JAKARTA - Denda AFC Persib Bandung kembali memicu polemik di kalangan pecinta sepak bola nasional. Di tengah performa yang sedang menanjak di level Asia dan sorotan investor global, Maung Bandung justru menerima sanksi berat dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dengan nilai yang dinilai tidak wajar.
Keputusan soal Denda AFC Persib Bandung ini muncul ketika klub asal Kota Kembang sedang berada dalam momentum positif. Persib tampil kompetitif di kompetisi Asia, jumlah penonton meningkat drastis, dan rumor ketertarikan City Football Group (CFG) mulai menguat. Namun, alih-alih mendapat apresiasi, Persib justru menerima surat sanksi bernilai ratusan juta rupiah.
Tak heran, Denda AFC Persib Bandung tersebut langsung menuai kritik. Publik menilai hukuman ini sarat kejanggalan, terutama jika dibandingkan dengan perlakuan AFC terhadap klub lain yang terlibat dalam kasus serupa.
Putusan AFC dan Rincian Sanksi
Berdasarkan hasil sidang Komite Disiplin AFC pada 26 November, Persib dijatuhi denda total sebesar 26.250 dolar AS atau sekitar Rp436 juta. Selain itu, klub juga diwajibkan menutup 25 persen kapasitas stadion pada satu laga kandang berikutnya.
Sanksi ini merujuk pada pertandingan melawan Selangor FC pada 23 Oktober 2025. AFC menilai Persib gagal menjaga ketertiban suporter karena adanya penyalaan flare, lemparan kursi dan sepatu, suporter memanjat pagar, serta pemasangan spanduk bermuatan politik.
Baca Juga: Terungkap! Daftar 9 Rekrutan Termahal Arema FC Sepanjang Masa, Nomor Satu Bikin Aremania Tercengang
Tak hanya klub, asisten pelatih Persib, Miro Petric, juga mendapat hukuman. Ia didenda sekitar Rp16 juta dan diskors empat pertandingan karena dianggap terlalu keras memprotes keputusan wasit.
Jika diakumulasi, manajemen Persib harus mengeluarkan dana lebih dari setengah miliar rupiah akibat satu kasus ini.
Perbandingan dengan Selangor FC
Yang membuat publik semakin heran, Selangor FC—lawan Persib dalam laga tersebut—sudah lebih dulu dijatuhi sanksi. Namun, hukumannya jauh lebih ringan.
Selangor didenda hanya 250 dolar AS atau sekitar Rp20 juta karena terlambat memulai babak kedua selama 1 menit 20 detik. Angka ini bahkan lebih kecil dibanding denda yang diterima Miro Petric.
Perbedaan ini dinilai sangat jomplang. Banyak pihak mempertanyakan mengapa dua klub dalam satu pertandingan mendapat perlakuan yang begitu berbeda.
Isu Standar Ganda dan Kasus Negara Tetangga
Sorotan terhadap AFC tidak berhenti di situ. Publik juga membandingkan sikap federasi Asia tersebut dengan kasus dugaan pemalsuan dokumen pemain keturunan yang menyeret Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM).
Kasus tersebut sudah diselidiki FIFA dan ramai di media. Namun hingga kini, AFC dinilai belum mengambil langkah tegas. Tidak ada denda besar, tidak ada keputusan cepat, dan tidak ada sanksi yang jelas.
Kondisi ini memunculkan dugaan adanya standar ganda. Pelanggaran klub Indonesia dinilai langsung disikat dengan pasal berlapis, sementara kasus besar di negara lain justru terkesan dibiarkan.
Dampak terhadap Citra dan Investor
Timing keluarnya sanksi juga menjadi sorotan. Surat denda baru diumumkan saat Persib tengah disorot media internasional dan dikabarkan diminati investor besar.
City Football Group disebut-sebut telah mengirim perwakilan untuk memantau Persib. Basis suporter yang masif dan potensi pasar besar membuat klub ini sangat menarik bagi investor global.
Namun, dengan munculnya kabar sanksi berat, citra Persib berpotensi terdampak. Klub bisa dinilai tidak aman, tidak tertib, dan berisiko tinggi. Kondisi ini dinilai dapat menghambat proses investasi.
Minimnya Fasilitas dan Kritik Pelatih
Kritik terhadap AFC juga datang dari pelatih Persib, Bojan Hodak. Ia menyoroti absennya VAR dalam beberapa pertandingan kompetisi Asia.
Dalam laga melawan Lion City Sailors, keputusan wasit dinilai merugikan Persib. Tanpa VAR, semua keputusan bersifat final dan tidak bisa ditinjau ulang.
Padahal, kompetisi dengan investasi besar seharusnya memiliki fasilitas standar internasional. Hal ini semakin memperkuat anggapan bahwa Persib sering berada di posisi dirugikan.
Evaluasi dan Tantangan ke Depan
Denda ratusan juta rupiah ini tetap menjadi tamparan keras bagi manajemen dan suporter. Persib diharapkan memperbaiki sistem keamanan dan edukasi Bobotoh agar kejadian serupa tidak terulang.
Namun, di sisi lain, publik juga menuntut AFC menerapkan standar yang sama untuk semua klub. Penegakan aturan yang adil menjadi kunci menjaga integritas sepak bola Asia.
Di tengah tekanan, Persib justru ditantang untuk semakin solid. Klub ini dituntut membuktikan bahwa sanksi bukan penghalang untuk terus bersaing di level tertinggi.
Seperti yang diyakini para pendukungnya, semakin ditekan, Persib justru semakin kuat
Baca Juga: Sejarah The Jakmania: Terbentuk dari 40 Orang, Kini Jadi Suporter Paling Ikonik Persija Jakarta.
Editor : Dyah Wulandari