuat klub ini sangat menarik bagi investor global.

Namun, dengan munculnya kabar sanksi berat, citra Persib berpotensi terdampak. Klub bisa dinilai tidak aman, tidak tertib, dan berisiko tinggi. Kondisi ini dinilai dapat menghambat proses investasi.

Minimnya Fasilitas dan Kritik Pelatih

Kritik terhadap AFC juga datang dari pelatih Persib, Bojan Hodak. Ia menyoroti absennya VAR dalam beberapa pertandingan kompetisi Asia.

Baca Juga: Rio Fahmi Debut Gemilang di Kanjuruhan, Player of the Match Lawan Persijap dan Sinyal Kebangkitan Arema FC di Super League 2025/2026

Dalam laga melawan Lion City Sailors, keputusan wasit dinilai merugikan Persib. Tanpa VAR, semua keputusan bersifat final dan tidak bisa ditinjau ulang.

Padahal, kompetisi dengan investasi besar seharusnya memiliki fasilitas standar internasional. Hal ini semakin memperkuat anggapan bahwa Persib sering berada di posisi dirugikan.

Evaluasi dan Tantangan ke Depan

Denda ratusan juta rupiah ini tetap menjadi tamparan keras bagi manajemen dan suporter. Persib diharapkan memperbaiki sistem keamanan dan edukasi Bobotoh agar kejadian serupa tidak terulang.

Baca Juga: Claudio De Jesus Kembali ke Arema di Liga 1 2024/2025, Legenda Juara Siap Bawa Singo Edan Bangkit Lagi

Namun, di sisi lain, publik juga menuntut AFC menerapkan standar yang sama untuk semua klub. Penegakan aturan yang adil menjadi kunci menjaga integritas sepak bola Asia.

Di tengah tekanan, Persib justru ditantang untuk semakin solid. Klub ini dituntut membuktikan bahwa sanksi bukan penghalang untuk terus bersaing di level tertinggi.

Seperti yang diyakini para pendukungnya, semakin ditekan, Persib justru semakin kuat

Baca Juga: Sejarah The Jakmania: Terbentuk dari 40 Orang, Kini Jadi Suporter Paling Ikonik Persija Jakarta.

Editor : Dyah Wulandari
#afc #bobotoh #sanksi afc #persib bandung